Implikasi Arms Build-up Negara ASEAN terhadap Perdamaian di Kawasan Asia Tenggara
RIA ANISA, Drs. Usmar Salam, MIS.
2015 | Tesis | S2 Ilmu Hubungan InternasionalPerubahan dan peningkatan belanja militer Negara-negara ASEAN adalah kenyataan dinamika persenjataan Asia Tenggara saat ini. Meskipun demikian, disisi lain Negara-negara di kawasan Asia Tenggara berupaya menciptakan perdamaian melalui kerjasama-kerjasama regional untuk senantiasa menjaga perdamaian kawasan. Keduanya adalah dinamika yang menimbulkan ambiguitas keamanan kawasan Asia Tenggara, akankah dinamika Persenjataan akan mengganggu stabilitas keamanan Asia Tenggara ataupun sebaliknya menjadi cara penunjang perdamaian Kawasan Asia Tenggara. Maka penelitian Tesis ini mengajukan dua pertanyaan penelitian , (1) mengapa Negara-negara ASEAN melakukan modernisasi postur militer ? (2) bagaimana implikasi modernisasi postur militer tersebut terhadap perdamaian di Kawasan Asia Tenggara ? untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut, penelitian ini menggunakan paradigm Realis dengan mengaplikasikan dua konsep, yakni Security Dilemma dan Balance of Power. Berdasarkan rumusan masalah, pertanyaan penelitian dan metodologi yang penulis gunakan, tesis ini mengajukan dua hipotesis, pertama Negara-negara ASEAN melakukan modernisasi postur militer karena bersiaga sebagai reaksi ketidakpastian kasus Laut Cina Selatan, disamping itu juga secara tidak langsung ASEAN memunculkan peluang agar Negara anggotanya melakukan pembangunan persenjataan dan juga persoalan kepentingan keamanan dalam negeri keenam Negara-negara ASEAN itu sendiri. Kedua, bahwa pembangunan kekuatan militer oleh Negara -negara ASEAN akan memelihara perdamaian di kawasan Asia Tenggara, karena perlengkapan postur militer akan menempatkan semua Negara ASEAN sejajar dan tidak adanya kekuatan militer yang mendominasi . Meskipun tidak adanya perang ini bukan berarti mereka percaya satu sama lainya. Mekanisme damai di Asia Tenggara akan semakin mudah dicapai karena unsur balance of power antar Anggota ASEAN. Pertama, keenam Negara besar ASEAN memang secara kualitatif melakukan pembangunan persenjataan, Namun hal tersebut belum dikategorikan sebagai perlombaan senjata yang tidak membahayakan. Hal tersebut tercermin dari tidak adanya inisiatif dari keenamnya untuk menyerang atau menyatakan bermusuhan dengan Negara lainya. Negara-negara ASEAN melakukan modernisasi postur militer karena bersiaga militer yang ditimbulkan oleh security dilemma sebagai reaksi semakin memanasnya kasus Laut Cina Selatan, disamping itu juga berkaitan dengan stagnanisasi ASEAN dan juga persoalan domestik maupun kepentingan keamanan masing-masing keenam Negara-negara ASEAN. Kedua, dampak modernisasi persenjataan keenam Negara ASEAN akan memelihara perdamaian di kawasan Asia Tenggara. Pemeliharaan perdamaian kawasan karena kelengkapan postur militer akan menempatkan semua Negara ASEAN sejajar dan tidak adanya kekuatan militer yang mendominasi. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa saat kekuatan militer dijadikan alat prestise yang meningkatkan rasa percaya diri setiap Negara ASEAN, maka hal ini semakin menyulitkan efektifnya mekanisme penyelesaian masalah seperti TAC, dan ARF, karena masing-masing Negara yang bersengketa merasa kuat secara militer. Meskipun tidak adanya perang ini bukan berarti Negara-negara ASEAN percaya satu sama lainya. Masing-masing Negara masih bersiaga militer karena sejarah konfliktual dan sensitivitas Negara serumpun.
Changes and an increase in military spending ASEAN countries is the fact dynamics armament Southeast Asia today. Nevertheless, on the other hand countries in Southeast Asia seek to "create" peace through regional collaborations to always maintain regional peace. Both are dynamics that give rise to ambiguity Southeast Asian regional security, will Armament dynamics will disrupt stability of Southeast Asia, or otherwise become a way of supporting peace-East Asia Region. So this thesis study posed two research questions: (1) why the ASEAN countries to modernize our military posture? (2) What are the implications of modernization of the military posture toward peace in Southeast Asia? To answer the second question, this study uses the Realist paradigm by applying two concepts, namely the Security Dilemma and the Balance of Power. Based on the formulation of the problem, research questions and methodologies used by the writer, this thesis put forward two hypotheses, the first ASEAN countries to modernize our military posture as alert as a reaction to the case of uncertainty the South China Sea, as it also indirectly led to opportunities that ASEAN member States do weapons development and also issues of domestic security interests of the six ASEAN countries themselves. Second, that the construction of military force by the State-states of ASEAN will maintain peace in the region, because supplies military posture will put all ASEAN countries and the absence of parallel military force dominates. Despite the absence of war is not to say they trust each other. The mechanism of peace in Southeast Asia will be more easily achieved because the elements of balance of power between the ASEAN Member. First, the six major countries of ASEAN is qualitatively conduct weapons development, but it is not categorized as an arms race that is not harmful. This is reflected in the lack of initiative from the sixth to attack or hostile states with other countries. ASEAN countries to modernize our military posture for the military on alert security dilemma posed by a further warming of the reaction of the South China Sea case, as it also relates to ASEAN and also domestic issues as well as the security interests of each of the six ASEAN countries. Second, the impact of weapons modernization sixth ASEAN countries will maintain peace in the region. Maintenance of regional peace for completeness military posture will put all ASEAN countries and the absence of parallel military force dominates. But it is undeniable that the current military force as a tool that enhances the prestige of confidence every ASEAN countries, it is increasingly difficult for effective problem-solving mechanisms such as TAC, and ARF, because each State to the dispute feel stronger militarily. Despite the absence of war does not mean that ASEAN countries trust each other. Each State is still a military alert because conflict of history and sensitivity of allied countries.
Kata Kunci : Security dilemma , ASEAN, Arms Build-up, ASEAN, Arms Race