Laporkan Masalah

Keragaman dan Kemelimpahan Jenis Tumbuhan Penyusun Vegetasi Lantai pada Lahan yang Tercemar Merkuri di Kalirejo, Kokap, Kulon Progo

ANAHTADIYA NURFA SHOCHICHA, Dr. Retno Peni Sancayaningsih, M.Sc

2014 | Skripsi | BIOLOGI

Aktivitas penambangan emas sering merusak ekosistem hutan hujan tropis. Daerah Kalirejo, Kulon Progo merupakan salah satu daerah yang kaya emas di Indonesia. Sejak bertahun-tahun yang lalu, di daerah tersebut telah berdiri pertambangan rakyat tanpa izin (PETI). Kegiatan penambangan ini merupakan penambangan tradisional dan menggunakan merkuri dalam pengolahan emasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari spesies yang bersifat sebagai agen hiperakumulasi merkuri di wilayah Plampang serta distribusi dan kemelimpahannya serta efek merkuri terhadap morfometri spesies dominan di tanah quarry penggelondongan emas tercemar merkuri yang diperkirakan bersifat hiperakumulator. Penelitian dilakukan di empat lokasi yaitu hutan sekunder, 2 lokasi di Plampang II, dan 1 lokasi di Plampang III. Pengambilan sampel vegetasi lantai dilakukan dengan metode plot kuadrat berukuran 1m x 1m secara random berstruktur sebanyak 18 plot, sedangkan pada hutan sekunder dilakukan dengan PCQM. Selain itu, dilakukan pengukuran morfometri spesies Centotheca lappacea, pengukuran kadar Hg sekitar quarry penggelondongan emas, serta kadar Hg dalam daun spesies dominan tiap growthform. Dilakukan pula pengukuran beberapa faktor fisikokimia lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa growthform rumput spesies Centotheca lappacea mendominasi daerah quarry penggelondongan emas diikuti dengan Dalbergia latifolia, Colocasia esculenta, dan Cheilanthes tenuifolia. Kemelimpahan dan indeks nilai penting Centotheca lappacea dan Dalbergia latifolia terbesar terdapat pada stasiun penggelondongan 1, berturut-turut yaitu 2,33 ind/m2 dan 45,63%; serta 1,33 ind/m2 dan 38,41%. Colocasia esculenta dan Cheilanthes tenuifolia dengan kemelimpahan dan indeks nilai penting terbesar pada stasiun penggelondongan 2, berturut-turut yaitu 2,17 ind/m2 dan 47,25%; serta 0,83 ind/m2 dan 21,85%. Indeks diversitas tertinggi terdapat pada stasiun penggelondongan 2, yaitu sebesar 2,352. Kadar merkuri baik dalam tanah maupun dalam daun melebihi ambang batas yang diperbolehkan, yaitu 0,5 ppm dan 0,003 ppm pada sayuran. Sedangkan dalam sedimen, ambang batas yang diperbolehkan yaitu 0,005 ppm dan 0,15 ppm. Keberadaan kandungan merkuri memberikan efek sublethal terhadap spesies hiperakumulator merkuri.

Gold mining activity often destroys tropical rain forest ecosystem. Area of Kalirejo, Kulon Progo is one of the gold-rich region in Indonesia. Start from years ago, many gold minings appear as an illegal traditional mining called PETI. This mining using mercury in the amalgamation process. The aims of this research were to study distribution and abundance of dominant ground vegetation in traditional gold mining of Plampang, Kulon Progo and morphometry of those species as well. This research was conducted in four locations of Plampang: secondary forest, two sites in Plampang II, and one site in Plampang III. Ground vegetation communities were taken by using the random quadrat methods, 1m x 1m. Quadrat plots numbered 18 and was placed in several regional studies with randomly stratified method. Meanwhile, ground vegetation communities in secondary forest were also taken by using the random quadrat method as well, but with PCQM. In addition, also performed morphometric measurements of Centotheca lappacea, measurements of mercury content in the quarry as well as concentration of mercury in leaves of dominant species each growthform. Measurement of some physici-chemical factors also performed. The result of this research showed that growth-form of grasses species Centotheca lappacea dominated the quarry of gold’s sluice box, followed by Dalbergia latifolia, Colocasia esculenta, and Cheilanthes tenuifolia. The highest abundance and important value of Centotheca lappacea and Dalbergia latifolia in mining site 1 was: 2,33 ind/m2 and 45,63%; then 1,33 ind/m2 and 38,41% respectively. Colocasia esculenta and Cheilanthes tenuifolia have the highest abundance and important value in mining site 2, was respectively 2,17 ind/m2 and 47,25%; then 0,83 ind/m2 and 21,85%. Meanwhile, the highest diversity index was 2,352 in mining site 2. Either mercury content in sediment or leaves are over the threshold limit, 0,5 ppm and 0,003 ppm in vegetables whereas in sediment is about 0,005 ppm and 0,15 ppm. The existence of mercury pollutant gives a sublethal effect for species which have mercury hyperaccumulator character.

Kata Kunci : vegetasi lantai, morfometri, quarry, merkuri, Kalirejo/ ground vegetation, morphometry, quarry, mercury, Kalirejo


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.