STRATEGI PENGELOLAAN KAWASAN KOTA CINA, MEDAN, SUMATERA UTARA BERBASIS MASYARAKAT
STANOV PURNAWIBOWO, Dr. Anggraeni, M.A.
2014 | Tesis | S2 Ilmu ArkeologiKawasan Kota Cina merupakan salah satu wilayah di Pulau Sumatera yang terkait erat dengan jaringan perdagangan di Asia Tenggara dari setidaknya abad ke-12 hingga abad ke-14 Masehi. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya membuktikan bahwa kawasan tersebut pernah menjadi bandar perdagangan, pelabuhan, serta permukiman yang ramai sepanjang kurun waktu tersebut. Kawasan Kota Cina luasnya sekitar 25 ha, terdiri atas situs Danau Siombak, situs Kota Cina, situs Keramat Pahlawan, dan situs Lorong IX.Sekarang kondisinya cukup memprihatinkan, terutama dengan kian pesatnya pertumbuhan penduduk di kawasan tersebut. Penelitian ini, yang berjudul Strategi Pengelolaan Kawasan Kota Cina, Medan, Sumatera Utara Berbasis Masyarakat, bertujuan untuk menyusun suatu strategi pengelolaan terhadap kawasan Kota Cina. Strategi tersebut berorientasi pada pelestarian dan pemanfaatannya bagi masyarakat. Konsep dasar yang digunakan adalah bahwa pengelolaan (pelestarian dan pemanfaatan) kawasan arkeologi tidak dapat dilepaskan dari keberadaan masyarakat sekarang. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan keterkaitan, harapan, dan keinginan masyarakat yang tinggal di sekitarnya serta terus menerus berkomunikasi dengan mereka terkait usaha-usaha pelestarian dan pemanfaatan tersebut. Metode yang digunakan adalah dengan mengamati relasi antara kawasan dan masyarakat yang telah dan sedang berlangsung sekarang ini serta melakukan wawancara untuk menggali harapan-harapan dan keinginan-keinginan mereka. Penelitian yang telah dilakukan menghasilkan empat strategi pengelolaan yaitu, penetapan Kota Cina sebagai KCB, pembentukan wadah bersama pengelolaan, pelibatan aktif masyarakat dalam pengembangan kawasan untuk pariwisata, dan pengembangan riset. Pertama, mengingat kondisinya yang cukup mengkhawatirkan, penetapan Kota Cina sebagai Kawasan Cagar Budaya perlu segera dilakukan. Kedua, perlu pembentukan wadah bersama dalam bentuk lembaga yang dapat diakses bersama sebagai sebuah media semua stakeholders untuk saling berbagi dan memutuskan langkah-langkah yang perlu diambil dalam pengelolaan. Ketiga, masyarakat perlu dilibatkan agar mendapat keuntungan ekonomi dalam pengelolaan kawasan CB ini. Oleh karena itu, pengembangan pariwisata berbasis masyarakat merupakan strategi yang perlu segera dikembangkan. Strategi terakhir adalah pengembangan riset. Riset sangat penting nilainya, terutama untuk menjalin dan memperbaiki hubungan antara arkeologi dan masyarakat sekitar, serta pengembangan ilmu pengetahuan (kepentingan akademis). Kata Kunci: Masyarakat, Kawasan Kota Cina, Menejemen Sumberdaya Budaya
Kota Cina in North Sumatera Province is closely linked to Southeast Asian’s trading networks from at least 12th to 14th century. Archaeological research that have been done before is aims to prove that the region was once a tradding port, as well as settlement, throughout this period. Kota Cina region covers approximately 25 hectares, consisting of Danau Siombak, Kota Cina, Keramat Pahlawan, and Lorong IX sites. The sites are now threaten, especially by the rapid growth of population. This research is aims to arrange an appropriate strategy for managing the region which has a lot of valuable cultural heritage based on community interest. The strategy itself is oriented to preserve and utilize the heritage for public. The main concept is that management (preservation and utilization) of heritage regions cannot be separated from community who own or living at the same place. Consequently, interactions, relations and expectations of people who living there have to be considered. Observation and interview were conductedto know the expectations of these peoples. There are four strategies proposed in managing Kota Cina region. First is to set upthe site as cultural heritage region according to Indonesian Law No. 11 Year of 2010 about Cultural Heritage. Second is to establish an organization as a media for all stakeholders to share and decide steps needed to be taken in management. Third, developing tourism based on public interest is the third strategy to be offered. The last is to increase research, especially for keeping and improving the relationship betweenarchaeology and public, and concerning with cultural heritage of the region. Key words: Community, Kota Cina Regions, Cultural Heritage Management
Kata Kunci : Masyarakat, Kawasan Kota Cina, Menejemen Sumberdaya Budaya; Community, Kota Cina Regions, Cultural Heritage Management