Laporkan Masalah

ANALISIS FINANSIAL TEGAKAN JATI SEBAGAI PENGHASIL KAYU DAN PENYIMPAN KARBON DI HUTAN KEMASYARAKATAN (Studi Kasus di HKm Sedyo Makmur, Dusun Jragum, Desa Ngeposari, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta)

ALIFKHA SHELY SEPTIKASARI, Agus Affianto, S. Hut., M. Si.;Dr. Ir. Ris Hadi Purwanto, M. Agr. Sc.

2015 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

Adanya skema perdagangan karbon internasional dalam mekanisme Reducing Emission from Deforestation and Forest Degredation (REDD+) dengan memberikan kompensasi kepada negara-negara berkembang yang mengurangi tingkat emisi karbonnya, pengelolaan hutan tidak lagi hanya fokus pada ekonomi kayu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan nilai karbon pada tegakan jati terhadap keuntungan finansial yang didapat pihak pengelola dan menentukan komposisi kayu dan karbon yang paling menguntungkan. Penelitian ini dilaksanakan di HKm Sedyo Makmur, Kecamatan Semanu, Gunung Kidul. Metode yang digunakan adalah analisis biaya dan manfaat dari pengusahaan tegakan jati HKm sebagai penghasil kayu dan penyimpan karbon dengan melakukan beberapa skenario komposisi kayu dan karbon. Harga pasar karbon global yang digunakan adalah U$ 19,14/tC (1 U$ = Rp 12.408) dan suku bunga riil 5,80%. Hasil perhitungan menunjukkan pengusahaan tegakan jati HKm sebagai penghasil kayu memiliki IRR sebesar 17,7%; NPV sebesar Rp 65.136.631; dan BCR sebesar 6,8. Sedangkan, pengusahaan tegakan jati HKm sebagai penghasil kayu dan karbon dengan skenario komposisi yang paling menguntungkan adalah 90% sebagai penghasil kayu dan 10% sebagai penyimpan karbon memiliki IRR sebesar 24,7%; NPV sebesar Rp 86.558.419; BCR sebesar 3,8. Dapat disimpulkan penambahan nilai karbon yang dikombinasikan dengan komposisi kayu dapat meningkatkan keuntungan dari pelaksanaan proyek tegakan jati HKm.

With the international carbon trading scheme that can be found in the Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) mechanism, which gives a compensation for growing nations that reduce their carbon emission, the forest management is now not only focusing in wood trading. The objective of this research is to find out the outcome of the addition of carbon value at each teak stand on the financial profit earned by the manager and to define which wood and carbon composition that brings more profit. This research conducted at Sedyo Makmur community forest, Semanu sub-district, Gunung Kidul district. Method of the research used in this research is cost and benefit analysis of making community forest teak stands as a wood producer and carbon storage by doing several wood and carbon composition scenario. Global carbon market price that is used is U$ 19.14/tC (1 U$ = Rp 12,408) and the real interest rate is 5.80%. The result of the research shows that making community forest teak stands as wood producer has 17.7% IRR; Rp 65,136,631 of NPV; and 6.8 BCR. Whereas, the most profitable scenario of making community forest teak stands as wood producer and carbon storage, 90% wood producer and 10% carbon keeper, has 24.7% IRR; Rp 86,558,419 of NPV; and 3.8 BCR. So, it can be concluded that carbon value addition that combined with wood composition can increase the profit by implementing the community forest teak stands project.

Kata Kunci : REDD+, analisis biaya dan manfaat, karbon, jati hutan kemasyarakatan