Studi Keanekaragaman Lumut Epifit Sebagai Model Bioindikator Pencemaran Udara di Kota Surakarta, Jawa Tengah
NOVA PRASETYONINGRUM, Heri Sujadmiko, Drs.M.Si
2014 | Skripsi | BIOLOGIKota Surakarta merupakan salah satu kota besar di Jawa Tengah dan merupakan Kota dengan lalulintas yang cukup padat sehingga rawan terjadinya pencemaran udara. Terjadinya pencemaran udara ditandai dengan adanya gas-gas polutan yang melampaui ambang batas kelayakan, pemantauan kualitas udara ini pada umumnya di kota-kota besar seperti Surakarta menggunakan alat sperti Air quality monitor, akan tetapi penggunaan alat tersebut akan memakan biaya yang mahal. Pada era belakangan ini telah dikembangkan pemantauan kualitas udara menggunakan tumbuhan, salah satunya adalah tumbuhan lumut epifit. Penggunaan tumbuhan ini dinilai lebih mudah karena dapat dilakukan secara periodik dan lebih ekonomis. Penelitian sebelumnya tetang penggunaan lumut epifit telah dilakukan oleh Nurul (2011) hanya di Wilayah Kampus UGM, belum pada daerah yang lain, maka dari itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari keanekaragaman, kemelimpahan dan pemetaan lumut epifit sebagai model bioindikator di Kota Surakarta serta mengetahui faktor lingkungan yang mempengaruhi distribusi dan kemelimpahannya. Sampling lumut dilakukan di tiga lokasi pengamatan, yaitu Jl. Slamet Riyadi, Jl.Adi Sucipto dan Jl. Dr. Radjiman. Setiap lokasi pengamatan dibagi menjadi 10 stasiun pengamatan, kemudian setiap stasiun pengamatan diletakan 10 gridplot berukuran 15x15 cm pada pohon inang. Setiap plot dicatat parameter vegetasi dan parameter lingkungan. Lumut yang ditemukan kemudian diidentifikasi di laboraturium Sistematika tumbuhan. Data hasil akan disajikan dalam bentuk tabel dan diagram. Lumut yang ditemukan dalam penelitian ini berjumlah 11 spesies, yang terdiri dari kelas Hepaticopsida 4 spesies (36,36 %) yaitu Mastigolejeunea auriculata, Microlejeunea ulicina, Lejeunea flava, Frullania muscicola dan Bryopsida 7 spesies (63,63%) terdiri dari Vesicularia reticulate, Bryum pseudocurrens, Calymperes bouyali, C.tenerum, C.afzelii, Octobleparum albidum dan Isopterigium textori. Jenis lumut yang dominan adalah Calymperes tenerum, sedangkan yang kemelimpahannya paling rendah adalah Lejeunea flava. Dari 11 spesies yang ditemukan, hanya terdapat 6 spesies yang merupakan lumut epifit dan layak sebagai model bioindikator pencemaran udara, yaitu Mastigolejeunea auriculata, Microlejeunea ulicina, Lejeunea flava, Frullania muscicola, Isopterigium textori, Vesicularia reticulate. Faktor lignkungan yang mempengaruhi distribusi lumut adalah intensitas cahaya, kecepatan angin, kelembaban, dan suhu udara.
Surakarta is one of the major cities in Central Java and a city with a fairly dense traffic so prone to air pollution. Air pollution is characterized by the presence of the pollutant gases that exceed the eligibility threshold, monitoring of air quality is generally in big cities such as Surakarta using the tool just as air quality monitors, but the use of such a device would be very expensive. In the recent era has developed monitoring air quality using plants, one of which is epiphytic moss plants. The use of this plant is considered more convenient because it can be done periodically and more economical. Research beginning about the use of epiphytic lichens have been carried out by Nurul 2011 only at the UGM campus area, yet on the other, and therefore the purpose of this research is to study the diversity, abundance and mapping of epiphytic mosses as bio-indicators of the model in Surakarta and environmental factors determine that affect the distribution and density Sampling was conducted at three locations moss observation, namely Jl. Slamet Riyadi, Jl.Adi Sucipto and Jl. Dr. Radjiman. Each location is divided into 10 observation station, then each observation station placed 10 gridplot measuring 15x15 cm on the host tree. Each plot was recorded vegetation parameters and environmental parameters. Mosses are found later identified in the laboratory of plant systematics. Data results will be presented in the form of tables and diagrams. Moss found in this study a total of 11 species, which consists of 4 species Hepaticopsida grade (36.36%) is Mastigolejeunea auriculata, Microlejeunea ulicina, Lejeunea flava, Frullania muscicola and Bryopsida 7 species (63.63%) consists of Vesicularia reticulate, Bryum pseudocurrens, Calymperes bouyali, C.tenerum, C.afzelii, Octobleparum albidum and Isopterigium textori. The dominant moss species is Calymperes tenerum, while the lowest is kemelimpahannya Lejeunea flava. Of the 11 species found, there are only 6 species are epiphytic moss and decent as bio-indicators of air pollution models, namely Mastigolejeunea auriculata, Microlejeunea ulicina, Lejeunea flava, Frullania muscicola, Isopterigium textori, Vesicularia reticulate. Enviroment factors affecting the distribution moss is light intensity, wind speed, humidity, and air temperature.
Kata Kunci : Keanekaragaman, Lumut epifit, Kota Surakarta/ Diversity, Bryoepiphyte, Surakarta