RISIKO BAYI BERAT LAHIR RENDAH PADA IBU HAMIL KURANG ENERGI KRONIS DI KABUPATEN BANJAR KALIMANTAN SELATAN
TITIK HIDAYATI, dr. Detty Siti Nurdiati, MPH, PhD, Sp.OG(K).
2014 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang : Bayi berat lahir rendah (BBLR) masih tetap menjadi masalah dunia khususnya di negara-negara berkembang. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 di seluruh Indonesia menunjukkan angka kejadian BBLR sebesar 10,2%. Bayi berat lahir rendah (BBLR) disebabkan oleh banyak faktor antara lain faktor ibu, faktor janin, faktor sosial ekonomi dan faktor lingkungan. Kejadian BBLR kemungkinan diawali ibu yang hamil dengan kondisi kurang energi kronis (KEK). Kurang energi kronis (KEK) pada ibu hamil di samping berpengaruh terhadap kualitas bayi yang dilahirkan juga berdampak terhadap kematian anak dan ibu. Tujuan : Menganalisis risiko bayi berat lahir rendah (BBLR) pada ibu hamil kurang energi kronis (KEK) dan dan menganalisis beberapa confounding factor. Metode : Jenis penelitian adalah observasional retrospektif dengan rancangan case control. Sampel penelitian adalah 61 untuk masing-masing kasus dan kontrol. Penelitian dilakukan di wilayah kerja Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan pada bulan Maret – April 2014. Data sekunder diperoleh dari kohort ibu/ buku KIA, sedangkan data primer diperoleh dari wawancara langsung dengan menggunakan kuesioner. Pengolahan data dengan uji bivariabel (chi-square), multivariabel (regresi logistik) dan analisis stratifikasi. Hasil : Hasil uji bivariat menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara kurang energi kronis pada ibu hamil (p = ,000; OR = 9,5; 95% CI = 3,15-33,96), asupan energi ibu (p = 0,000; OR = 8,4; 95% CI = 3,35-21,99), tinggi badan ibu (p = 0,022; OR = ı 95% CI = 1,37- ı), status anemia ibu hamil (p = 0,000; OR = 4,4; 95% CI = 1,91-10,36), pertambahan berat badan ibu hamil (p = 0,000; OR = 8,7; 95% CI = 3,57-21,47), dan pendapatan keluarga (p = 0,006; OR = 3,5; 95% CI = 3,57-21,47) dengan BBLR; sedangkan umur ibu, paritas dan pendidikan ibu tidak berhubungan signifikan. Hasil analisis regresi logistik, variabel yang mempengaruhi BBLR adalah kurang energi kronis pada ibu hamil, asupan energi ibu, status anemia ibu hamil dan pertambahan berat badan ibu hamil. Berdasarkan hasil stratifikasi variabel asupan energi ibu dan status anemia ibu hamil merupakan confounding factor. Variabel pertambahan berat badan ibu hamil merupakan efek modifikasi. Kesimpulan : Ibu hamil KEK mempunyai risiko lebih besar untuk melahirkan BBLR dibandingkan dengan ibu hamil tidak KEK.Variabel asupan energi dan status anemia ibu hamil merupakan confounding faktor, sedangkan pertambahan berat badan ibu hamil merupakan efek modifikasi pada hubungan antara kurang energi kronis pada ibu hamil dengan BBLR.Variabel pertambahan berat badan ibu hamil merupakan efek modifikasi
Background : Low birth weight infants (LBW) become a problem in the world yet, especially in developing countries. Based on Indonesian Health research 2013, the incidence of LBW was 10,2%. LBW is caused by many factors such as maternal factors, fetal factors, socioeconomic factors and environmental factors. One of LBW factor is maternal chronic energy deficiency (CED). Maternal CED affect not only infants quality but also child and maternal mortality. Objective : To analyze low birth weight (LBW) in maternal chronic energy deficiency and analyze several confounding factors which affect low birth weight. Methods : This study was case control design. Total subjects were 61 for each case and control. This study was conducted in Banjar, South Kalimantan on March-April 2014. Secondary data was obtained from maternal and child health books and primary data is obtained by direct interview using a questionnaire. Chisqure, binomial regression, and stratification analysis were used to know the association LBW at CED. Result : The results of the bivariate test show there was a significant association between maternal of chronic energy deficiency (p = 0,000; OR = 9,5; 95% CI = 3,15 - 33,96), maternal energy intake (p = 0,000; OR = 8,4; 95% CI = 3,35 - 21,99), maternal height (p = 0,022; OR = ı ; 95% CI = 1,37 - ı), maternal anaemia status (p = 0,000; OR = 4,4; 95% CI = 1,91 - 10,36), maternal weight gain (p = 0,000; OR = 8,7; 95% CI = 3.57 - 21.47), and family income (p = 0.006; OR = 3.5; 95% CI = 3.57 - 21.47) with LBW; while maternal age, parity and maternal education were not significantly related. Based on logistic regression analysis, maternal energy intake, maternal anaemia status and maternal weight gain affect LBW at CED. Maternal energy intake and maternal anaemia status become confounding factor. Maternal weight gain become modification effect. Conclusion : Maternal cronic energy deficiency have greater risk of LBW than normal maternal. Maternal energy intake and maternal anaemia status become confounding factors which affect the association between maternal cronic energy deficiency at low birth weight infants. Maternal weight gain become mdification effect.
Kata Kunci : kurang energi kronis, risiko, bayi berat lahir rendah