NEEDS ASSESSMENT UNTUK PENGEMBANGAN PROGRAM PROMOSI KESEHATAN PADA KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) : STUDI KASUS KLB PENYAKIT HEPATITIS A DI DESA JATISARONO, KECAMATAN NANGGULAN, KABUPATEN KULON PROGO, DIY
EVIANA HAPSARI DEWI, Dr. Atik Tri Ratnawati, MA
2014 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatPendahuluan : Kejadian luar biasa (KLB) suatu penyakit memberikan dampak kerugian yang sangat signifikan terhadap kesehatan, ekonomi maupun sosial. Promosi kesehatan dan komunikasi kesehatan dapat memfasilitasi terjadinya integrasi antara komponen persiapan dan respon serta memungkinkan terjadinya kolaborasi dan kemitraan di tingkat lokal. Perlu pendekatan antropologis untuk memahami motivasi, nilai-nilai dan model budaya agar dapat dijadikan sebagai landasan pengembangan strategi mobilisasi sosial yang efektif dengan dampak perubahan perilaku yang lestari. KLB penyakit hepatitis A yang terjadi di tahun 2012 di Kabupaten Kulon Progo, dapat dijadikan studi kasus untuk pengembangan program promosi kesehatan pada kondisi KLB. Dengan mengidentifikasi layanan-layanan yang telah diberikan oleh dinas terkait dan juga mengidentifikasi kebutuhan yang dirasakan oleh masyarakat, kemudian diupayakan suatu kesinambungan dari kedua sisi tersebut agar tidak ada kesenjangan. Tujuan : Needs assessmentpada sisi penyedia layanan (dinas kesehatan dan puskesmas) dan yang dilayani (masyarakat) untuk rekomendasi pengembangan program promosi kesehatan pada kondisi KLB. Metode :Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kualitatif, dengan rancangan penelitian studi kasus. Penelitian dilaksanakan di Desa Jatisarono, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo.Subjek penelitiannya adalah Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo, Puskesmas Kecamatan Nanggulan, kepala desa, kader kesehatan, mantan penderita. Pengumpulan data dilakukan dengan metode FGD dan wawancara mendalam. Analisis dan pengumpulan data dilakukan secara bersamaan (on going analysis). Analisis data yang dipergunakan adalah content analysis. Hasil : Dari sisi masyarakat, diketahui bahwa pemahaman mengenai penyakit hepatitis A masih rendah oleh karena keterbatasan informasi / edukasi dari penyedia layanan. Kader kesehatan yang sebenarnya mempunyai peran strategis ternyata juga belum terlalu bisa diandalkan dalam memberikan edukasi kepada warga dampingannya. Di sisi penyedia layanan, diketahui bahwa pengembangan program intervensi belum berdasarkan penggalian kebutuhan yang dirasakan oleh masyarakat, namun berdasarkan asumsi saja. Dengan demikian, beberapa pendekatan yang dilakukan untuk masyarakat masih belum terlalu sesuai. Kesimpulan :Kesenjangan yang ditemui antara kebutuhan yang dirasakan oleh masyarakat dengan program intervensi yang dikembangkan oleh penyedia layanan pada saat kejadian luar biasa hepatitis A pada tahun 2012, terutamadalam hal ketersediaan informasi termasuk media informasinya yang kurang merata, baik dari sisi jenis informasinya maupun dari sisi penyebarannya, serta kecepatan respon dari petugas kesehatan atas peningkatan kasus yang ada.Informasi yang didapatkan berasal dari dokter yang memeriksa dan sifatnya hanya keterangan singkat. Dengan demikian, pemahaman mereka mengenai penyakit hepatitis A masih belum utuh, mulai dari pengertian penyakitnya, cara penularannya, cara pencegahannya, masih sepotong-sepotong.
Introduction: Communicable disease outbreak gives a significant impact on health,economy and social life. The health promotion and health communication can facilitate the integration between the preparation components and responses and enable collaboration and partnership at the local level. It certainly requires an anthropological approach to understand motivations, values and cultural models which can be used as a basis to develop an effective social mobilization strategy with sustainable impacts on behavior change. The hepatitis A outbreak in KulonProgo District in 2012 can be used as a case study to develop health promotion programs in the outbreak situation. Objectives: To conduct needs assessment on the service providers (district health office and community health center) and the beneficiaries of services (community) to propose recommendation in developing health promotion programs in the outbreak situation. Method:This research used a qualitative method with case studydesign. The research was conducted in JatisaronoVillage, Sub-district of Nanggulan, District of Kulon Progo.Subjects were District HealthOffice of KulonProgo, Nanggulan’s Sub-district CommunityHealthCentre(puskesmas), head of village, health cadres, and ex-patients. Focus group discussion and in-depth interviews methods were applied to collect the data. The analysis and data collection were conducted together (on-going analysis) and content analysis were applied to analize the data. Thrustworthiness were conducted through the methods and source of information triangulation. Results: From the community aspect, the community has poor knowledge of hepatitis A due to limited information/education from the service providers. The health cadres who should play a pivotal role are not reliable yet to educate their community. From the service provider aspect, the intervention program development is not based yet on community’s needs analysis, but merely on assumption. Conclusion:It is concluded that there is a gap between the community needs and the intervention programs, particularly in the availability of information in terms of both information types and its distribution and respond speed by health staff. The community does not have comprehensive understanding of hepatitis A in terms of the definition of the disease, its transmission and preventions.
Kata Kunci : needs assessment, promosi kesehatan dan KLB