Laporkan Masalah

Analisis Penelusuran Banjir pada Embung Tambakboyo Kabupaten Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

IQBAL ALFARISI HANIF, Prof. Ir. Joko Sujono, M.Eng. Ph.D

2014 | Skripsi | TEKNIK SIPIL

Pengelolaan sumber daya air yang baik akan berdampak pada kelestarian dan keseimbangan lingkungan sehingga dapat meminimalisir permasalahan yang terkait dengan ketersediaan air. Bendung, embung ataupun bendungan merupakan bangunan air yang banyak dibangun sebagai solusi dalam berbagai masalah yang berhubungan dengan sumber daya air, baik pemanfaatan, pengelolaan, pelestarian maupun penanganan daya rusak dari sumber daya yang terbarukan tersebut. Penelitian ini membahas penelusuran aliran pada kolam retensi/embung Tambakboyo. Penelusuran aliran adalah cara matematik yang digunakan untuk melacak aliran yang melewati suatu system hidrologi (Chow, 1988). Penelusuran aliran dimaksudkan untuk mengetahui karakteristik aliran inflow dan outflow yang melewati suatu saluran. Hal ini sangat diperlukan dalam pengendalian banjir. Tahapan dalam penelitian ini dimulai dengan pengumpulan data curah hujan hasil dari pengukuran stasiun hujan dan data lain seperti parameter aliran sungai, karakteristik waduk, dan data teknis bendungan. Selanjutnya curah hujan DAS dihitung dengan menggunakan Metode Poligon Thiessen. Desain debit banjir dihitung dengan analisis frekuensi. Kemudian arus masuk hidrograf yang diperoleh dari metode Debit Hidrograf GAMA1 sintetis digunakan sebagai debit inflow. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Level Pool Routing (Penelusuran kolam datar) yaitu, metode penelusuran aliran untuk menghitung hidrograf aliran keluar (outflow) dari suatu tampungan yang mempunyai permukaan air yang horizontal. Hasil dari penelitian ini menunjukkan peredaman debit banjir dengan kala ulang 100 tahun sebesar 4,57% dan pada periode PMF (Probable Maximum Flood) peredaman yang terjadi adalah 1,18%. Elevasi muka air maksimum pada kejadian banjir periode PMF adalah +151,3 m , sedangkan elevasi puncak tanggul bendung adalah +151,6 m, hal ini menunjukkan bahwa embung Tambakboyo masih aman jika terjadi banjir.

A proper management of water resources will impact on the sustainability and environmental balance so it can minimize the problems that related water availability. Weir, dam, retention pond, or reservoir are the hydrologic structure is constructed as a solution in variety of issues related to water resources. This research would be discussed about the flood routing on the Tambakboyo retention pond’s. Flood routing is a mathematical way that is used to track the flow passing through a hydrologic system (Chow, 1988). Flood routing is intended to determine the flow characteristics of the inflow and outflow through a channel. It is very necessary in flood control. Stages in this study began with the collecting of rainfall data and other data such as parameters of catchment area, the characteristics of reservoirs, and other technical data. Furthermore, maximum rainfall on the catchment area calculated by using Thiessen polygon. The design rainfall calculated by frequency analysis. Then the hydrograph obtained from Synthetic Unit Hydrograph GAMA1 used as inflow discharge. The method used in this study is the Level Pool Routing ie, flow tracing method for calculating the outflow hydrograph from a reservoir that has a horizontal water surface. The results of this study show damping coefficient of 100 year flood period is 4.57% and the period of the PMF, damping coefficient occurs is 1.18%. Maximum water surface elevation in the incidence of PMF flood period is +151.3 m, while the elevation of the top of the embankment dam is +151.6 m, it indicates that the reservoir Tambakboyo still safe in the event of flooding.

Kata Kunci : Flood Hydrograph, Thiessen Polygon, Level Pool Routing


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.