Laporkan Masalah

KAMPUNG VERTIKAL TEGALPANGGUNG DENGAN KONSOLIDASI EKOLOGI DAN KOMUNITAS

TATI HARNANINGSIH, Dr. Ir. Budi Prayitno, M.Eng.;Syam Rachma Marcillia, ST., M.Eng., Ph.D.

2014 | Skripsi | S1 ARSITEKTUR

Kampung merupakan fenomena perumahan di perkotaan yang dibangun secara swadaya oleh para migran dari pedesaan. Perumahan-perumahan ini disebut dengan kampung kota. Kampung-kampung kota biasanya dibangun di atas tanah yang tidak memiliki status kepemilikan, seperti di bawah kolong jembatan, sisi rel kereta api dan di bantaran sungai. Hal tersebut menimbulkan dilema permukiman kota. Seperti halnya kampung di bantaran Kali Code. Kali Code merupakan salah satu batang air yang melewati Kota Yogyakarta. Kawasan Kali Code saat ini telah menjadi permukiman sangat padat dan kumuh. Ditambah lagi, sering menjadi korban bencana longsor dan lahar dingin ketika terjadi erupsi Gunung Merapi. Pemerintah Indonesia dalam mengatasi permukiman padat kumuh di perkotaan telah melalui berbagai upaya. Salah satunya adalah membangun hunian secara vertikal untuk mengotimalkan fungsi lahan. Namun, hal tersebut belum sepenuhnya terwujud dan mengalami stagnansi. Penyebab terjadinya hal tersebut adalah kurangnya perhatian terhadap dampak sosial, budaya dan ekonomi masyarakat calon penghuni. Oleh karena itu, dibutuhkan kampung vertikal yang mampu mempertahankan nilai-nilai sebuah kampung. Kampung vertikal Tegalpanggung mengambil konsep Taman air yang didasarkan pada teori ekologi dan komunitas. Dengan mempertimbangkan kondisi site yang berkontur miring dan lebih rendah daripada wilayah sekitarnya sehingga site menjadi muara dari berbagai macam sumber air yang menimbulkan dampak yang tidak mengenakkan. Taman air tidak hanya sekedar taman tetapi taman yang mampu mendaur-ulang limbah, berbasis pada komunitas, serta berpola organik. Sehingga dapat menjadi pilihan solusi dari permasalahan yang ada.

Kampong is a phenomenon in urban life built independently by migrants from the countryside. Residential housing is called village town. Village town usually built on land that does not have the status of ownership, such as under the bridge, the railroad tracks and on riverbanks. It causes dilemma to the urban city, for example is the village town on the riverbank of code river. The Code is one of the river that pass through the city of Yogyakarta. Code Riverbanks has become very dense and slums. People live in code riverbank often become victims of land slides and cold lava when Mount Merapi erups. Indonesian government have tried a lot of efforts in order to decrease the density of houses near the riverbank. One of them is building up a vertical building to optimize land use. However, it has not been fully realized and stagnant because of the lack of attention to the social, cultural and economic impact from the probable occupant of the vertical building. Therefore, it takes a vertical kampong that is able to maintain the values of a village. Vertical kampong of Tegalpanggung take water park concept is based on the theory and community ecology. Taking into account the condition of the site are contoured sloping and lower than the surrounding areas and sites into the estuary from various water sources that cause unpleasant effects. The water park is not just a park, but the park is capable of recycling waste, based on the community, as well as organic patterned. So it can be a choice of solution the existing problem.

Kata Kunci : kampung vertikal,ekologi,komunitas,Tegalpanggung,taman air


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.