RETHINKING COMMUNITY FORESTRY PROGRAM: CURRENT SITUATION AND FUTURE ISSUES IN GUNUNGKIDUL, INDONESIA
AGUNG WIDIATMOKO, Ir. Suryanto, MSP.
2014 | Tesis | S2 Perencanaan Kota dan DaerahHutan kemasyarakatan (HKm) telah dipromosikan sebagai program yang baik untuk memecahkan masalah deforestasi dan kemiskinan di pedesaan. Program ini telah dilaksanakan selama lebih dari 10 tahun di Indonesia, namun belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi karakteristik hutan kemasyarakatan, menjelaskan manfaat bagi masyarakat lokal dari hutan kemasyarakatan, dan membuat penilaian terhadap situasi saat ini. Untuk mencapai tujuan penelitian, kami sengaja memilih 129 responden anggota hutan kemasyarakatan di Kabupaten Gunungkidul dan menganalisis faktor-faktor sosial ekonomi, faktor demografi, kegiatan responden, dan manfaat dari hutan kemasyarakatan. Hasil menunjukkan bahwa anggota program hutan kemasyarakatan dapat ditandai dengan tingkat pendidikan yang rendah, dengan mayoritas adalah petani dan memiliki pendapatan rendah. Anggota tidak bisa mendapatkan manfaat lebih dari hutan sekarang meskipun memainkan peran aktif dalam hutan kemasyarakatan. Mereka tidak bisa melakukan tumpangsari lagi dan tidak bisa memanen kayu. Masalah hutan kemasyarakatan di Kabupaten Gunungkidul adalah manfaat kecil yang diperoleh dari hutan dan rendahnya pengetahuan masyarakat tentang metode pemanenan kayu. Pemerintah diharapkan memberikan pendidikan dan pelatihan kepada anggota secara kontinu dimana dapat menciptakan kegiatan ekonomi dari hutan. Pemerintah juga harus menjaga kepastian pemanenan kayu, yang merupakan hak anggota. Ini berarti bahwa pemerintah harus memberikan pelatihan tentang penebangan kayu untuk anggota, dan peraturan mengenai penebangan kayu tidak boleh rumit dan harus mudah dilaksanakan dan diterapkan oleh anggota. Kata kunci : hutan kemasyarakatan, kemiskinan, anggota Hkm, Gunungkidul
Community forestry has been promoted as a good program for solving the problems of deforestation and rural poverty. This program has been implemented for more than 10 years in Indonesia, but it has not yet shown satisfactory results. This study aims to explore characteristics of community forestry, clarify benefits for local peoples from community forestry, and make an assessment of the current situation. To achieve the objective of the study, we purposely chose 129 respondents in Gunungkidul Regency and analyzed socioeconomic factors, demographic factors, the activities of respondents, and the benefits from community forestry. The results show that members of community forestry programs can be characterized by a low level of education, with the majority being farmers and having a low income. Members cannot gain more benefits from forestland now in spite of playing an active role in community forestry. They cannot do intercropping anymore and cannot harvest timber. The problems of community forestry in Gunungkidul Regency are the small benefits from forestland and low levels of knowledge of timber-harvesting methods. Giving education and training to members is needed; this could create economic activities from the forest. The government should also maintain the certainty of timber harvesting, which is the right of members. This means that the government should provide training on timber harvesting for members, and regulations regarding timber harvesting should not be complicated and should be easily implemented and applied by members. Keyword : community forestry, rural poverty, members, Gunungkidul
Kata Kunci : community forestry, rural poverty, members, Gunungkidul; hutan kemasyarakatan, kemiskinan, anggota Hkm, Gunungkidul