Laporkan Masalah

PENGARUH KERENTANAN KEBENCANAAN GUNUNG MERAPI TERHADAP KEGIATAN KEPARIWISATAAN BERBASIS POLA KERUANGAN: STUDI KASUS : WILAYAH KABUPATEN SLEMAN

DWI HARDIANI, Dr. Ir. Budi Prayitno, M. Eng

2014 | Tesis | S2 MAGISTER ARSITEKTUR PARIWISATA

Penelitian dilakukan di kawasan pariwisata Merapi yang juga merupakan kawasan rawan bencana. Potensi kawasan Merapi sebagai daya tarik wisata tidak dapat lepas dari bahaya erupsi yang senantiasa mengancam. Berbagai siklus dari erupsi memiliki karakter dan rentang waktu yang berbeda-beda. Ketidaksamaan dampak dan waktu dari erupsi perlu dikaji lebih dalam, karena adanya erupsi itu banyak wisatawan yang menginginkan menyaksikan langsung kejadian tersebut. Terutama wisatawan mancanegara yang masuk dalam kategori wisatawan minat khusus (adventourer). Penelitian yang dilakukan di Kawasan Rawan Bencana Gunung Merapi bagian selatan (wilayah Kabupaten Sleman) ini diterapkan pada pentahapan tingkat kegiatan gunungapi tingkat aktif normal. Tujuan penelitian adalah mendiskripsikan titik-titik potensial yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata di kawasan yang rawan akan bencana gunung berapi serta mengkaji strategi pengembangan pola ruang kepariwisataan yang sesuai dengan karakter atau kondisi Gunung Merapi sebagai gunung yang aktif dan memiliki tingkat ancaman tinggi terhadap wilayah sekitarnya. Penelitian dibatasi berdasarkan variabel serta diturunkan sebagai indikator-indikator dalam penelitian. Data diperoleh dengan metode tertulis dengan tipe kuosioner terbuka, metode lisan atau interview yang telah disiapkan beberapa pertanyaan sebelumnya yang menyangkut permasalahan penelitian serta didukung data sekunder berupa metode dokumentasi. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif yang disebut juga dengan penelitian kualitatif yang berfungsi hanya untuk mengetahui keadaan dari yang diteliti. Teknik pengambilan sampel secara purposif di 33 (tiga puluh tiga) lokasi yang meliputi: 4 (empat) kategori wisata alam, 22 (dua puluh dua) wisata budaya, dan 7 (tujuh) kategori wisata khusus. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif. Untuk mengkaji pola adaptasi yang sesuai bagi pengembangan pariwisata di kawasan rawan bencana gunung Merapi. Analisis untuk mengetahui pola adaptasi yang sesuai dengan mengidentifikasi antara lain: 1) Sebaran ODTW Beserta Sarana dan Prasarana, 2) Sebaran ODTW Beserta Jalan Evakuasi, 3) Zona Wisata Berdasarkan Lokasi dan Jenis ODTW, 4) Zona Wisata Berdasarkan Tema/Karakter ODTW, 5) Zona Wisata Berdasarkan Rekomendasi KRB dari PVMBG, serta 6) Gabungan Zona Wisata Berdasarkan Kedekatan Lokasi Objek Wisata, Karakter/Tema, Jenis dan Rekomendasi KRB dari PVMBG. Menghasilkan sebaran ODTW di Kawasan Merapi Bagian Selatan (Kecamatan Turi, Pakem Dan Cangkringan) beserta hub, entry point, maupun arah tujuan wisatanya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah moment terjadinya erupsi sebagai peluang pemanfaatan kegiatan pariwisata untuk memulihkan gairah perputaran roda ekonomi masyarakat setempat, yang lebih tanggap akan bencana kegunungapian Merapi dengan mengadaptasi berbagai hal, antara lain: pengendalian pemanfaatan lahan terdampak, pelestarian artefak dampak erupsi sebagai sarana pembelajaran, memanfaatkan siklus pergantian musim hujan dan panas untuk meminimalkan bahaya dari bahaya bencana primer maupun sekunder bagi kegiatan pariwisata, penetapan tema-tema untuk pengembangan, pengelompokkan zona wisata dan titik-titik penghubungnya, penetapan jalur wisata yang diharapkan dapat memudahkan pendataan-distribusi wisatawan- koordinasi penawaran paket wisata di lokasi-lokasi wisata potensial- mengenalkan beberapa lokasi yang belum diketahui dengan baik oleh wisatawan. Kata kunci : Gunung Merapi, Kawasan Rawan Bencana, pola keruangan kepariwisataan

This research was conducted in Merapi volcano touristic area, which is coincided as Merapi disaster-prone area. The potency of Merapi volcano as tourist attraction is inseparable from its inherited eruption risks. Moreover, various eruption cycle owns its characteristics, each of which is with its different span. Indeed, the eruption impacts and time period indifferences are necessarily to be well investigated since the tourists - mainly the foreign tourists and the adventurer or tourist with particular interest - who eagerly like to witness the in time eruption occurrence. This research particularly conducted at the southern part of Merapi volcano Disaster Prone Areas in the regency of Sleman and was applied according to the volcanic activity phases in normal levels. It aims to describe potential points that will be developed as a touristic place in Merapi volcanic eruption prone areas and to examine the spatial pattern of tourism development strategies which suit to Merapi volcano - that has been acknowledged to be an active volcano with high level of disaster threat impacts to its surrounding area. This research as well as limited to variables derived as indicators in the study. The data was derived through written method with open questions questionnaire, oral or interview methods. The carried questions have however previously arrange according to the research problems and then supported with secondary data acquired through documentation. The study used a descriptive approach namely as qualitative research, that strictly applied to determine the investigated circumstances only. The data collection was acquired due to purposive sampling technique in 33 (thirty three) locations which includes : 4 (four) categories of nature , 22 (twenty two) cultural tourism , and 7 (seven) categories of special tours. Data were analyzed qualitatively in order to examine the appropriate adaptation pattern for the tourism development in Merapi volcano disaster-prone areas. Furthermore, the carried analysis were namely as: 1) Distribution of ODTW together with infrastructure, 2) Distribution of ODTW Evacuation Along the Way , 3) Tour Zone due to location and ODTW types, 4) Tour Zone due ODTW Themes/Characteristics, 5) Travel Zone Based On PVMBG KRB Recommendations, and 6) Joint Travel Zone Based On Attraction by Location Proximity, Characteristics / themes, the KRB type and Recommendation from PVMBG. Results of these analyses are the distribution of ODTW Merapi in Central Southern Section (District Turi , Pakem and Cangkringan ) with its hub, entry points, and the direction of tourist destination. This research conclude that Merapi eruption occurance is potentialy to be developed as touristic area in order to re-energize the economic wheel of the local community. The community has becoming used to and aware to Merapi volcano disaster by adapting various things such as : control of the affected land use , preservation for the impacted artifacts as a learning tool , take advantage of turning rainy and dry seasons to, minimize the danger of dangers for primary and secondary disaster tourism activities, the determination of the themes for the development , tourism zone grouping and connecting the dots , the determination of the tourist route is expected to facilitate the distribution of data collection - tourist - coordination offers tour packages in potential tourist sites - introducing some locations that are not well understood by tourists. Keywords : Merapi volcano, disaster prone areas, spatial patterns of tourism

Kata Kunci : Gunung Merapi, Kawasan Rawan Bencana, pola keruangan kepariwisataan; Merapi volcano, disaster prone areas, spatial patterns of tourism


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.