PERBEDAAN POTENSI ANTIJAMUR EKSTRAK ETANOLIK KULIT MANGGIS (Garcinia mangostana L.) DENGAN NISTATIN TERHADAP Candida albicans IN VITRO
GRETA FARAMITA F., drg. Supriatno, M.Kes., M.D.Sc., Ph.D.; Dr.drg. Dewi Agustina, M.D.Sc.
2014 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTER GIGIToksisitas merupakan masalah utama yang dihadapi dalam perawatan kandidiasis oral dengan menggunakan nistatin. Kulit manggis berdasarkan beberapa penelitian memiliki toksisitas yang rendah baik secara in vitro maupun in vivo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi kulit manggis sebagai antijamur terhadap Candida albicans serta mengetahui perbedaan potensi antijamur antara ekstrak etanolik kulit manggis (Garcinia mangostana L.) dengan nistatin terhadap Candida albicans secara in vitro. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni laboratorik dengan rancangan post-test only control group design. Zona hambat yang terbentuk pada daerah sekitar sumuran dalam media Sabouraud Chloramphenicol agar diukur dengan menggunakan jangka sorong dengan ketelitian 0,01 mm. Data berupa diameter zona hambat pertumbuhan diuji dengan ANAVA satu jalur kemudian dilanjutkan dengan uji Post Hoc LSD dengan tingkat kemaknaan (p) 0,05. Hasil penelitian menunjukkan diameter zona hambat yang terbentuk pada sumuran yang berisi ekstrak etanolik kulit manggis dengan konsentrasi 10%, 20% dan 40% masing-masing sebesar 0,93 mm; 1,41 mm; dan 2,50 mm. Hasil tersebut lebih besar daripada zona hambat yang terbentuk pada nistatin, yaitu sebesar 0,85 mm. Berdasar hasil uji tersebut dapat disimpulkan bahwa ekstrak kulit manggis memiliki potensi antijamur lebih besar dibandingkan dengan nistatin dalam menghambat pertumbuhan Candida albicans.
Toxicity is a major problem encountered in the treatment of oral candidiasis with nystatin. The pericarp of mangosteen based on several studies have low toxicity both in vitro and in vivo. The aims of the study are to determine the potential of the mangosteen pericarp as antifungal against Candida albicans as well as knowing the difference of antifungal potency between ethanolic extract of mangosteen pericarp (Garcinia mangostana L.) and nystatin against Candida albicans in vitro. This study was a purely experimental laboratory with a post-test only control group design. The inhibition zone formed in the area around the wells in Sabouraud Chlorampenicol agar was measuring with clipper 0,01 mm. Data such as the diameter of the growth inhibition zone was tested by ANOVA one way then continued with Post Hoc LSD test with significance level (p) 0.05. The results showed that the diameter of inhibition zone formed in wells containing ethanolic extract of mangosteen pericarp 10%, 20% and 40% was 0,93; 1,41 and 2,50 mm. These result was greater than nystatin which was 0,85 mm. Based on these test results it can be concluded that ethanolic extract of mangosteen pericarp has antifungal potency greater than nystatin in inhibiting the growth of Candida albicans.
Kata Kunci : Candida albicans, zona hambat, ekstrak etanolik kulit manggis, nistatin