DARI IDEOLOGI KE STRUKTUR KELEMBAGAAN: Studi Keterlibatan Muslim (Ortodok) dan Penghayat Kebatinan Purwa Ayu Mardi Utama dalam Struktur Kelembagaan Desa Kemiren Kabupaten Banyuwangi
LIA HILYATUL MASRIFA, Dr. M. Supraja
2015 | Tesis | S2 SosiologiPenelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji tentang pergulatan antara komunitas muslim (ortodok) dan pengahayat kebatinan PAMU di Kemiren Jawa Timur. Secara historis, latar belakang keyakinan dan ideologi yang berbeda mempengaruhi keduanya dalam melibatkan diri pada struktur kelembagaan. Menggunakan metode kualitatif deskriptif-analitik dengan pendekatan fenomenologi agama. Mengkaji tentang fenomena keagamaan yang berkaitan dengan ideologi, perebutan pengaruh keagamaan di masyarakat, sosial ekonomi dan politik. Menggunakan konsep Althusser tentang Ideological State apartus, elite-elite tertentu mulai memasukkan ideologi pada institusi-intitusi seperti agama, pendidikan, keluarga dan perangkat hukum lainya. Dalam seajarah panjang Kemiren antara penghayat kebatinan PAMU (Purwa Ayu Mardi Utama) dan Muslim membentuk suatu aliran sosio-politik yang ada dalam struktur desa. Secara ringkas bahwa dengan adanya ideologi yang berbeda mampu memecahbelahkan sektorsektor politik antara keduanya. Struktur kelembagaan dijadikan arena kontestasi Ideologi oleh keduanya. Dalam pendidikan sekolah dasar, kebijakan sekolah yang didukung oleh kebijkaan desa mewajibkan bagi siswanya untuk bisa membaca Al-quran dan pegawai serat guru menggunkan kilbab saat jam kerja, muatan ideologis yang ditanamkan sejak dini dalam pendidikan akan lebih efektif dan guru memberikan pembelajaran tentang agama Islam secara formal dan terlihat positif. Sedangkan PAMU melibatkan dirinya dalam lembaga adat dan memiliki pengaruh penting dalam kelembagaan lokal ini, dalam acara adat dan ritual keagamaan mereka memncitrakan dirinya dengan ideologinya guna mengaktualisasikan tentang keberadaan kepercayaan PAMU. Karapkali kita tahu bahwa agama Islam yang memiliki legitimasi kuat baik secara vertikal (pemerintahan) dan horinsontal (sosial) mampu mengalihkan kepercayaankepercayaan lokal yang minoritas. PAMU yang secara birokrasi tidak diakui sebagai agama menggunakan pendekatan horisontal untuk menjembatani perbedaan yang ditimbulkan oleh faktor-faktor keagamaan atau kultur sehingga mengurangi kesenjangan yang ditimbulkan oleh faktor-faktor tersebut. Kata kunci: Ideologi, Agama, Pemerintahan Desa, Lembaga Adat, penghayat Kebatinan (PAMU), Muslim (Ortodok)
This study is intended to examine about the struggle between the Muslim community (Orthodox) and psychotherapy pengahayat Kemiren PAMU in East Java. Historically, the background of different beliefs and ideologies influence both in getting involved in the institutional structure. Using qualitative methods of descriptive-analytic phenomenology of religion, the researcher examines religious phenomena related to ideology, the struggle for religious influence in society, social, economic and political. Using the concept of Ideological State apartus Althusser, certain elites began to include ideology on the institutions such as religion, education, family and other legal instruments. In the long seajarah Kemiren between psychotherapy penghayat PAMU (purwa Ayu Main Mardi) and Muslims form a socio-political stream in the village structure. Briefly, that the presence of different ideologies capable of splitting political sectors between the two. Institutional structure used as an arena of contestation ideology by both. In primary education, school policies supported by the village kebijkaan require for their students to be able to read the Koran and women employees and teachers are encouraged to use the hijab during working hours, ideologically invested early on in education will be more effective and teachers provide learning about religion Islam formally and looks more positive. And PAMU involve themselves in the customs and institutions have an important influence in this local institution, such as when the customs and religious rituals they portray themselves with the ideology of the existence of the trust to actualize PAMU. Karapkali we know that Islam has a strong legitimacy both vertically (government) and horinsontal (social) able to divert local beliefs that minority. PAMU that bureaucracy is not recognized as a religion using a horizontal approach to bridge the gap caused by religious factors or culture so as to reduce the gap caused by these factors. Keywords: Ideology, Religion, Village Government, Indigenous Institute, penghayat Kebatinan (PAMU), Muslims (Orthodox)
Kata Kunci : Ideology, Religion, Village Government, Indigenous Institute, penghayat Kebatinan (PAMU), Muslims (Orthodox); Ideologi, Agama, Pemerintahan Desa, Lembaga Adat, penghayat Kebatinan (PAMU), Muslim (Ortodok)