Laporkan Masalah

PROSES KONSOLIDASI RUANG DESA WISATA BERBASIS PATEMBAYAN Studi Kasus: Desa-Desa Wisata Di Sekitar Candi Borobudur

SUZANNA RATIH SARI, MM.,MA., Prof. Ir. Nindyo Soewarno, M.Phil. Ph.D.

2015 | Disertasi | S3 ILMU ARSITEKTUR

Konsolidasi ruang desa wisata merupakan suatu proses perubahan dalam penentuan tata ruang desa wisata. Proses konsolidasi ruang tersebut sangat dipengaruhi oleh keberadaan organisasi sosial desa yang modern atau yang dikenal sebagai organisasi patembayan. Keberadaan kelompok yang terdiri dari masyarakat yang berpikiran modern dan berkeinginan untuk terciptanya perubahan desa yang memiliki nilai ekonomis pastinya sangat menentukan keberhasilan proses konsolidasi. Bentuk respon dari masing-masing kelompok terhadap variable pariwisata menjadi sangat berbeda manakala variable local seperti halnya latar belakang masyarakat memberikan warna yang bervariasi antra konsolidasi di ketiga desa wisata. Desa Candirejo, Wanurejo dan Karanganyar yang dicanangkan sebagai desa wisata di Jawa Tengah tadinya terabaikan dan tidak banyak diminati oleh wisatawan karena kondisinya, sejak saat itu mulai dikunjungi oleh wisatawan. Sementara masyarakat merespon pariwisata dengan melakukan kegiatan konsolidasi ruang desa yang berbeda pula sesuai penerapan konsep patembayan dalam kelompok desa wisata. Secara prinsip kegiatan konsolidasi ruang desa wisata melibatkan secara menyeluruh peran serta masyarakat dan asset desa. Untuk mengkaji secara detail proses konsolidasi ruang desa wisata maka dalam penelitian ini digunakan metode “Studi Kasus ” seperti yang ditawarkan oleh Yin yang bertujuan mengorientasikan kembali penjelasan kausal bagi perilaku manusia menjadi strategi untuk menemukan interpretasi dan makna dalam tindakan manusia. Studi kasus di fokuskan pada Desa Wisata Candirejo, Wanurejo dan Karanganyar yang secra prinsip ditentukan karena memiliki persamaan sebagai desa wisata tetapi memiliki perbedaan yang cukup signifikan diantara ketiganya. Adapun luaran dari penelitian ini adalah teori tentang konsolidasi ruang desa wisata berbasis patembayan. Konsep kelompok masyarakat patembayan/gesselscaft telah merubah cara berpikir masyarakat dalam menindaklanjuti kegiatan pariwisata. Berbagai bentuk respon yang diberikan dari masing-masing desa wisata penelitian telah memberikan pembelajaran tentang konsolidasi desa wisata yang tetap harus mempertimbangkan tidak hanya keterlibatan masyarakat secara aktif, peran local leader yang mampu berperan sebagai cultural breaker namun juga ketepatan konsep kelompok social yang mewadahinya. Kata Kunci: Konsolidasi Ruang, Desa Wisata, BOROBUDUR, Patembayan

Space Consolidation of tourism village is a process of change in the determination of spatial tourist village. Space consolidation process is highly influenced by the presence of a social organization or a modern village known as patembayan organization. The existence of a group of community-minded and willing to create a modern village changes that have economic value. There are many kinds of response of each tourism village social group. All depend on local variables such as the background of the people. This condition will further color the three tourism village space consolidations. Candirejo village, Karanganyar and Wanurejo that launched as tourism village in Central Java had been neglected for such a long time and not much in demand by tourists because of its condition. Now, the condition become different since they began to be visited by tourists. While the responds of the local people as the host is to run tourism space consolidation activities according to the implementation of patembayan concept in their tourism village group. In principle, tourism village space consolidation involving thorough public participation and rural assets. To examine in detail the process of space consolidating of tourism village in this study used the method of \\" Case Studies \\" as offered by Yin that aimed at reorienting causal explanations for human behavior becomes a strategy to find the interpretation and meaning in human action . This view does not reject the existence of the material world, but believes that it would be the best way to understand the material world , social and human culture , the ways to listen to the people who live in a society to explain and understand the institutions , customs and their habits . The case study focused on Candirejo Tourism Village, Wanurejo and Karanganyar which has similarity as a tourist village but also has significant differences among the three. The outcome of this study is the theory of spatial consolidation of Tourism Village Based on Patembayan Concept. The concept of patembayan groups / gesselscaft has changed the way people think in following tourism activities. Various forms of the response given from each tourist village studies have provided learning about the space consolidation of the tourism village that still has to consider not only the active community involvement , the role of local leaders that capable of acting as a cultural breaker but also embodies the concept of social groups . Keywords : Tourism , Spatial Consolidation of Tourism Village, Patembayan Social Group

Kata Kunci : Konsolidasi Ruang, Desa Wisata, BOROBUDUR, Patembayan; Tourism , Spatial Consolidation of Tourism Village, Patembayan Social Group


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.