Laporkan Masalah

IDENTIFIKASI KERAGAMAN BAWANG MERAH (Allium cepa L. Aggregatum group) YANG DIBUDIDAYAKAN DI INDONESIA

RIZKY PASTHIKA KIRANA, Dr. Ir. Endang Sulistyaningsih, M.Sc.

2015 | Tesis | S2 Pemuliaan Tanaman

Banyak kultivar bawang merah dan bawang wakegi yang dibudidayakan petani Indonesia. Namun bawang wakegi masih disebut sebagai bawang merah. Informasi genetik antar kultivar diperlukan untuk memastikan kebenaran spesies bawang merah, dan tingkat keragaman antar kultivar bawang merah di Indonesia. Keragaman genetik pada kultivar bawang merah dapat mengakibatkan keragaman pada karakter fenotipe, salah satunya adalah kandungan senyawa kimia pada bawang merah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status kultivar bawang merah sebagai Allium cepa L. Aggregatum group atau A. wakegi menggunakan penanda isozim, tingkat keragaman genetik pada koleksi kultivar menggunakan penanda isozim dan DNA, serta keragaman kandungan senyawa kimia pada masing-masing kultivar. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Hortikultura, Universitas Yamaguchi, Jepang. Kultivar yang digunakan yaitu: Biru, Bima Juna, Bauji Bunder, Bauji Plompong, Crok Kuning, Philip, Probolinggo, Thailand, dan Tiron. Hasil pengelompokkan berdasarkan keragaman pola pita isozim PGI, LAP, dan GOT menunjukkan bahwa 9 kultivar yang diuji adalah A. cepa L. Aggregatum group. Identifikasi pita DNA menghasilkan persentase pita polimorfik sebesar 15,56% dan persentase pita monomorfik 84,44%. Hasil analisis isozim dan DNA menghasilkan koefisien kesamaan genetik sebesar 0,63 (63%). Persentase pita monomorfik > polimorfik, dan koefisien kesamaan yang >0,50 menunjukkan bahwa 9 kultivar bawang merah memiliki tingkat keragaman genetik yang rendah, atau dengan kata lain, kesamaan genetiknya tinggi. Hasil analisis kandungan senyawa kimia dengan spektrofotometri dan HPLC, menunjukkan bahwa 9 kultivar memiliki 11 jenis senyawa kimia yang diuji (glukosa, fruktosa, sukrosa, 1-kestosa, fruktan, fenolik total, flavonoid, 1/IC50, saponin, 1-PeCSO, dan PCSO), tetapi tidak memiliki 1 senyawa kimia yaitu MCSO. Kultivar yang memiliki kandungan ≥6 senyawa kimia dengan jumlah diatas rata-rata 9 kultivar yaitu Biru, Philip, Probolinggo, dan Thailand.

Many shallot cultivars and wakegi onion are cultivated by Indonesian farmers. However, wakegi onion in Indonesia is called ‘bawang merah’ as same as the term for shallot. The genetic information among shallot cultivars is needed to classify the shallot cultivars, and to identify the genetic diversity related to chemical compound of bulbs. The aims of this study are to determine the cultivar collections into Allium cepa L. Aggregatum group or A. wakegi using isozyme markers, the genetic distance among cultivars using isozyme and DNA markers, and the diversity of chemical compounds between the cultivars. The research conducted at Laboratory of Horticulture in Yamaguchi University, Japan. Cultivars used in this study were Biru, Bima Juna, Bauji Bunder, Bauji Plompong, Crok Kuning, Philip, Probolinggo, Thailand, and Tiron. The results showed that based on PGI, LAP, and GOT isozyme banding patterns analysis, 9 shallot cultivars were A. cepa L. Aggregatum group. Identification of DNA analysis showed that 9 shallot cultivars had 15.56% polymorphic bands and 84.44% monomorphic bands. Isozyme and DNA analysis produced genetic similarity coefficient of 0.63 (63%). Percentage of monomorphic bands were higher than polymorphic bands, and the similarity coefficient was more than 0.50 indicated that the 9 shallot cultivars had low genetic distance or high genetic similarity. The HPLC and spectrophotometry analysis indicated that 9 shallot cultivars had 11 kinds of chemical compounds tested (glucose, fructose, sucrose, 1-kestosa, fructans, total phenolics, flavonoids, 1/IC50, saponin, 1-PeCSO, and PCSO). None of 9 shallot cultivars had MCSO compound. The cultivars that had more than 6 of chemical compound in high content were Blue, Philip, Probolinggo, and Thailand.

Kata Kunci : bawang merah, keragaman genetik, senyawa kimia


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.