Laporkan Masalah

SEBARAN DAN DINAMIKA PERTUMBUHAN BAMBU APUS (Gigantochloa apus) DI KECAMATAN CANGKRINGAN, KABUPATEN SLEMAN, YOGYAKARTA

SUYUDI MOHAMAD, Singgih Utomo, S.Hut., M.Sc.

2014 | Tugas Akhir | D3 KEHUTANAN

Bambu apus merupakan salah satu hasil hutan non kayu yang penting di Kecamatan Cangkringan yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kerajinan, perabotan rumah tangga, hiasan, penghalau angin dan lain sebagainya. Jenis ini potensial untuk menopang perekonomian masyarakat pasca erupsi merapi sekaligus sebagai tanaman konservasi di daerah buffer zone. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran dan dinamika pertumbuhan bambu apus yang ada di Kecamatan Cangkringan pasca erupsi merapi tahun 2010. Metode yang digunakan adalah survey dengan purposive sampling. Setelah dilakukan pre-survey di 5 (lima) desa di Kecamatan Cangkringan, masing-masing desa dipilih 3 dusun yang terdapat bambu apus. Setiap dusun dipilih 10 kepemilikan lahan secara acak. Data yang diukur meliputi ketinggian tempat dan sensus dimensi bambu pada masing-masing sampel. Data ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bambu apus tersebar merata di semua desa yang ada di Kecamatan Cangkringan. Semakin tinggi suatu tempat pertumbuhan tinggi dan diameter bambu semakin kecil. Dinamika pertumbuhan bambu yang terdiri dari jumlah rebung, bambu muda, bambu tua, dan luas rumpun dipengaruhi oleh ketinggian tempat dan intensitas penebangan.

Apus Bamboo is one of important non-wood forest produce in the district of Cangkringan that is many utilize by community as craft, household furniture, ornament, wind breaker, and many others. The type is potential to shore up society economic after Merapi eruption and also as conservation plants at the buffer zone. This research aims to know spread and the dynamical of Apus Bamboos’ growth at the district of Cangkringan. Method that used is survey by purposive sampling. After doing pre-survey of 5 villages at the district of Cangkringan, each villages is chosen 3 sub-villages that contain Apus Bamboo. Each sub village is chosen 10 lands ownership randomly. Measured data includes place highness, and dimension census of bamboo on the each sample. Data is tabulated and analyzed by descriptive quantitative. Research result shows that apus bamboo is spread evenly at the villages in the district of Cangkringan. Higher place cause high growth and smaller diameter of bamboo. Dynamical of bamboos’ growth that consist number of rebung, young bamboo, old bamboo and cluster wide is affected by place highness and felling intensity.

Kata Kunci : bambu, apus, ketinggian tempat, dinamika, pertumbuhan./ bamboo, apus, place highness, dynamical, growth.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.