Hubungan jumlah koloni Candida sp. Saliva dengan dosis radioterapi pada penderita kanker kepala dan leher (Kajian di RSUP Dr. Sardjito YOGYAKARTA)
IMAM WICAKSONO, drg. Supriatno, M.Kes, MDSc, Ph.D; drg. Hendri Susanto, M.Kes, Ph.D
2014 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTER GIGIKanker kepala dan leher merupakan 2,8% dari semua kasus keganasan yang terjadi di dunia. Perawatannya meliputi radioterapi, kemoterapi, kombinasi radioterapi-kemoterapi dan pembedahan. Radioterapi bertujuan merusak reproduksi sel-sel ganas. Radiasi dapat mengakibatkan komplikasi langsung dan bersifat permanen, antara lain mukositis, hiposalivasi, dan xerostomia yang dapat menyebabkan gangguan keseimbangan flora normal rongga mulut. Salah satunya jumlah koloni Candida sp, saliva. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan jumlah koloni Candida sp, saliva dengan dosis radioterapi penderita kanker kepala dan leher. Jenis penelitian ini adalah cross sectional observasional, subjek yang dipilih adalah penderita kanker kepala dan leher di RSUP Sardjito consecutive sampling. Sampel saliva dibawa ke Laboratorium Mikrobiologi FKH UGM untuk dibiakkan. Penanaman Candida sp. dilakukan dengan teknik pengenceran 1:104 CFU/ml dalam media Sabouraud dextrose agar dan diinkubasi selama 48 jam pada suhu 370C. Setelah 48 jam dilakukan penghitungan jumlah koloni Candida sp, saliva. Data yang didapatkan dari penelitian ini dianalisis dengan uji normalitas menggunakan Shapiro-wilk, yang dilanjutkan dengan uji korelasi Spearman. Hasil uji tersebut menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05) dengan r = 0,656. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang kuat antara jumlah koloni Candida sp. dengan dosis radiasi yang diterima pasien kanker kepala dan leher di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, yang berarti semakin tinggi dosis radioterapi yang diterima maka semakin banyak jumlah koloni Candida sp. pada saliva pasien.
Head and neck cancer has 2.8% of all malignancy cases that frequently occur in the world. The treatment includes radiotherapy, chemotherapy, combination chemotherapy and radiotherapy-surgery. Radiotherapy is aimed to disrupt the reproduction of malignant cells. Radiation may result in immediate and permanent complications, such as mucositis, hyposalivation, and xerostomia resulting oral hygiene becomes worse may cause imbalance of oral microba. The purpose of this study was to determine correlation between the number volume salivary colonies of Candida sp. and dose radiotherapy of head and neck cancer patients. This research is an observational cross-sectional study, subject was selected using consecutive sampling. Samples were brought to the Microbiology Laboratory of the Faculty to be cultured. Cultivation of Candida sp. by used dilution 1: 104 CFU / ml in Sabouraud dextrose agar medium and incubated for 48 hours at a temperature of 370C. After 48 hours the number of colonies were counted. The data obtained from this study were analyzed by using the Shapiro-Wilk normality, followed by Spearman correlation test. The test results showed the significant value of 0.000 (p<0,05) with r = 0.656. The conclusion is there a strong correlation between the number of colonies of Candida sp. the radiation dose received by the patient's head and neck cancer in the department of Dr. Sardjito hospital, the higher dose of radiotherapy received, the more colonies number colonies of Candida sp. in patients saliva.
Kata Kunci : Candida sp, saliva, radioterapi, kanker kepala dan leher.