REVITALISASI KAWASAN PUSAKA KOTA LAMA SEMARANG
RISTYA ARINTA S, Dr. Ir. Laretna T. Adhisakti, M.Arch.
2015 | Tesis | S2 Teknik ArsitekturKawasan pusaka merupakan aset dan bukti perkembangan kota yang seringkali diletakan bersebrangan dengan pembangunan kota. Kebutuhan ruang yang semakin tinggi dan sulitnya pemeliharaan kawasan pusaka merupakan ancaman yang tidak terelakan. Untuk dapat bertahan, kawasan pusaka harus masuk dalam rencana pembangunan kota karena aset bangunan dan lingkungannya masih dapat dimanfaatkan tanpa harus merusak atau mengurangi nilainya. Pemanfaatan kembali kawasan pusaka dapat dilakukan secara maksimal melalui revitalisasi. Revitalisasi merupakan upaya pengembalian vitalitas kawasan dengan memasukan fungsi dan aktivitas baru. Seperti halnya yang dilakukan Pemerintah Kota Semarang terhadap kawasan pusaka Kota Lama Semarang. Berbagai upaya revitalisasi telah dilakukan namun kematian kawasan masih belum teratasi sepenuhnya. Penelitian ini merupakan penelitian deduktif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian berangkat dari sebuah teori kemudian dibuktikan dengan pencarian fakta di lapangan. Teori yang digunakan adalah instrumen penataan dan pelestarian kawasan pusaka. Sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan metode kualitatif. Dalam penelitian ini, peneliti berusaha mengetahui penyebab kurang berhasilnya upaya revitalisasi Kota Lama Semarang dan bagaimana menyelesaikan permasalahan di lapangan dengan aplikasi teori. Dari penelitian yang telah dilakukan diketahui faktor-faktor penyebab kurang berhasilnya upaya revitalisasi kawasan Kota Lama Semarang antara lain program revitalisasi yang ada belum menyeluruh dan belum maksimal mengatasi kematian kawasan. Potensi penataan ruang dan aktivitas yang ada juga belum dimanfaatkan secara maksimal.
Heritage area is an asset and evidence of city development which often placed across the city growth. Higher space requirements and the difficulty of maintaining heritage assets is a threat that is not inevitable. In order to survive, the heritage area must be included in the city development plan because its building and environment can still be used without having to destroy or reduce its value. Reuse of heritage area can be maximized through revitalization. Revitalization is an effort to re-enter the vitality of an area with new functions and activities. Like the Semarang City Government towards the Kota Lama Semarang. Various attempts of revitalization have been made but the area's death is still not fully resolved. This research is using deductive qualitative approach. The study departs from a theory later proved by finding facts on the ground. The theory used is the instrument of setup and conservation heritage area. While the data collection was conducted with qualitative methods. In this study, researchers sought to determine the cause of less successful efforts to revitalize the Kota Lama Semarang and how to solve problems in the field with the application of the theory. From the research that has been conducted in mind the factors that cause less successful efforts to revitalize the Kota Lama Semarang are the revitalization program is not exhaustive and not maximal resolving the area’s death. The potential of spatial planning and activities are also not fully utilized.
Kata Kunci : revitalisasi, instrumen pusaka, Kota Lama Semarang