PERTUNJUKAN WAYANG KULIT PURWA OLEH DALANG ANAK BIMA ANGGORO PADA FESTIVAL TEMU DALANG CILIK NUSANTARA IV DI SURAKARTA
IKE NIKEN SALINDRI, Prof. Dr. Soetarno, DEA.
2015 | Tesis | S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni RupaPertunjukan wayang kulit purwa masih mendapat tempat di hati masyarakat pendukungnya. Berbagai acara yang diselenggarakan baik oleh pemerintah, swasta, maupun perorangan menghadirkan pertunjukan wayang sebagai puncak acara. Salah satunya dalam bentuk festival yaitu pada festival Temu Dalang Cilik Nusantara IV di Surakarta. Festival ini menampilkan dalang anak dari berbagai kota di Indonesia. Sebagai bahan kajian pada dalang anak Bima Anggoro yang menampilkan lakon Wahyu Cakraningrat. Adapun yang diteliti yaitu proses mendalang dalang anak Bima Anggoro yang di dalamnya terdapat motivasi yang mendorong untuk tampil sebagai dalang serta sajian pertunjukannya. Proses belajar dalang anak Bima Anggoro dikaji dengan teori psikologi perkembangan anak. Sajian pertunjukan wayang kulit purwa lakon Wahyu Cakraningrat dianalisis menggunakan pendekatan estetika pedalangan. Kata-kata kunci : pertunjukan wayang kulit purwa, dalang anak Bima Anggoro, Wahyu Cakraningrat, estetika pedalangan, motivasi
Wayang kulit (Javanese shadow puppet) Purwa show still has a place in the hearts of puppet lover communities. Various events held either by the government, private sector, and individuals presenting a puppet show as top of the event. One of them is held in the form of the festival such as Temu Dalang Cilik Nusantara IV Festival in Surakarta. This festival featuring children puppeteers from various cities in Indonesia. As the study material on child puppeteer Bima Anggoro presenting lakon Wahyu Cakraningrat. Material observed were the process of how the child puppeteer Bima Anggoro present the puppet show in which there is the motivation that drives to appear as a puppeteer and how was the presentation of the show. Learning process of child puppeteer Bima Anggoro was reviewed by theories of psychological development of children. Presentation of wayang kulit purwa lakon Wahyu Cakraningrat was analyzed using puppetry aesthetic approaches. Key words: performance of wayang kulit purwa, child puppeteer Bima Anggoro, Wahyu Cakraningrat, puppetry, motivation
Kata Kunci : pertunjukan wayang kulit purwa, dalang anak Bima Anggoro, Wahyu Cakraningrat, estetika pedalangan, motivasi; performance of wayang kulit purwa, child puppeteer Bima Anggoro, Wahyu Cakraningrat, puppetry, motivation