TINJAUAN PENGKAPLINGAN TANAH DI KELURAHAN PLUMBUNGAN KABUPATEN SRAGEN
CHARLINDA P, Ir. Prijono Nugroho., M.S.P., Ph.D
2014 | Skripsi | TEKNIK GEODESIKegiatan pengkaplingan tanah merupakan upaya penyediaan tanah untuk pemukiman. Kegiatan ini tidak dapat dihindari sebagai konsekuensi pemenuhan kebutuhan akan pemukiman. Diharapkan kegiatan pengkaplingan ini akan dapat mewujudkan suatu tatanan penguasaan dan penggunaan tanah secara tertib dan teratur. Pengkaplingan tanah telah banyak dilakukan di Kelurahan Plumbungan sejak dikeluarkannya Surat Keputusan Bupati Sragen Nomer 9 tahun 2013 yang berisi memberikan izin perubahan status penggunaan tanah dari pertanian menjadi non pertanian. Berdasarkan SK tersebut Bupati Sragen telah memberikan ijin kepada pemilik tanah agar memanfaatkan tanahnya untuk berbagai macam keperluan dalam hal ini pengkaplingan tanah. Dari pengkaplingan tanah tersebut kenyataannya sampai sekarang banyak tanah kapling yang tidak dibangun dan cenderung ditelantarkan oleh pemiliknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan tidak dibangunnya tanah-tanah kapling oleh pemilik tanah, implikasi pembiaran tanah kapling terhadap pembangunan tanah dan memberi saran sebagai kontribusi terhadap kebijakan pengkaplingan tanah sebagai upaya penyediaan tanah untuk pemukiman di Kabupaten Sragen. Untuk mengetahui faktor-faktor pemilik tanah kapling tidak membangun tanahnya digunakan data primer melalui kuisioner dan pengamatan lapangan untuk mengetahui kondisi tanah kapling yang sebenarnya. Data dianalisis dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dibantu dengan program Microsoft Excel utnuk mengetahu distribusi frekuensinya serta membantu mempermudah dalam proses analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengkaplingan tanah di Kelurahan Plumbungan telah sesuai dengan peraturan yang ada. Dari 69 tanah kapling, sebanyak 4,35% pemilik tanah membangun tanahnya dan 95,65% membiarkan tanahnya. Dari hasil analisis dapat diketahui terdapat tiga faktor pemilik tanah tidak membangun tanahnya, yaitu faktor fisik terkait dengan kondisi tanah kapling, faktor institusi terkait dengan ketiadaan dan tujuan kepemilikan tanah kapling. Pembiaran tanah kapling berimplikasi terhadap penurunan kualitas lingkungan, efisiensi, da produktifitas penggunaan tanah seperti lingkungan kumuh, tanah kosong dan lingkungan tidak teratur. Kata Kunci : Penyediaan Tanah Pemukiman, Pengkaplingan Tanah, Pembiaran Tanah.
Land subdivision as an effort of land stock for settlement. This activity cannot be avoided as the consequence of fulfillment in settlement needs. It is hoped that this activity will make a rule of management and land use orderly and organized coming true. Land subdivision has been done at Kabupaten Plumbungan since Letter of Explanation Bupati Sragen Number 9 Year 2013 declared about giving the permit of status change in landuse from agriculture to non-agriculture. Based on Letter of Explanation, the regent of sragen has given a permit to the land owners in order to use their lands for sharing in any kinds of needs, in this case land subdivision. From that land subdivision, the facts are many undeveloped lands and they tend to be abandoned by their owners until now. This research has a purpose to know and analyze the factors causing undeveloped parceled land by their owners, the implication, the abandoning of lands toward the land development and giving the advices as the contribution to the policy of land subdivision as a land stock effort for the settlement at Kabupaten Sragen. Knowing the factors that the owners are not developing their lands, the data primer is used by giving the questioner and observation on the field to know the real condition of parceled land. The data will be analyzed by using qualitative descriptive approach with Microsoft Excel in order to know the distribution of its frequency and help to make the process of analyzing easier. The result showed that land subdivision at Kelurahan Plumbungan were in accordance with existing regulation. From 69 parceled land, amount 4.35% the land owners developed their lands and 95.65% abandoned their lands. From the result of analyzing can be known that there are three factors why the land owners cannot develop their own lands, they are physical factor related to the condition of parceled land, institution factor related to the absence and the purpose from the land ownership. The unmanaged land subdivision implicate toward the efficiencies and the productivities in land use as the slump enviroments, empty environments and not well organized.
Kata Kunci : Penyediaan Tanah Pemukiman, Pengkaplingan Tanah, Pembiaran Tanah.