KAJIAN KARAKTERISTIK OSEANOGRAFI DI PERAIRAN UTARA PAPUA PADA TAHUN 2010-2012 MENGGUNAKAN CITRA MODIS
AMALIA HADIYANTI, Drs. Retnadi Heru Jatmiko,M.Sc
2014 | Skripsi | KARTOGRAFI DAN PENGINDRAAN JAUHInteraksi arus hangat antara Perairan Utara Papua dan Pesisir Timur Chile/Peru membuat wilayah Maluku dan Papua bagian utara memiliki pola iklim anti monsun dimana ditandai dengan puncak hujan pada bulan Juli. Hal ini sangat berbeda dengan wilayah Indonesia lainnya dimana puncak hujan terjadi pada bulan Desember atau Januari. Hubungan laut-iklim ini mendorong untuk dilakukannya pengamatan terhadap karakteristik oseanografi antara lain suhu permukaan laut (SPL), konsentrasi klorofil-a, dan angin khususnya pada tahun 2010-2012. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui kemampuan data Modis dalam menyajikan data SPL dan klorofil-a serta untuk mengetahui hubungan antara SPL, kloroil-a, dan angin. Citra Modis level 1B digunakan untuk mengekstraksi data SPL, Citra Modis level 2 digunakan untuk mengekstraksi data klorofil-a, dan data ECMWF bulanan digunakan untuk mengetahui data kecepatan dan vektor anginnya. Data hasil observasi Moored buoy digunakan sebagai data pembanding SPL dan Ocean Station Data (OSD) digunakan sebagai data pembanding klorofil-a. Kemampuan citra Modis dalam menyajikan data SPL diuji menggunakan uji beda (T-Test one tail) dan uji akurasi dari Standar Error Of Estimation. Pengamatan dilakukan pada musim hujan, musim kemarau, dan 2 musim transisi. Hasilnya menunjukkan selama tahun 2010-2012, suhu permukaan laut di Perairan Utara Papua antara 26-31 derajat Celsius, konsentrasi klorofil-a antara 0,1-0,21 mg/m3, dan kecepatan angin antara 3 - 5,2 m/s. Pada musim peralihan barat-timur dan peralihan timur-barat menunjukkan nilai SPL yang tinggi dibandingkan dua musim lainnya. Klorofil-a menunjukkan kenaikan mulai bulan Januari sampai Agustus dan mengalami penurunan pada bulan September sampai Desember. Angin menunjukkan kecepatan yang lebih rendah pada musim peralihan barat-timur dan peralihan timur-barat, sedangkan menunjukkan kecepatan angin yang lebih tinggi pada musim barat dan timur dengan kecepatan paling tinggi terjadi di bulan Februari dan Juli. Di sisi lain, citra Modis memberikan nilai SPL yang lebih kecil dibandingkan data aktual di lapangan dengan akurasi antara 55,8%-95,82%. Dan dilihat dari trennya antara tahun 1995-2008, data klorofil-a hasil pengolahan citra Modis cenderung memberikan nilai yang lebih tinggi daripada nilai klorofil-a di lapangan. Dari korelasinya menunjukkan adanya korelasi negatif antara SPL-angin dan SPL-klorofil-a, sedangkan antara angin-klorofil-a menunjukkan korelasi positif.
Warm surface current interaction between North of Papua Waters and Eastern Coast of Chile/Peru made Maluku and North of Papua region have Anti-monsunal climate pattern which was signed with the peak of rainy season occured in July. It was completely different with other Indonesian region which is the peak of rainy season occured in December or January. This linkage between ocean and atmosphere encourage us to make an observation on ocean characteristics i.e sea surface temperature (SST), Chlorophyll-a concentration, and wind specifically along 2010-2012. This research aim to find out modis imagery ability in extracting SST and chlorophyll data and also to know the relationship between SST, chlorophyll-a, and wind . Level 1B Modis imagery was used to extract SST data, level 2 modis to extract chlorophyll-a data and ECMWF monthly data also used to represent wind data. Moored buoy and Ocean Station Data (OSD) data was used as reference data. T-Test one tail was used to know the difference between SST data extracted from Modis Imagery and SST moored buoy data meanwhile Standard Error of Estimation method was used to acknowledge its accuracy. Observation was done in rainy season, dry season, and 2 transition phase. The result shows during 2010-2012, North of Papua Waters SST was about 26-31 degrees Celcius, chlorophyll-a concentration was around 0,1-0,21 mg/m3, and wind speed was around 3-5,2 m/s.In the 2 transition phase season, SST was tend to show higher value than the other season, while wind speed was tend to blow harder in rainy and dry seaseon (especially on february and July)than in the transition phase. In the other hand, chlorophyll-a concentration was increasing started in January until August and started to decrease from September to December. Modis imagery gave lower SST values than the reference data with accuracy between 55,8% and 95,82%. Compared to chlorophyll-a concentration observation data trend from 1998-2008, modis imagery chlorophyll-a data gave higher values than its in situ data. Based on its correlation, it was showing negative correlation between SST-wind speed and SST-chlorophyll-a concentration. In the other hand, positive correlation was indicated by wind speed-chlorophyll-a concentration.
Kata Kunci : SPL, Klorofil-a, Angin, Perairan Utara Papua, Observasi.