Laporkan Masalah

POSISI GEOMETRIK STASIUN PASANG SURUT SEMARANG BERDASARKAN HUBUNGAN FUNGSIONAL KENAIKAN MUKA LAUT DAN PENURUNAN MUKA TANAH

FAUZI JANU AMARROHMAN, Leni Sophia Heliani, S.T., M.Sc., D.Sc.; Ir. Nurrohmat Widjajanti, M.T., P.hD.

2014 | Tesis | S2 Teknik Geomatika

Peningkatan muka laut dan penurunan muka tanah di wilayah pesisir Semarang merupakan dua masalah utama yang saling berpengaruh terhadap perubahan kondisi pantai Semarang. Peningkatan muka laut yang terjadi dapat diidentifikasi menggunakan data pasang surut, sedangkan penurunan muka tanah dapat ditentukan dengan pengamatan multi-epoch GPS. Hubungan fungsional antara peningkatan muka laut dan penurunan muka tanah di stasiun pengamatan pasang surut Semarang diperlukan untuk menggambarkan kondisi riil pantai Semarang. Penelitian ini menggunakan data pasang surut laut Semarang tahun 1985 s.d. 2011 dan data pengamatan GPS di stasiun pasang surut Semarang tahun 2009, 2010, dan 2012. Pengolahan data pasang surut laut dilakukan menggunakan metode kuadrat terkecil, sedangkan data pengamatan GPS diolah menggunakan GAMIT/GLOBK. Peningkatan muka laut di stasiun pasang surut diidentifikasi amplitudo pasang surutnya untuk menghitung MSL. Penurunan muka tanah ditentukan dengan perubahan nilai vertikal permukaan tanah dibagi lama waktu pengamatan, sehingga diperoleh kecepatan penurunan tanahnya. Selanjutnya fungsi linier dibentuk antara peningkatan muka laut dan penurunan muka tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan muka laut rata-rata di stasiun pengamatan pasang surut Semarang sebesar 10 mm per tahun dengan persamaan matematis y = 8,512x - 16787. Nilai kecepatan penurunan muka tanah sebesar 53 mm per tahun dengan persamaan matematis y = -67,429x + 135841. Nilai perubahan muka laut rata-rata memiliki nilai yang lebih besar daripada nilai sebenarnya. Nilai penurunan muka tanah semakin besar di stasiun pengamatan pasang surut. Berdasarkan pengaruh dari kedua hal tersebut, dikatakan bahwa besaran hasil hubungan fungsional antara kenaikan muka laut dan penurunan muka tanah di stasiun pengamatan pasang surut Semarang adalah 63 mm per tahun dengan persamaan matematis y1 = (-0,1262.y2) - 361,0905.

Sea level rise and land subsidence in Semarang coastal area are the two main problems which influence the change in this coastal conditions. The sea level rise can be identified using tidal data, whereas the land subsidence can be determined by multi-epoch observation of GPS. Functional relationship between the sea level rise and land subsidence in Semarang tidal observation stations is required to describe the real condition of the Semarang coastal. This study used Semarang tidal data in 1985 to 2011 and the GPS observation data at Semarang tidal station in 2009, 2010, and 2012. Tidal data processing was performed using the least square method, while the GPS observation data was processed using GAMIT/GLOBK. Sea level rise in tidal station were identified the tidal amplitude to determined the MSL. The land subsidence is determined by the vertical surface movement divided by lenght of observation time, to determine the velocity. Then, the linear function is formed by mathematical relationship between the sea level rise and land subsidence. The result showed that the increasing of mean sea level at Semarang tidal observation station is 10 mm per year with a linear equation y = 8,512x - 16,707. The land subsidence rate is 53 mm per year with a mathematical equation y = -67,429x + 135841. The mean sea level has greater than the actual value. The land subsidence has increase at Semarang tidal observation station. Based on the result, the magnitude of functional relationship between sea level rise and land subsidence in Semarang tidal observation station is 63 mm per year with a mathematical equation y1 = (-0,1262.y2) - 361,0905.

Kata Kunci : sea level rise, land subsidence, functional relationship.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.