REAKTUALISASI USAHA KERAJINAN BATIK GIRILOYO (Studi Tentang Fungsi Paguyuban Batik Tulis Giriloyo dalam Memberdayakan dan Menjaga Eksistensi Pengrajin dan Pengusaha Batik di Wukirsari Imogiri Bantul Pasca Bencana Gempa Bumi DIY 27 Mei 2006)
MUHAMMAD KANZUL F, Prof. Dr. Susetiawan, SU
2014 | Skripsi | ILMU PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN (SOSIATRI)Batik merupakan kekayaan budaya dan sumber penghasilan bagi sebagian rakyat Indonesia di berbagai daerah. Wukirsari Imogiri Bantul merupakan sebagian contoh dari daerah yang masih mengembangkan kerajinan batik tulis. Tercatat pada pendataan pemerintah desa Wukirsari pada 2010, jumlah pengrajin batik di daerah ini adalah 619 orang, dari total penduduk Wukirsari yang berjumlah sekitar 7000 orang. Kerajinan batik di Wukirsari sering mengalami pasang surut, terutama pasca gempa bumi DIY 2006, banyak pengrajin dan pengusaha batik di Wukirsari yang mengalami kebangkrutan. Dari fenomena tersebut didirikanlah sebuah paguyuban batik bernama Paguyuban Batik Tulis Giriloyo (PBTG), yang diinisiasi oleh masyarakat bersama LSM IRE dan JHS. Berdirinya Paguyuban ini berfunsi untuk memberdayakan kembali usaha batik di Wukirsari pasca gempa bumi DIY 2006. Banyak hal yang telah dilakukan paguyuban ini unuk memberdayakan perajin dan pengusaha batik di Wukirsari. Dalam melihat fenomena kebangkrutan pengrajin dan pengusaha batik di Wukirsari pasca gempa 2006, penulis menggunakan pendekatan teori motivasi Araham H. Maslow. Maslow menyatakan, bahwa untuk keseimbangan kehidupan manusia itu bersumber dari terpenuhinya 5 kebutuhan yang harus dipenuhi. Kelima kebutuhan itu adalah kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial, harga diri, dan aktualisasi diri. Difungsikannya Paguyuban untuk bisa mewujudkan pemenuhan kelima kebutuhan tersebut dipakai dengan pendekatan teori Fungsionalisme Struktural Talcott Parsons yang menyatakan bahwa masyarakat adalah satu kesatuan system yang memiliki fungsi masing-masing yang saling mendukung. Hal ini bisa berjalan antar fungsi secara harmoni untuk bisa menuju sebuah keseimbangan hidup atau sejahtera. Unit analisis penelitian ini adala pengrajin batik yang menjadi anggota dan pengurus di PBTG dengan metode yang digunakan adalah kualitatif yang bersifat deskriptif analisis. Proses pengambilan data dilakukan langsung di lapangan, wawancara yang mendalam, dan dokumentasi. Penentuan informan dalam penelitian ini dilakukan secara purposive atau telah ditetapkan dengan tujuan tertentu, diantaranya adalah pengrajin dan pengusaha batik yang menjadi anggota PBTG, Ketua PBTG, Direktur JHS dan pengurus IRE, serta masyarakat di luar pahuyuban, pemerintah dan tokoh masyarakat desa Wukirsari. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa, Paguyuban batik sebagai bagian dari system di dalam masyarakat Wukirsari, telah mampu menjalankan beberapa fungsi, sehingga meningkatkan kesejahteraan perajin dan pengusaha batik yang diwadahinya. Keberhasilan ini antara lain dengan peningkatan kualitas perajin dan pengusaha batik melalui pengadaan lokakarya-lokakarya penembangan kualitas dan kerjasama kemitraan dengan beberapa stake holder. Namun keberhasilan dalam kedua hal tersebut belum sepenuhnya direspn positif oleh beberapa masyarakat di luar paguyuban. Hal ini disebabkan oleh kinerja paguyuban yang kurang adil terkait distribusi hasil usaha bersama yang digagas oleh paguyuban bersama anggotanya. Hal ini menyebabkan ada sebagian dari perajin batik yang memutuskan keluar dari paguyuban. Selain distribusi yang buruk, hal itu juga disebabkan oleh manajemen organisasi paguyuban yang kurang rapid an kurang disiplin. Seperti jarangnya diadakan pertemuan internal antara paguyuban dengan angotanya. Yang menyebabkan minimnya ruang evaluasi untuk mengatasi berbagai persoalan internal.
Batik is cultural wealth and source of income for a part of Indonesian people in many regions. Wukirsari Imogiri Bantul is one of example that still develop batik tulis industry. It was written at data collection of local government in 2010. The number of batik artisan in this region is 619 people of the total population in Wukirsari for about 7000 people. Batik industry in Wukirsari often rise and fall, especially after earthquake in DIY 2006, many batik artisans and industrialist in Wukirsari got bankrupt. From the phenomenon, it was established an association, named Batik Tulis Giriloyo Assosiation (PBTG) that initiated by sociaty with IRE NGO and JHS. It is for deceiving again batik industry in Wukirsari after earthquake DIY 2006. Many efforts had been done by this association to deceive batik artisans and industrialist in Wukirsari. Seeing the bankrupt phenomenon, batik artisans and industrialist in Wukirsari after earthquake 2006, writer use an approach to Abraham H. Maslow Motifation theory. Maslow said that the balance of human life is based on the fulfilled 5 requirements. They are physiologist, safety, social, self respect, and self actualization. The function of the association is able to realize five fulfillment of needs. It is used an approach Fungtatonalism Structural Alcott Parsons theory. He said that society is one system that has each function and support each other. It can go inter function harmonically, to be able to aim a life balance or prosperous. This research analysis unit is batik partisans who are members and management in PBTG with qualities method that have descriptive analysis characteristic. The process of taking data was done directly in dialogue deeply and documentation. The decision of informant in this research is purposively or have decided with the certain goal, one of them is batik partisan and industrialist who are member of PBTG, Chief of PBTG, Director JHS and IRE management and also society out of the association, government, and important figure at Wukirsari Village. The result of this research show that the batik association as one of system in Wukirsari, well to do some functions, so increase the prosperous of batik partisans and management. This success is by increasing quality of batik partisan and management by supplying lokakarya to increase quality cooperative with some stake holder. However, the success doesn’t get positive response yet from the society out of the association fully. It caused of not only the activities of association less fair in distributing product but also the management is less dicipline. Like internal meeting between association and member is very seldom that cause evaluation room to solve internal problems is so minimum. Finally there are some partisans get out from the association.
Kata Kunci : Paguyuban, Pengrajin Batik, Fungsi;Association, Batik Partisan, Function