Laporkan Masalah

Makna Aksesibilitas Pendidikan Inklusif Bagi Para Difabel Tunanetra di 3 (Tiga) Perguruan Tinggi Yogyakarta

PRITA LASALIESANTI, Danang Arif Darmawan, S.Sos, M.Si

2014 | Skripsi | ILMU PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN (SOSIATRI)

Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui bagaimana makna fasilitasi pendidikan inklusif yang diinginkan oleh difabel tunanetra di perguruan tinggi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Karena di Provinsi Yogyakarta telah terdapat beberapa perguruan tinggi yang sudah membuka akses kepada difabel tunanetra untuk bisa melanjutkan pendidikannya. Pada kenyataannya pendidikan inklusif di Indonesia masih jarang diketahui oleh masyarakat umum, oleh karena itu menimbulkan pertanyaan di benak peneliti bagaimanakah aksesesibilitas yang didapatkan oleh difabel tunanetra pada perguruan tinggi mereka, bagaimanakah fasilitas umum dan kegiatan akademik yang didapatkan oleh para mahasiswa difabel tunanetra pada perguruan tinggi mereka, apakah mereka sudah merasakan persamaan hak untuk difabel tunanetra dan non-difabel seperti pengertian dari pendidikan inklusif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif, dengan pendekatan deskriptif. Informan dalam penelitian ini adalah difabel tunanetra yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi yang berada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, informan tersebut berasal dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta dan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Dan teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Difabel tunanetra yang berkuliah di perguruan tinggi inklusif merasa lebih berkembang ketika mereka berada di lingkungan inklusif atau lingkungan yang membaur antara mahasiswa difabel dan non-difabel. Aksesibilitas yang terdapat pada pendidikan inklusif antara lain aksesibilitas fasilitas umum, lingkungan dan kegiatan akademik yang berlangsung di lingkungan perguruan tinggi. Mayoritas dari informan pada penelitian ini merasa bahwa kebutuhan dasar mereka selama berada di lingkungan perguruan tinggi sudah cukup terpenuhi, seperti kebutuhan informasi, fasilitas umum dan lainnya. Akan tetapi masih terdapat beberapa mahasiswa difabel tunanetra yang masih mengeluhkan fasilitas di kampusnya yang menurut mereka masih jauh dari layak, dan mengharapkan pihak kampus untuk berkomitmen dalam memperbaiki dan memperbanyak fasilitas pendukung bagi difabel guna mempermudah proses belajar mengajar di kampus.

This research conducted to find out the meaning of inclusive education which is sought by visual impairment disable in some universities at special district of Yogyakarta. Because some universities in Yogyakarta has opened access to blind disable to be able to continue their education. In fact, inclusive education in Indonesia are still rarely known by common people, it raised questions to my mind about how is the accessibility researches obtained by disable blind in college, how is the public facilities and academic activity was obtained by the disable student at their college whether they feel equal already rights to disable person or non-disable person as the meaning of inclusive education. The methods that was used to this research is a method of qualitative research with descriptive approach. Informants in this research was disable visual impairment who was educated at college which is located in Yogyakarta. The informant derived from Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta and Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. And the data collection techniques used in this research is by observation, interview, and documentation. Visual impairment disable in inclusive college feel more independent and confident when they were in inclusive environment which is assimilate between disable students and non-disable students. There is accessibility in the inclusive education among other accessibility in general facilities environment and academic activities which take place on the college environmental. The majority of informants felt that their basic needs of them at college already fulfilled, such as the needs of the information, a public facility, and other. However, there are still several visual impairment student still complaining about the campus facilities which it said that the facilities is not worthy and hoped the universities committed in improving and adding some other supported facilities in order to simplify the process of learning and teaching on campus.

Kata Kunci : Aksesibilitas, Pendidikan Inklusif, Difabel, Tunanetra


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.