MODEL PENGEMBANGAN PEMANFAATAN POTENSI SUMBER DAYA ALAM TAMAN NASIONAL GUNUNG CIREMAI
AI YUNIARSIH, Prof. Dr. Ir. H. Djoko Marsono
2015 | Disertasi | S3 Ilmu KehutananPenetapan suatu taman nasional seringkali menimbulkan konflik di antara tujuan konservasi hutan dan keanekaragaman hayati dan tujuan kesejahteraan masyarakat, ketika tidak diikuti oleh rencana pengelolaan yang memadai. Tujuan penelitian yang pertama adalah untuk mengidentifikasi pemanfaatan potensi sumber daya alam Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dan sejauhmana dampak pemanfaatannya bagi berbagai pihak yang berkepentingan. Kedua, mengidentifikasi keinginan masyarakat dan stakeholders lainnya untuk pengembangan pemanfaatan potensi sumber daya alam TNGC. Ketiga, merumuskan model pengembangan pemanfaatan potensi sumber daya alam TNGC. Penelitian dilaksanakan di kawasan TNGC pada Bulan Juli 2011 hingga Agustus 2013. Data diperoleh melalui metode survey dengan kuesioner dan wawancara, observasi, dan pengumpulan data sekunder. Selanjutnya data dianalisis dengan analisis deskriptif, analisis stakeholder, analisis proses hirarki (AHP) dan analisis sistem dinamik. Dua skenario disimulasikan dalam analisis sistem dinamik, yaitu skenario berdasarkan kondisi tahun 2011 (data baseline) dan skenario pengembangan. Pada tujuan pertama, pemanfaatan potensi sumber daya alam TNGC oleh berbagai pihak, dalam bentuk pemanfaatan sumber daya alam untuk wisata, pemanfaatan sumber daya air dan pemanfaatan tanaman jenis multi purpose (MPTS). Pemanfaatan wisata alam TNGC hingga saat ini telah berkontribusi kepada pendapatan masyarakat, pemerintah, atau stakeholders lainnya seperti Badan Usaha Milik Daerah (PDAU Darma Putra Kertaraharja), dan perusahaan swasta (CV. Wisata Putri Mustika). Pengusahaan sumber daya air secara komersil memberikan kontribusi pendapatan bagi pemerintah daerah Kabupaten Kuningan melalui setoran pajak air permukaan, laba perusahaan dan pendapatan asli daerah yang disahkan yaitu berupa setoran dari Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Kuningan, Kabupaten dan Kota Cirebon, dari Perusahaan Indocement serta pengusaha air dalam kemasan. Secara non komersil sumber daya air TNGC telah digunakan masyarakat sekitar hutan bagi pemenuhan air bersih keluarga, dan untuk mengairi lahan pertanian. Pemanfaatan hasil tanaman MPTS berupa pemanenan buah hingga tahun 2011 hanya terjadi pada 3 keluarga di Desa Seda, sedangkan di desa lain lahan tanaman MPTS ini sudah ditinggalkan tanpa pemeliharaan. Berkaitan dengan tujuan kedua, hasil analisis proses hirarki menunjukkan bahwa masyarakat dan stakeholders lainnya menginginkan pengembangan pengusahaan wisata alam dengan persepsi dapat menghasilkan kesempatan kerja dan pendapatan yang lebih baik. Berdasarkan keinginan masyarakat dan stakeholders lainnya tersebut, maka pada tujuan ketiga, model yang dibangun dan disimulasikan adalah model pengusahaan wisata alam dengan skenario: (1) berdasarkan kondisi pada tahun 2011 dan (2) pengembangan. Skenario pengembangan dinilai sebagai skenario yang lebih baik untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, pendapatan pemerintah dan pemulihan penutupan hutan. Akan tetapi, ketika daya dukung fisik sudah mencapai jumlah wisatawan maksimum yaitu 20.631.400 orang pada tahun 2025, maka diperlukan penekanan laju wisatawan dan pemulihan serta peningkatan kualitas kawasan obyek wisata alam dan kinerja pengelola, yang melibatkan peran stakeholders. Keywords: taman nasional, masyarakat, stakeholders, wisata alam, model
Designation of national park sometimes generated conflict between goal for forest and biodiversity conservation and goal for community welfare, as it was not followed by proper management plan. The objectives of this research were, first, to identify utilization of potential natural resources of Mount Ciremai National Park (MCNP) and and the extent of the impact of the utilization for a wide range of interested parties. Second, to identify community and other stakeholders preference for development of MCNP natural resources potential utilization. Third, to formulate a model of natural resources potential utilization development. The research was carried out in MCNP field from July 2011 to August 2013. Data were obtained through survey with questionnaires and interviews, direct field observation, and secondary data collections. Data were analyzed through descriptive analysis, stakeholders analysis, analytical hierarchy process (AHP), and dynamic system analysis. Two scenarios were simulated in dynamic system analysis i.e. based on year 2011 data, and development scenario. Regarding the first objective, the utilization of MCNP natural resources by stakeholders, in the form of nature tourism utilization, water resources utilization, and the land-use for multi purpose tree species plantation. Utilization for nature tourism had contributed to income for community, government, and other stakeholders such as a local entrepreneur (PDAU Darma Putra Kertaraharja), and a private sector (CV. Wisata Putri Mustika). Water resources utilization commercially had contributed to income for local government through tax of surface water and profit sharing from local water entrepreneurs (PDAM Kuningan and Cirebon), private sectors (drinking water packaging entrepeneurs) and also PT Indocement which use water reources for its industry. Local community were benefitted non commercially by water resources utilization for household needs and for farm watering. The utilization of land for plantation of multi purpose species in year 2011 were done by 3 family in Seda Village in the form of fruit harvesting. In other village, the lands were left without maintenance activities. Concerning the second objective, community and other stakeholders in MCNP, based on analytical hierarchy process, prefer to develop the utilization of nature tourism as it was considered for producing better job opportunities and income. Following the community and other stakeholders preference, for the third objective, model of nature tourism use development was designed and simulated with scenario of: (1) based on year 2011 condition, and (2) development. The development scenario was considered the best path way to increase communities income, government income and forest cover recovery. However, as physical carrying capacity had reached maximum number of tourists (20.631.400 persons) in year 2025, efforts should be conducted i.e. reducing the rate of tourists number, recovering and increasing quality of nature tourism objects and management performance, which will involve stakeholders’ role. Keywords: national park, community, stakeholders, nature tourism, model
Kata Kunci : national park, community, stakeholders, nature tourism, model; taman nasional, masyarakat, stakeholders, wisata alam, model