EFEKTIVITAS PROGRAM PEMBINAAN PEMASYARAKATAN OLEH LEMBAGA PEMASYARAKATAN (LAPAS) PADA NARAPIDANA KASUS PIDANA BERAT DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
MARHAENI SEKAR F P, DRS. MOHAMMAD AS'AD, S.U.
2014 | Skripsi | PSIKOLOGITujuan penelitian ini adalah mengkaji efektivitas pemenjaraan, beserta program pembinaan pemasyarakatan yang dilaksanakan di dalamnya, pada narapidana kasus pidana berat yang telah dinyatakan bersalah. Tiga Subjek berpartisipasi dalam penelitian ini: Dua Subjek masih menjalani masa pidana pada saat penelitian dilangsungkan, dipidana masing-masing dalam kasus pembunuhan dan pemerkosaan, sedangkan satu Subjek merupakan mantan narapidana yang telah menyelesaikan masa pidananya dan dipidana untuk dua kasus pembunuhan yang berbeda. Wawancara semi-terstruktur digunakan dalam pengumpulan data, untuk selanjutnya dikodifikasi dan dianalisis dengan pendekatan analisis fenomenologis interpretatif/interpretative phenomenological analysis (IPA). Ditemukan bahwa pemenjaraan dipandang sebagai pengalaman negatif yang tidak ingin dijalani lagi oleh para Subjek, sehingga dalam hal ini program pembinaan pemasyarakatan yang saat ini diterapkan efektif untuk mengembangkan perilaku patuh-hukum pada mantan narapidana, serta niat untuk berperilaku patuh-hukum pada narapidana. Namun, kepatuhan hukum belum didasari oleh internalisasi nilai-nilai hukum sehingga masih mungkin terjadi residivisme jika sistem hukum dipandang tidak memiliki otoritas atas diri individu.
The purpose of this research is to examine the effectivity of imprisonment, including treatments and rehabilitations administered within, on convicted first-degree criminals. Three prisoners participate in this research; two participants were still going through their respective terms by the time of this research, convicted for murder and rape each, and one is an ex-prisoner who has finished his term, convicted for two separate murders. Semi-structural interview was used to collect data, which afterwards is coded and analysed qualitatively using interpretative phenomenological analysis (IPA) approach. It is found that imprisonment is perceived as a negative experience that participants do not want to go through again, thus making correctional rehabilitation program currently implemented effective in developing legally desirable behavior in ex-prisoner of first-degree crime, and intention to behave in legally desirable fashion in current prisoners. However, in this regard legal compliance is not based on proper nternalization of legal values, making recidivism likely still to be commited when legal system is not perceived to be authoritative upon individuals.
Kata Kunci : lembaga pemasyarakatan, narapidana, pemasyarakatan, analisis fenomenologis interpretatif, pembunuhan, pemerkosaan, kepatuhan hukum, prison, prisoners, imprisonment, interpretative phenomenological analysis, murder, rape, legal compliance