Analisis Biaya Penanganan Jalan Nasional Berdasarkan Kondisi Kerusakan Jalan dan Modulus Efektif Perkerasan: Studi Kasus: Ruas Jalan Nasional 017.11(K) Jalan By Pass Demak
FEMY ARIZONA, Prof. Dr. Ir. Agus Taufik Mulyono, M.T. ATU.
2014 | Tesis | S2 Sistem dan Teknik TransportasiPemilihan metoda penanganan kerusakan jalan di Indonesia sering kurang tepat. Penanganan kerusakan jalan dengan overlay yang dihitung berdasarkan modulus efektif perkerasan sering dipilih sebagai solusi cepat penanganan kerusakan jalan. Penanganan kerusakan jalan yang bersifat struktural tidak bisa dilaksanakan hanya dengan overlay, akan tetapi diperlukan perbaikan struktural dari perkerasan tersebut, apabila hal ini tidak dilaksanakan maka perkerasan baru akan mengalami kerusakan dengan cepat. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab biaya satuan pemeliharaan jalan nasional selalu naik dan lebih tinggi dari standar internasional. World Bank (2011) mengemukakan bahwa biaya satuan pemeliharaan jalan di Indonesia menjadi salah satu yang tertinggi di dunia. Jalan di Indonesia juga memiliki pola kerusakan berulang (tipe dan lokasi kerusakan sama), hal ini disebabkan oleh tidak pernah dilakukan survei mendalam untuk mengidentifikasi jenis kerusakan jalan dan tingkat keparahannya sebagai langkah awal untuk menentukan opsi perbaikan. Penelitian dilakukan dengan melaksanakan survei kondisi kerusakan jalan pada ruas nomor 017.11(K) jalan by pass Demak untuk mengidentifikasi jenis kerusakan, tingkat keparahan dan kuantitas kerusakan. Hasil survei dianalisis menggunakan metoda PCI untuk menentukan opsi perbaikan dan menghitung kebutuhan biaya dari opsi perbaikan tersebut, kemudian dibandingkan dengan kebutuhan biaya overlay yang dianalisis berdasarkan modulus efektif perkerasan dengan metoda AASHTO (1993) serta kebutuhan biaya overlay yang dianalisis dengan metoda Bina Marga (2005). Perhitungan kebutuhan tebal overlay metoda AASTHO (1993) dan Bina Marga (2005) berdasarkan uji lendutan yang dilaksanakan dengan alat Fallling Weight Deflectometer (FWD). Hasil perhitungan kebutuhan biaya menunjukkan bahwa rasio antara kebutuhan biaya pemeliharaan rutin dengan biaya kebutuhan overlay metoda AASHTO (1993) sebesar 0,71%, rasio antara kebutuhan biaya rekonstruksi dengan biaya kebutuhan overlay metoda AASHTO (1993) sebesar 214,44% untuk ruas nomor 017.11(K) jalan by pass Demak arah Kudus, sedangkan untuk arah Semarang rasio antara kebutuhan biaya pemeliharaan rutin dengan biaya kebutuhan overlay metoda AASHTO (1993) sebesar 2,55%, rasio antara kebutuhan biaya rekonstruksi dengan biaya kebutuhan overlay metoda AASHTO (1993) sebesar 224,03%. Rasio antara kebutuhan biaya pemeliharaan rutin dengan biaya kebutuhan overlay metoda Bina Marga (2005) sebesar 0,78%, rasio antara kebutuhan biaya rekonstruksi dengan biaya kebutuhan overlay metoda Bina Marga (2005) sebesar 321,50% untuk ruas nomor 017.11(K) jalan by pass Demak arah Kudus, sedangkan untuk arah Semarang rasio antara kebutuhan biaya penanganan pemeliharaan rutin dengan biaya kebutuhan overlay metoda Bina Marga (2005) sebesar 2,81%, rasio antara kebutuhan biaya penanganan rekonstruksi dengan biaya kebutuhan overlay metoda Bina Marga (2005) sebesar 324,67%. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pertimbangan dalam menentukan program pemeliharaan jalan, sehingga ke depan metoda penanganan kerusakan jalan menjadi lebih tepat dan optimal. Kata kunci: kondisi kerusakan jalan, modulus efektif perkerasan, overlay
Selection method of pavement distress improvement in Indonesia are often less precise. Pavement distress improvement with an overlay that is calculated based on effective modulus of the pavement is often chosen as a quick solution to repair pavement distress. The improvement of structural distress can not be carried out only with the overlay, but necessary structural repairs of the pavement, if this is not done then the new pavement will deteriorate quickly. It became one of the causes of the national road maintenance unit costs are always rising and higher than international standards. World Bank (2011) suggested that the unit cost of road maintenance in Indonesia has become one of the highest in the world. Roads in Indonesia also has a pattern of repeated deterioration (type and location of the deterioration the same), this is caused by the error survey to identify the type and severity of road damage as a first step to determine the repair option. Research carried out by conducting a the condition survey of the pavement distress on road number 017.11 (K) by-pass Demak road to identify the type of distress, the severity and quantity of distress. The survey results were analyzed using the PCI method to determine repair options and calculate costs needs of the repair option, and then compared with the overlay costs are analyzed based on the effective modulus of the pavement with AASHTO method (1993) as well as overlay costs are analyzed by the method of Bina Marga (2005). The calculation of thick overlay of AASTHO (1993) method and Bina Marga (2005) method are base on the deflection test conducted by fallling Weight deflectometer (FWD). The calculation result shows that the ratio between routine maintenance costs and overlay costs of AASHTO (1993) method is 0.71%, the ratio between reconstruction costs and overlay costs of AASHTO (1993) method is 214.44% for 017.11(K) link numbers the by-pass Demak roads, Kudus direction, whereas for Semarang direction shows that ratio between routine maintenance costs and overlay costs of AASHTO (1993) method is 2,55%, the ratio between reconstruction cost and overlay costs of AASHTO (1993) method is 224, 03%. The ratio between routine maintenance costs and overlay costs of Bina Marga (2005) method is 0.78%, the ratio between reconstruction costs and overlay costs of Bina Marga (2005) method is 321.50% for 017.11(K) link number by pass Demak roads, Kudus direction, whereas for Semarang direction shows that ratio between routine maintenance costs and overlay costs of Bina Marga (2005) method is 2.81%, the ratio between reconstruction costs and overlay costs of Bina Marga (2005) method is 324, 67%. The results of this study are expected to be taken into consideration in determining the road maintenance program, so that the forward method of treating distress roads become more precise and optimal. Keywords: pavement distress, effective modulus of the pavement, overlay
Kata Kunci : kondisi kerusakan jalan, modulus efektif perkerasan, overlay; pavement distress, effective modulus of the pavement, overlay