STRATEGI PENGELOLAAN HUTAN KEMASYARAKATAN (HKm) BERBASIS AWIG-AWIG DI KABUPATEN LOMBOK UTARA
DEDY PURWANTO, Ris Hadi Purwanto;Priyono Suryanto
2014 | Tesis | S2 Ilmu KehutananPengelolaan HKm Santong mulai dikelola tahun 1998 dengan menerapkan kearifan lokal berupa awig-awig yang diadopsi dari hutan adat. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui dan menganalisis bentuk pengelolaan HKm berbasis awig-awig di Kabupaten Lombok Utara, (2) mengetahui akses masyarakat dalam pemanfaatan hasil hutan kayu pada HKm Santong dan (3) menetapkan strategi pengelolaan HKm berbasis awig-awig untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian hutan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dan kuantitatif dengan unit analisis adalah petani HKm Santong yang tergabung dalam Koperasi Maju Bersama. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 44 orang dengan melibatkan 6 informasi kunci yang berasal dari lingkup pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah daerah, perguruan tinggi, LSM dan tokoh masyarakat. Analisis deskriptif dilakukan untuk meneliti bentuk pengelolaan dan akses masyarakat dalam HKm. Strategi pengelolaan HKm dibuat dengan pendekatan SWOT dan AHP. Hasil penelitian ini menunjukkan bentuk awig-awig dalam pengelolaan HKm antara lain : menjango (orientasi lahan), membangar (penataan batas), buka tana� (pembersihan lahan), besiru (gotong royong). Akses petani HKm Santong masih sebatas pengelolaan dan pemanfaatan HHBK, sedangkan pemanfaatan kayu belum terealisasi. Strategi untuk pengelolaan HKm yang lebih prospektif dapat dilakukan dengan strategi yaitu : (1) Pengembangan Koperasi Maju Bersama dengan meningkatkan budaya besiru sebagai budaya setempat dan aturan Koperasi, (2) Menjadikan HKm Santong sebagai HKm HHBK serta pemanfaatan kayu dilakukan secara tebang pilih (3) Pengembangan Lokasi HKm melalui Pemanfaatan Jasa Lingkungan.
Community Forest Management (HKm) of Santong was determined since 1998 by applying the local wisdom�awig-awig� inherited from the indigenous forest. The aims of the study were: 1) to identify and analyze the management system of community forest based on awig-awig in North Lombok; 2) to figure out the community accessibility in utilizing the product of HKm Santong; 3) to determine the community forest management strategies based on awig-awig in order to improve the community welfare and forest sustainability. The methods of the study were qualitative and quantitative in which the analysis unit was the farmers in HKm Santong as the members of the local cooperative, Koperasi Maju Bersama. Total respondents were 44 respondents including 6 (six) key informants from the central government, provincial governments, local governments, universities, NGOs and community leaders. Descriptive analysis was conducted to investigate the form of management and public access in HKm. Community forest management strategies were composed by SWOT and AHP Approaches. The results of this study insisted the presence of awig-awig in the community forest management, consisting of menjango (land orientation); membangar (boundary); buka tana' (land clearing); and besiru (mutual aid). The farmer accessibility into HKm Santong, however, is limited on the management and utilization of NTFPs, excluding the timbers. There are several strategies crucial for gaining more prospective community forest management, which are: 1) Improving Koperasi Maju Bersama by maintaining besiru as the local wisdom and cooperative system; 2) Establishing HKm Santong as NTFP�s HKm and conducting timber utilization by selective cutting; 3) Expanding the HKm area through Environment Services.
Kata Kunci : Awig-awig, Hutan Kemasyarakatan dan Hasil Hutan Kayu dan Non Kayu, Strategi;Awig awig, Community Forestry, Timber and Non-Timber Forest Product, Strategy