Laporkan Masalah

ANALISIS KONTRASTIF STRATEGI TINDAK TUTUR MENGAJAK DALAM BAHASA JEPANG DAN BAHASA INDONESIA

RAHMANA NUR ARINI, Yayan Suyana, S.S., M.A.

2015 | Skripsi | S1 SASTRA JEPANG

ABSTRAKSI Rahmana Nur Arini Penelitian ini merupakan studi kontastif tindak tutur mengajak dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif dengan pendekatan pragmatik yaitu analisis yang dilakukan dengan melihat sudut pandang penggunaan bahasa dalam konteks tertentu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi ajakan yang digunakan dalam menyatakan ajakan dalam bahasa Jepang dan bahasa Indonesia, serta menjabarkan persamaan dan perbedaan strategi dalam kedua bahasa tersebut. Data penelitian diperoleh dari Teks Melengkapi Wacana (TMW) yang dibuat berdasarkan teori skala kesantunan Brown dan Levinson yang dibatasi dalam lingkup akademik. Angket dibagikan kepada 21 mahasiswa Jepang dan Indonesia. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan teori strategi mengajak yang merupakan turunan dari teori strategi permohonan oleh Anna Trosborg. Dari hasil analisis diperoleh bahwa dalam merealisasikan ajakan, penutur bahasa Jepang menggunakan 20 jenis strategi ajakan, sedangkan penutur bahasa Indonesia menggunakan 17 jenis strategi ajakan. Bahasa Jepang dan bahasa Indonesia sama-sama menggunakan strategi frase elipsis, imperatif, performatif tidak berpagar, performatif berpagar, keinginan dan harapan, kesediaan, kemampuan, isyarat kuat, isyarat halus, menawarkan, permohonan, imbalan, menyatakan dengan menggunakan perasaan, menggunakan rumusan informasi dan memuji. Perbedaan strategi bahasa Jepang dan bahasa Indonesia adalah, bahasa Jepang menggunakan strategi izin, pengutaraan pikiran, mengarah pada tuturan penolakan ajakan dan pengandaian. Strategi ini tidak ditemukan dalam strategi oleh penutur bahasa Indonesia. Sebaliknya, pada strategi oleh penutur bahasa Indonesia, ditemukan strategi memberi izin yang tidak ditemukan pada strategi bahasa Jepang. Dari penelitian ini dapat diketahui pula bahwa tindak tutur ajakan dalam bahasa Jepang kebanyakan dibentuk dengan menggunakan perubahan kata kerja, dan bentuknya dapat berubah mengikuti tingkat sosial serta kedekatan antara peserta tutur. Sedangkan dalam bahasa Indonesia kebanyakan menggunakan penanda kata ajakan, misalnya mari dan ayo. Namun dalam bahasa Indonesia penanda ajakan ini kebanyakan dapat digunakan kepada lawan tutur yang memiliki status sosial yang lebih tinggi, setara maupun lebih rendah.

ABSTRACT Rahmana Nur Arini The research is a contrastive study of invitation speech act between Japanese and Bahasa Indonesia. This research is worked descriptively by using a pragmatic approach that is an analysis which applied by considering the language using point of view in a particular context. The aim of this research is to describe the strategies used in both Japanese and Indonesian speech act of invitation along with seeking their similarities and differences in strategies. Research data were collected using a Discourse Completion Test (DCT) that based on Brown and Levinsons scale of politeness theory which be limited in academic scope. The questionnaires were giving to the 21 students both Japanese and Indonesian. These data were later analyzed by using the invitation strategy theory which derived from Anna Trosborgs categorization of request. From the result of the data analysis, it was found that in term of expression of invitation used, Japanese speakers used 20 strategies while Indonesian speakers used 17 strategies. The two speakers realized the invitation used elliptical phrase, imperatives, unhedges performatives, hedged performatives, desire/whishes, obligation, willingness, ability, storng hints, mild hints, offers, request, repayment, feeling, information and praise. Permission, expression of thought, expression of aiming to refusal the invitation and assumption only realized by Japanese speakers. While the expression of giving permission only realized by Indonesian speakers. Subsequently, from the result it also found that Japanese speakers realized the act of invitation by change the verb and it can be changed according the hearers power and distance. While in Bahasa Indonesia, almost the utterance of invitation realized using word maker such as mari and ayo. However, in the Indonesian the word maker could be used for hearers that having higher social status, equal or lower than speaker.

Kata Kunci : analisis kontrastif, sasoi, ajakan, kesantunan

  1. S1-2015-282046-abstract.pdf  
  2. S1-2015-282046-bibliography.pdf  
  3. S1-2015-282046-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2015-282046-title.pdf