Laporkan Masalah

Identifikasi Zona Mineralisasi Emas Menggunakan Metode CSAMT

ALFIAN NUGRAHA, Dr. Budi Eka Nurcahya, M.Si

2014 | Skripsi | S1 GEOFISIKA

Penelitian menentukan zona mineralisasi emas dilakukan di Lapangan Pamoyanan. Wilayah penelitian tersebut merupakan salah satu bagian dari area Pongkor dengan prospek kandungan mineral emas (Au) dan perak (Ag). Mineral tersebut merupakan endapan bijih dari urat (vein) epitermal yang terbentuk melalui proses alterasi hidrotermal. Vein didominasi oleh mineral kuarsa, silikat, karbonat maupun perpaduan/ kombinasi antara mineral-mineral tersebut. Kandungan kuarsa yang tinggi (>40%) dijumpai pada vein Kubang Cicau dan Ciguha, proses tersebut merupakan penambahan mineral silika selama terjadinya alterasi hidrotermal yang disebut sebagai proses silisifikasi. Analisa geofisika dengan metode CSAMT dilakukan untuk mengetahui prospek zona mineralisasi emas. Area pengukuran terbagi atas tiga lintasan dengan panjang setiap lintasan 3.5 km. Metode inversi yang digunakan dalam pengolahan data tersebut dalam parameter inversi Occam, sehingga ditampilkan model resistivitas secara smooth. Prospek kemenerusan vein hingga ke permukaan dan interpretasi zona mineralisasi emas, dengan variasi kedalaman hingga ±200 m dibawah permukaan, terlihat dari tampilan resistivitas model inversi. Kompleksitas struktur sesar pada area penelitian mempengaruhi arah penyebaran vein dalam arah NW-SE. Dengan demikian, vein yang terdapat di Lapangan Pamoyanan memiliki kandungan emas dan perak dengan nilai ekonomis yang tinggi dan potensi tersebut dapat dibuktikan melalui tampilan resistivitas hasil inversi pada penelitian ini.

The observation to identify of gold mineralization zones was located on Pamoyanan Field, which is part of Pongkor area with its ore prospect of gold (Au) and silver (Ag). The ore was made by hydrothermal alteration and located on epithermal deposits in the body of veins. Veins are made by quartz, carbonates and combination of these component. High quartz quantity (>40%) of silisification are seen on Kubang Cicau and Ciguha veins. Geophysical analysis by CSAMT method is used to know its prospect of the mineralization zone divide on three observation lines, which every lines have length of 3.5 km. The method of Occam’s inversion is used in the processing of this observation’s data, so the resistivity model are shows and interpreted in smooth character. The prospect of continuing veins and gold mineralization interpretation zones (variated up to ±200 meters below the earth surface) are seen in the resistivity model inversion. Complexity of fault structures in this observation area are have influence to veins direction of spreading in NW-SE. Thereby, the economical value of minerals contain in Pamoyanan Field is high and proved by resistivity model of inversion in this observation.

Kata Kunci : Pamoyanan Field, hydrothermal alteration, epithermal deposits, veins, gold mineralization zones, Occam’s inversion


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.