Pengaruh Tingkat Kemasakan Buah Dan Pematahan Dormansi Terhadap Viabilitas Benih Wuni ( Antidesma bunius (L.) Spreng)
DEWI KURNIYAWATI , Dr. Ir. Aziz Purwantoro, M.Sc ; Prof. Dr. Ir. Prapto Yudono, .Sc
2014 | Skripsi | PEMULIAAN TANAMANPerkecambahan benih dipengaruhi oleh faktor tingkat kemasakan buah. Benih yang berasal dari buah yang dipanen pada saat masak fisiologis akan menghasilkan nilai perkecambahan yang tinggi dilapangan. Proses pengecambahan benih wuni tergolong cukup sulit karena benih memiliki kulit yang keras sehingga bersifat dorman. Adanya kondisi dormansi ini menyebabkan benih harus diberi perlakuan untuk mematahkan dormansi. Banyak metode atau cara untuk mematahkan dormansi suatu benih antara lain dengan scarifikasi mekanik dan kimiawi dan stratifikasi yang umum dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat kemasakan terhadap viabilitas benih wuni dan cara pematahan dormansi yang sesuai yang dapat meningkatkan nilai perkecambahan. Perlakuan yang dilakukan yaitu dengan memberikan perlakuan pematahan dormansi pada benih dengan tiga tingkat kemasakan yang berbeda. Penelitian ini menggunakan rancangan faktorial 3x4 disusun dalam RAKL. Faktor pertama adalah tingkat kemasakan buah dan faktor kedua adalah cara pematahan dormansi. Tingkat kemasakan buah terdiri dari buah wuni yang berwarna hijau, merah dan hitam. Metode pematahan dormansi yang diujikan adalah menggunakan perendaman larutan H2SO4 1% selama 7 menit, perendaman air panas suhu 700C selama 10 menit dan scarifikasi mekanik dengan memotong ujung benih. Setiap kombinasi perlakuan terdiri dari 4 ulangan. Hasil analisis uji Duncan menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara faktor tingkat kemasakan buah dan faktor pematahan dormansi. Perlakuan tingkat kemasakan buah yang memberikan nilai perkecambahan paling baik adalah benih wuni berwarna hitam dan perlakuan pematahan dormansi yang diujikan belum mampu mematahkan dormansi benih wuni.
Seed germination is influenced by the fruit ripeness. High germination rate will be reached by the seed which is harvested on the physiological ripeness. On the other hand, wuni seeds are a dormanced due to their hard testa. Therefore, it is necessary to detect the physiological ripeness and look for the best method for breaking seed dormancy in order to reach high germination rate on wuni seeds. Three level of fruit ripeness which reflected on the skin colour of fruit e.i. green, red and black will be considered as the first factor. Meanwhile, the methods of breaking dormancy e.i. mechanical and chemical stratification, scarification and control will be considered as second factors. The research were designed as 3x4 factorial and arranged in RCBD with four replications. The result showed that the black fruit skin was considered as a physiological ripeness of wuni seeds. Unfortunattely that the breaking dormancy method which was applied in this research had not been showed a good result.
Kata Kunci : benih wuni, skarifikasi, stratifikasi, tingkat kemasakan buah, perkecambahan benih.