Laporkan Masalah

RITUAL, SENI, DAN OLAHRAGA: KONTEKS DAN KERAGAMAN PENAMPILAN BARONGSAI DI KOTA SEMARANG PADA PERIODE 1998-2013

AGUS CAHYONO, DRS. M.HUM., Prof. Dr. Timbul Haryono, M.Sc.

2015 | Disertasi | S3 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa

Penelitian ini merupakan penelitian kajian penampilan, dengan objek material Barongsai yang khas milik masyarakat etnis Tionghoa di Kota Semarang. Tujuan penelitian ini untuk (1) mendeskripsikan bentuk, fungsi, dan makna penampilan Barongsai dalam konteks kebudayaan etnis Tionghoa Semarang, (2) menginterpretasikan penampilan Barongsai yang masih bertahan hingga era Reformasi, meskipun di era Orde Baru mendapat tekanan kuat dari penguasa (negara), (3) mendeskripsikan faktorfaktor apa yang mempengaruhi dinamika penampilan Barongsai. Metode yang diaplikasikan dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan pendekatan performance studies sebagai ‟payung teori‟ yang didasari dari sudut pandang studi kebudayaan sebagai sebuah pendekatan multidisiplin. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, observasi, wawancara dan dokumetasi. Hasil penelitian menunjukkan, pertama penampilan Barongsai mengalami perubahan pada aspek bentuk, fungsi, dan makna penampilan. Bentuk penampilan Barongsai berawal dari arak-arakan upacara ritual, kemudian mengalami perubahan dalam bentuk seni pertunjukan, selanjutnya menjadi bentuk olahraga yang dipertandingkan untuk mendapatkan prestasi juara. Perubahan bentuk penampilan Barongsai, berimplikasi pada perubahan fungsi dan makna penampian Barongsai. Fungsi penampilan Barongsai yang semula sebagai fungsi ritual, mengalami pergeseran fungsi menjadi hiburan, dan presentasi estetis. Adapun makna penampilan, ditampilkan dalam elemen-elemen yang terdiri dari tahap before performance, performance, dan after performance. Makna yang ditemukan dalam penampilan Barongsai yaitu makna religius, makna relasi, dan makna harmoni. Kedua, penampilan Barongsai mampu bertahan dari era Orba hingga era reformasi, karena sebagai media representasi hubungan harmonis antara manusia dengan Thien/Tuhan, manusia dengan leluhurnya, dan manusia dengan alamnya dalam bingkai ritual keagamaan. Ketiga, ditemukan dua faktor yang mempengaruhi dinamika penampilan Barongsai, yakni faktor intraestetik dan ekstraestetik. Faktor intraestetik dalam penampilan Barongsai dapat ditemukan dari aspekaspek di dalam seni, yang memandang karya seni secara fisik. Faktor ekstraestetik, mencakup antara lain aspek-aspek reformasi politik dari era Orba menuju era reformasi. Kesimpulannya, penampilan Barongsai berubah mengikuti perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakatnya. Perubahan politik dan sosial budaya akan berpengaruh terhadap penampilan Barongsai, baik aspek bentuk, fungsi, dan makna penampilan. Kata kunci: keragaman, penampilan, Barongsai.

This research is abaut performance, with the typical lion dance belonging to the community of Chinese ethnic in Semarang as a material object. The purpose of this research are: (1) to describe the form, function, and meaning of the lion dance performance are based on the context of Chinese ethnical culture of Semarang, (2) to interprete the lion dance performance which is still survives until the era of Reformation, although it got intense pressure from authorities of Orde Baru, (3) to describe factors which affect the dynamics of lion dance performances. The method of qualitative was applied in this study, with the approaches of performance studies and ethno choreograph as 'the umbrella of theory‟ based on the perspective of cultural studies as an interdisciplinary approach. The data collection is done through literature, observation, interview, and document. The data analysis used includes description, understanding, interpretation, and evaluation of the lion dance performances, both textual and contextual. The analysis procedure is through data reduction, data display, and conclusion or verification. The results showed that first, the lion dance performances are able to survive from the era of Reformation to the Orde Baru era, since it has been a representative medium of harmonious relationship between man and God/Thien, man with his anchestor, and man with his nature in the frame of religious rituals. Second, the lion dance appearance is changed on aspects of its form, function, and meaning. The old form of lion dance performance was for ritual ceremony procession, then it changes its functions into a part of sport competition to get champion. The changes of lion dance appearance implies to its function and meaning. The lion dance appearance first functioned as a ritual, experiencing its different functions into entertainment and aesthetic presentation. The meaning of the appearance is shown in the elements comprising the stages of before performance, performance, and after performance. The meanings that are found in the lion dance performance are religious, relationship, and harmony. Third, there are two factors that affect the dynamics of the lion dance performance, i.e. the intra-aesthetic and extra-aesthetic factors. The intra-aesthetic factors in the appearance can be seen from the aspects of art itself, which look the physical side of an art work. The extra-aesthetic factors include the political reform aspects from the reformation era to the Orde Baru one. In conclusion, the lion dance appearance is adapted to follow its changes that occur in life. The political and socio-cultural changes will affect the appearance of the lion dance, both its aspects of form, function, and meaning of appearance. Key words: diversity, the appearance, the lion dance

Kata Kunci : keragaman, penampilan, Barongsai; diversity, the appearance, the lion dance


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.