EVALUASI KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGELOLAAN SAMPAH DI KAWASAN PERKOTAAN YOGYAKARTA
ARIA NUGRAHADI,ST, Prof. Ir. Achmad Djunaedi, M.U.R.P., Ph.D.
2014 | Tesis | S2 Perencanaan Kota dan DaerahBeban Tempat Penampungan Akhir (TPA) Sampah Piyungan yang mencapai 200-300 ton sampah/hari diprediksi umur operasionalnya kurang dari 10 tahun sehingga dibutuhkan upaya pengurangan volume sampah secara sungguh-sunguh sejak dari sumber. Keberadaan infrastruktur sampah ramah lingkungan menjadi prioritas dan strategis untuk dilaksanakan Pemerintah DIY, khususnya untuk mereduksi timbulan sampah yang langsung dibawa ke TPA Piyungan dan mewujudkan penanganan sampah di Kawasan Perkotaan Yogyakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan kondisi eksisting sarana dan prasarana persampahan pada Kawasan Perkotaan Yogyakarta (KPY), (2) memetakan secara spasial prasarana sebaran infrastruktur persampahan eksisting di Kawasan Perkotaan Yogyakarta, (3) mengevaluasi strategi penyediaan infrastruktur sampah di Kawasan Perkotaan Yogyakarta, dan (4) menduga faktor-faktor yang mempengaruhi strategi penyediaan infrastruktur persampahan tersebut. Teknik analisis menggunakan metode evaluasi dengan pendekatan perencanaan rasional menyeluruh atau rational comprehensive approach. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh hasil bahwa total jumlah sarana dan prasarana persampahan di Kawasan Perkotaan Yogyakarta adalah 232 unit, terbagi menjadi 2 kewenangan yaitu kewenangan provinsi dan Kabupaten/Kota. Kewenangan Provinsi meliputi TPST sejumlah 17 unit dan Kewenangan Kabupaten/Kota meliputi TPS sejumlah 143 unit, kontainer sejumlah 15, LDUS sejumlah 3 unit dan depo sejumlah 18 unit. Penyebaran infrastruktur persampahan belum merata di semua wilayah di Kawasan Perkotaan Yogyakarta. Sebagian besar masih terpusat di Kota Yogyakarta, untuk melayani di pusat-pusat kegiatan seperti pasar, terminal, tempat wisata, dan permukiman. Penyediaan infrastruktur persampahan tertuang dalam RPJMD tahun 2012 -2017 dengan target awal capaian tahun 2012 sebesar 45 %. Hasil dari analisis dari data infrastruktur persampahan diketahui bahwa jumlah Infrastruktur sampah ramah lingkungan hanya sebanyak 20 unit atau 8,6 %, artinya masih jauh dari target awal capaian setiap tahun yang ditetapkan pada RPJMD tahun 2012 – 2017 yaitu sebesar 45 %. Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi adalah: (1) belum adanya skema supply dan demand dalam pemenuhan penyediaan infrastruktur persampahan, (2) desain awal infrastruktur persampahan adalah infrastruktur sampah metode konvensional sehingga dengan adanyanya amanat RPJMD untuk pengelolaan sampah dengan metode ramah lingkungan mengakibatkan gap menjadi besar; (3) ketersediaan lahan di perkotaan yang terbatas untuk pengembangan sampah berbasis ramah lingkungan sehingga diperlukan langkah pengurangan/pemilahan sampah di rumah tangga yang memerlukan proses yang panjang baik dari sosial maupun budaya membuang sampah, dan (4) perhatian masyarakat di luar Kota Yogyakarta terhadap infrastruktur persampahan masih rendah. Kata Kunci: Kawasan Perkotaan Yogyakarta (KPY), infrastruktur sampah ramah lingkungan, evaluasi strategi infrastruktur persampahan
Due to the prediction of the capacity of Piyungan landfill waste that reaches 200-300 tons per day and remains less than 10 years for operational life, a seriously effort is taken to reduce the volume from source. Therefore, the existence of environmentally green waste becomes a strategic priority for the DIY Government. The concerns are particularly to reduce waste generation which is directly brought to the landfill Piyungan and to realize the waste management in Yogyakarta urban region. This study aims to (1) Understand the condition of the existing waste infrastructure in Yogyakarta urban region, (2) Map the spatial distribution of the existing waste infrastructure in Yogyakarta urban region, (3) Evaluate to the strategy of providing waste infrastructure in Yogyakarta urban region, and (4) Determine factors that may affect the solid waste infrastructure. The study uses evaluation methods with a thorough rational comprehensive approach. Based on the results, there are 232 units of solid waste infrastructure in Yogyakarta which divided into 2 authorities namely provincial and city. The provincial covers 17 units, while the city has 143 units, 15 containers, 3 LDUS, and 18 DEPO units. Furthermore, result shows that the waste infrastructure has not been evenly distributed across all regions in Yogyakarta urban region. This is due to the fact that the placement is still largely centralized in the city of Yogyakarta which serves some public activities such as markets, terminals, tourist attractions, and housings. It is stated in RPJMD 201-2017 that the provision of waste infrastructure is planned with in an initial target achievement of 45 % by 2012. The study finds that solid waste infrastructure for environmentally green waste only reaches 20 units or 8.6%. This means that this result is still far below the initial target of 45 %. The factors that affect are: (a) the absence of supply and demand in the provision of waste infrastructure, (b) a big gap between the initial design of solid waste infrastructure conventional method and the mandate of RPJMD waste management. (3) the limitation of the land availability in urban areas for waste management development based environmentally green waste which needs reducing and sorting household waste and requires a long process of social and cultural well waste disposal, (4) low attention from people outside Yogyakarta city on waste infrastructure. Keywords: Yogyakarta urban region, environmentally green waste infrastructure, evaluation of solid waste infrastructure strategy
Kata Kunci : Kawasan Perkotaan Yogyakarta (KPY), infrastruktur sampah ramah lingkungan, evaluasi strategi infrastruktur persampahan; Yogyakarta urban region, environmentally green waste infrastructure, evaluation of solid waste infrastructure strategy