PELAKSANAAN MTBS PADA RUMAH TANGGA YANG MEMILIKI BALITA DENGAN DEMAM DI WILAYAH PUSKESMAS BANGUNTAPAN 1 BANTUL YOGYAKARTA
ABDILAH HANIF AMINI, Dr. Fitri Haryanti, S.Kp., M.Kes.,;Purwanta, S.Kp., M.Kes.,
2015 | Skripsi | S1 ILMU KEPERAWATANLatar Belakang: Demam berkonstribusi tinggi terhadap angka kesakitan dan kematian anak dari 16.380 anak sakit, 31% mengalami demam (SDKI, 2012). Salah satu strategi MTBS adalah meningkatkan praktik kesehatan di rumah tangga dan masyarakat. Di mana massa balita sangat penting di perhatikan untuk meningkatkan kesejahteraan anak. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran pelaksanaan MTBS pada rumah tangga yang memiliki balita dengan demam di wilayah Puskesmas Kecamatan Banguntapan 1 Bantul Yogyakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian survey deskriptif dengan metode pendekatan yang digunakan kuantitatif. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini 46 orang pengasuh balita atau ibu yang memiliki balita demam usia 6 bulan sampai 5 tahun. Instrumen berupa kuisioner yang diadaptasi dari IMCI Household Survey Questionnaire dan MTBS. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dalam bentuk distribusi frekuensi serta persentase. Hasil: Kesadaran dalam hal pemberian ASI secara eksklusif masih rendah rendah (30.4%) dan pemberian MP-ASI sudah cukup baik (69.6%). Dalam hal pemberian imunisasi dasar lengkap (100%) sudah mendapatkan, namun masih ada yang tidak sesuai jadwal pemberian. Perilaku BAB sudah menggunakan jamban sendiri dan terkait dalam mencuci tangan menggunakan sabun setalah BAB cukup baik (79.2%), namun mencuci tangan menggunakan sabun sebelum menyiapkan makan masih kurang hanya (23.9%). Dalam perawatan anak ketika demam, sudah banyak yang melakukan pengobatan sendiri seperti melakukan kompres hangat dan memberikan obat penurun panas sebelum dibawa ke puskesmas. Kesimpulan: Pelaksanaan MTBS pada rumah tangga dengan demam di Wilayah Puskesmas Banguntapan 1 Bantul Yogyakarta sudah baik, namun masih ada yang perlu ditingkatkan yaitu dalam hal pemberian ASI eksklusif, ketepatan jadwal pemberian imunisasi, perilaku mencuci tangan menggunakan sabun, dan pemberian obat yang tepat ketika anak demam perlu dipantau kembali.
Background: Fever contribute to the high morbidity and mortality of children from 16.380 children of illness, 31% sick a fever . One of the IMCI strategy is to improve health practices in households and communities. Because of it, toddlerhood, is a very important time for special attention to improving the welfare of children. Objective: To description the implementation of IMCI in households who have children with fever in the area of the District Health Banguntapan 1 Bantul Yogyakarta. Methods: This study was a descriptive survey methode used quantitatif approach.. The samples used in this study 46 infants or mother caregivers who have fever infant aged 6 months until 5 years. Instrument was a questionnaire adapted from the IMCI Household Survey Questionnaire and IMCI. Analysis of the data used analysis descriptive on the term frequencies distibution and percentages. Results: Awarness in terms of exclusive breastfeeding was still low (30.4%). Respondents (69.6%) who introduce complemenatry feeding after 6 months of age infants quite good. In terms of provided a complete basic imunization, (100%) them already got it, but the associated accuracy immunization schedule mostly inaccurate. Defecation already using the toilet and related to hand washing with soap after the bowel movemnet was quite good (79.2%), but (23.9%) washing hands with soap before preparing the meal was still lacking. For the childs fever care, many who do their own treatment. Conclusion: The implementation of IMCI in households with fever in the district health Banguntapan 1 Bantul Yogyakarta is good, however who are not good in terms of exclusive breastfeeding, regarding the accuracy of the schedule of immunization, hands washing with soap behavior, and for the drug delivery case when the child has a fever needs to be monitored back.
Kata Kunci : pelaksanaan MTBS, rumah tangga, balita diare