Laporkan Masalah

HUBUNGAN TINGKAT KEPARAHAN CEDERA KEPALA DENGAN KEJADIAN EPILEPSI PASCA CEDERA KEPALA PADA PASIEN RSUP DR SARDJITO TAHUN 2012

FELIX GUNAWAN, Prof. Dr. dr. Hj. Sri Sutarni Sudarmadji, Sp.S(K) ; dr. Hj. Cempaka Thursina, Sp.S(K)

2014 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTER

INTISARI Latar Belakang: Cedera kepala merupakan salah satu kasus medis dengan angka kejadian yang cukup tinggi di dunia mencapai kurang lebih 2 juta kasus per tahunnya. Cedera kepala juga merupakan penyebab kematian tersering keempat di seluruh populasi masyarakat. Selain itu, Penanganan medis yang diberikan kepada pasien cedera kepala juga masih belum cukup komprehensif sehingga sering dijumpai keluhan-keluhan mengenai gejala ikutan setelah kejadian cedera kepala. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat keparahan cedera kepala dan karakteristik demografis pasien seperti umur dan status gender dengan munculnya gejala epilepsi pada pasien cedera kepala. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan studi Cross-sectional yang dilakukan pada 300 pasien cedera kepala yang dirawat di RSUP Dr Sardjito pada periode Januari 2012 sampai Desember 2012. Hasil: Tidak ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat keparahan cedera kepala dengan munculnya gejala epilepsi pasca cedera kepala (p value >0,05), namun subjek cedera kepala berat (OR = 1,407) memiliki risiko lebih besar dibanding subjek cedera kepala ringan (OR = 1,275). Hasil yang diperoleh pada peninjauan dari faktor demografis pasien juga menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara faktor umur dan status gender dengan munculnya gejala epilepsi pasca cedera kepala. Tetapi pada penelitian ini diperoleh risiko berkembangnya gejala epilepsi pasca cedera kepala yang paling tinggi adalah pada subjek dengan kategori lanjut usia (OR = 1,576) dan anak-anak (OR = 1,653). Saran: Edukasi terhadap pasien cedera kepala oleh petugas pelayanan medis tentang pentingnya pemeriksaan ulang ke rumah sakit perlu ditingkatkan agar cedera kepala serta gejala ikutan pasca cedera kepala dapat tertangani dengan lebih komprehensif.

ABSTRACT Backgrounds: Traumatic brain injury (TBI) is one of the most prevalent incidents in the world, reaching the number of 2 million cases each year. Traumatic brain injury is also the fourth highest cause of death in all populations. However, medical treatment provided for patients with head injury is not comprehensive enough. As a result, post concussion syndrome is frequently complained by patients with traumatic brain injury. Objectives: The objective of this study is to assess the association between the severity of traumatic brain injury as well as the demographic characteristic of patients and the occurrence of epilepsy post traumatic brain injury. Methods: This is a cross-sectional study on 300 patients with traumatic brain injury that were treated at RSUP Dr Sardjito between January 2012 and December 2012. Results: No significant association is discovered between the severity of traumatic brain injury and the occurrence of epilepsy post traumatic brain injury (p value >0.05). However this study shows there are higher risk of developing epilepsy in severe head injury subject (OR = 1.407) than in mild head injury subject (OR = 1.275). This study also shows that elderly (OR = 1.576) and children (OR = 1.653) have higher risk of developing epilepsy post traumatic brain injury. However after further analysis, there is no significant relationship between age along with sex factor and the occurrence of epilepsy post traumatic brain injury. Suggestions: In order to be able to treat post concussion syndromes, in particular epilepsy more comprehensively, health care providers should increase the awareness of follow up importance after traumatic brain injuries.

Kata Kunci : cedera kepala, post concussion syndrome, epilepsi pasca cedera kepala


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.