Laporkan Masalah

BINCAR-BONOM SEBAGAI BASIS TATA RUANG PERMUKIMAN DESA SINGENGU: Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal Provinsi Sumatera Utara

CUT NURAINI, Prof.Ir.Achmad Djunaedi,MUP.,Ph.D

2015 | Tesis | S3 ILMU ARSITEKTUR

Desa Singengu adalah permukiman pedesaan pegunungan yang berada di tepi sungai dan merupakan tapian (dataran di tepi sungai) pertama yang dihuni oleh leluhur ketika turun gunung, sekaligus desa tertua sebagai induk dari desa-desa lain yang tersebar di kawasan Mandailing Julu. Di masa lalu, desa Singengu yang berstatus sebagai huta (kampung/desa) induk mengembangkan huta baru ke tempat-tempat yang mengarah ke tor (gunung) di arah bincar (terbit) matahari dan bonom (terbenam) matahari. Tempat-tempat di desa Singengu juga selalu menunjukkan oposisi, contohnya tempat untuk aktifitas kaum perempuan ada di arah bincar sedangkan tempat untuk aktifitas kaum laki-laki ada di arah bonom. Letak makam juga menunjukkan oposisi, yaitu makam leluhur ada di arah bonom sedangkan makam keturunan leluhur ada di arah bincar. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan teori baru tentang permukiman pegunungan yang berada di tepi sungai berdasar pada fenomena di desa Singengu, Mandailing Julu, Sumatera Utara. Fenomena desa Singengu diyakini memiliki realitas ganda, sehingga paradigma yang tepat untuk menggali makna di balik dua realitas tersebut adalah fenomenologi. Metode fenomenologi diawali dengan grandtour sebagai langkah awal untuk menggali fenomena dan dilanjutkan dengan minitour untuk pendalaman. Analisis induktif dilakukan secara terus menerus hingga diperoleh kebenaran tertinggi melalui reduksi transendental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arah bincar-bonom (terbit-terbenam) matahari adalah basis tata ruang permukiman desa Singengu sebagai bentuk kepatuhan kepada Datu (Sang Pencipta). Arah bincar adalah simbol masa depan, arah untuk yang muda, junior dan sesuatu yang baru sedangkan arah bonom adalah simbol masa lalu, arah untuk yang tua, senior dan sesuatu yang lama. Ada empat unsur penting dalam relasi bincar-bonom, yaitu tor (gunung)/dolok (bukit), pakkuburan (pekuburan), mual (mata air) dan mataniari (matahari) yang dilandasi oleh tiga konsep, yaitu (1) Parkouman/persaudaraan, (2) Banua/dunia dan (3) Mangulaki pangkal/kembali ke asal. Desa Singengu dibentuk pertama kali oleh adanya Parkouman antara kahanggi, mora dan anakboru. Relasi bincar-bonom mengatur kedudukan/tempat Kahanggi sebagai senior di arah bonom, sedangkan anakboru yang paling junior, tempatnya di arah bincar dan mora sebagai penasehat di tengah. Parkouman akan membentuk banua, yaitu huta dan huta ruar. Huta sebagai induk mengembangkan huta ruar ke arah bincar oleh anak yang muda dan anak yang tua mengembangkan huta ruar ke arah bonom. Parkouman dan Banua selalu Mangulaki pangkal (kembali ke asal) ke arah asal sumber kehidupan, yaitu Datu (Sang Pencipta) melalui arah bincar-bonom (terbit-terbenam) matahari. Dialog konsep yang dilakukan menunjukkan bahwa di desa Singengu poken (pasar) memiliki nilai sakral karena adanya prinsip mardomu daro, sehingga seting pasar ada di arah bincar. Apabila pada permukiman pegunungan arah terbit matahari dianggap profan, di desa Singengu arah terbit matahari dianggap sakral. Dialog teoritik yang dilakukan menunjukkan bahwa teori Bincar-Bonom merupakan teori permukiman pedesaan di pegunungan dengan ciri relasi socio-symbolic-spiritual spatial. Kata Kunci : Singengu, Bincar-Bonom, Mangulaki Pangkal, Banua, Parkouman

Singengu village is a mountainous riverside settlements and the first tapian (plains on the banks of the river) that was inhabited by the oldest ancestors when they came down from the mountain and at the same time it is the oldest village and the mother of other villages scattered in the area of Mandailing Julu. In the past, the Singengu village's status was as huta induk (mother village/main village) and developed huta anak (child village/small village) to the places leading to the tor (mountain) in the direction of bincar (sunrising) and bonom (the sunsetting). Places in the Singengu village always show the opposition, for example, place for women's activities is in the direction of bincar,while place for men‟s activities is in the direction of bonom. The location of the tomb also shows opposition, the ancestral grave is in the direction of bonom whereas ancestral descent tomb is in the direction of bincar. This research aims to find a new theory about the mountain riverside settlements based on the phenomenon of Singengu village, in Mandailing Julu, North Sumatra. Singengu village phenomenon has dual reality, so the appropriate paradigm to explore the meaning behind the two realities is phenomenology. Phenomenology method begins with grandtour as an initial step to explore the phenomenon and continued with minitour to deepen the phenomenon. The inductive analysis is carried out continuously until the ultimate truth is obtained through transcendental reduction. The result shows that the direction of bincar-bonom (sunrising-sunsetting) is the basis of settlement arrangement of Singengu village as a form of obedience to the Datu (the Creator). The direction of bincar is a symbol of the future, the direction for the young, junior and something new while the direction of bonom is a symbol of the past, the direction for the elder, senior and something old. There are four essential elements in bincar-bonom, ie tor (mountain)/dolok (hill), pakkuburan (grave yard), mual (spring) and mataniari (sun) which are based on three concepts, ie (1) mangulaki pangkal/ back to the origin, (2) Banua/world, and (3) Parkouman/fraternity. Parkouman that formed by kahanggi, mora and anakboru was set the position/placed of kahanggi as senior in the direction of bonom, while the most junior anakboru in the direction of bincar and mora as adviser in the middle. Parkouman forms banua, namely huta and huta ruar. Huta as a mother develops huta ruar toward bincar by the young children and the older children develops huta ruar toward bonom. Parkouman and banua always mangulaki pangkal (back to the origin) to the direction of the origin of life source, namely mataniari (sun).The dialogue of concepts showed that in Singengu village, poken (market) has a sacred value because of the principle of mardomu daro (meet in the same blood) and placed the poken in the direction of bincar. Bincar-Bonom is a theory of mountainous settlements with specific characterized namely socio-symbolic-spiritual spatial relations. Keywords: Singengu, Bincar-Bonom, Mangulaki Pangkal, Banua, Parkouman

Kata Kunci : Singengu, Bincar-Bonom, Mangulaki Pangkal, Banua, Parkouman; Singengu, Bincar-Bonom, Mangulaki Pangkal, Banua, Parkouman


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.