RELASI KUASA UNMET NEED DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN KELUARGA BERENCANA: Studi di Kecamatan Gondomanan Kota Yogyakarta
FESTIKA SARI, Prof. Dr. Muhadjir Darwin, M.P.A.
2015 | Tesis | S2 STUDI KEBIJAKANTerdapat perubahan paradigma baru Program KB Nasional dari pendekatan pengendalian populasi dan penurunan fertilitas lebih kearah pendekatan kesehatan reproduksi dengan memperhatikan hak-hak reproduksi dan keadilan gender. Dalam konsep baru tersebut penanganan kesehatan reproduksi menjadi lebih luas, antara lain pemenuhan kesehatan reproduksi setiap individu, baik laki-laki maupun perempuan sepanjang siklus hidupnya, termasuk hak-hak reproduksi perempuan, kesetaraan gender dan masalah tanggungjawab laki-laki dalam kesehatan reproduksi,termasuk keluarga berencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika gender unmet need berpengaruh terhadap kondisi unmet need di Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta. Secara khusus bertujuan untuk mengetahui kondisi unmet need dan pengaruh relasi gender unmet need terhadap kondisi unmet need di Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Metode pengumpulan data dilakukan trianggulasi dengan menggabungkan beberapa teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Data diambil secara purposive sampling sesuai kriteria yang diinginkan. Hasil penelitian menunjukkan unmet need di Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan sebagian besar merupakan kelompok umur tua, yaitu pada kelompok umur 30-49 tahun dengan jumlah yang terbanyak adalah kelompok unmet need Tidak Ingin Anak Lagi (TIAL). Unmet need mempunyai jumlah anggota keluarga yang kecil dengan jarak anak yang cukup jauh sesuai dengan norma dua anak cukup. Keterlibatan laki-laki masih terkesan minim. Selama ini bentuk partisipasi suami dalam ber-KB adalah partisipasi yang tidak langsung. Istri masih mempunyai pemahaman bahwa penggunaan KB adalah kewajiban istri, bahkan tingkat pendidikan istri yang tinggi tidak menjadikan pemahamannya berubah. Istri sudah memiliki posisi tawar untuk menegosiasikan keinginan mereka suami mereka. Sikap unmet need untuk tidak menggunakan kontrasepsi maupun menghentikan penggunaan kontrasepsi berakar dari penolakan istri terhadap kontrasepsi. Penolakan istri menggunakan kontrasepsi disebabkan karena alasan takut efek samping, trauma paska melahirkan dan karena resiko kesehatan dari penggunaan kontrasepsi. Kata Kunci: unmet need, relasi kuasa, keluarga berencana.
There was a new paradigm of the National Family Planning Program from the population control and fertility decline approach to reproductive health approach to reproductive rights and gender equality concern. The new concept of reproductive health had more widespread care, such as the fulfillment of reproductive health of individuals, both men and women throughout their life cycle, including women's reproductive rights, gender equality and issues of responsibility of men in reproductive health, including family plannings. This research aimed to figure out the dynamic gender of unmet need affected the condition of unmet need in Kelurahan Prawirodirjan, Gondomanan District, of Yogyakarta Municipality. The specific aims were to determine the condition of unmet need and gender relations of unmet need influenced the condition of unmet need in Kelurahan Prawirodirjan, Gondomanan District, of Yogyakarta Municipality. Qualitative approach was used for this research with the method of case study. The data collection method was done by triangulation by combining multiple data collection techniques such as interviews, observation and documentation. Data were taken by purposive sampling based on to the criteria desired. The results showed that most of unmet need in the Kelurahan Prawirodirjan, Gondomanan District were older age groups between 30-49 years old. The highest number was coming from not wanting child any more group ( TIAL ). Unmet need had a small number of family members and the spacing of each child was far enough. This was appropriate with the norm of two childs are enough. The involvement of men were lack. Husband's participation in family planning was indirect participation. There was still wives who had understanding that the use of birth control is the their obligation, even higher levels of education of wives do not make understanding change. However, the wives already had bargaining power to negotiate their desire toward their husbands. The attitude of not using contraception were rooted from wives’s rejection of using contraception. Wives's rejection to use contraceptives due to their fear of side effects, post-natal trauma and health risks from the use of contraception. Key words: unmet need, power relation, family planning
Kata Kunci : unmet need, relasi kuasa, keluarga berencana; unmet need, power relation, family planning