Analisis Model Predicted Mean Vote sebagai Indikator Sensasi dan Kenyamanan Termal untuk Subyek Iklim Tropis
IBRAHIM ABIM AGASTI, Andi R. Wijaya, S.T., M.Sc., LicEng., Ph.D
2014 | Skripsi | TEKNIK INDUSTRIKinerja seseorang dipengaruhi kualitas lingkungan di sekitarnya. Temperatur tinggi yang dimiliki Indonesia menjadi tantangan tersendiri untuk membangun kenyamanan termal. Salah satu metode yang sudah populer digunakan untuk memprediksikan sensasi dan kenyamanan termal seseorang adalah Model PMV. Namun, pada praktiknya di lapangan mulai diragukan karena memberikan hasil yang berbeda untuk subyek dengan karakteristik yang berbeda Penelitian ini melibatkan 15 mahasiswa laki-laki yang berdomisili di iklim tropis yang berusia 21+0.9 tahun. Subyek melakukan 3 aktivitas dengan beban berbeda (ringan, sedang, berat) pada temperatur WBGT yang diatur pada rentang 20°C hingga 32°C yang dilakukan dalam waktu masing-masing perlakuan 15 menit. Agar mampu untuk mendapatkan kondisi lingkungan yang dilakukan, maka penelitian ini dilakukan di dalam ruangan terkondisi. Sensasi dan kenyamanan termal yang diprediksi menggunakan Model PMV akan dibandingkan dengan sensasi dan kenyamanan termal subyektif yang diukur secara kualitatif dengan menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukan bahwa Model PMV tidak sesuai untuk meengestimasi sensasi dan kenyamanan termal bagi subyek yang berasal dari iklim tropis. Berdasarkan 12 perlakuan yang diberikan, Model PMV memprediksi sensasi termal yang lebih tinggi daripada sensasi termal yang dirasakan oleh responden. Sementara itu, persentase pada aktivitas yang berbeda menunjukan bahwa subyek merasa lebih nyaman pada kondisi temperatur yang lebih sejuk. Hal ini membantah konsep Model PMV yang menyatakan bahwa seseorang akan merasakan kenyamanan termal ketika mencapai kesetimbangan panas. Perbedaan yang terjadi menunjukan bahwa terdapat efek fisiologis dan psikologis dalam proses adaptasi responden yang diabaikan. Diperlukan suatu penyesuaian untuk mencerminkan variabel-variabel yang diabaikan oleh Model PMV.
Human work performance is affected by the condition of his work environment. High temperature in Indonesia becomes a challenge to build the thermal comfort. One of the popular methods that have been used to predict a person's sensation and thermal comfort is PMV. However, the application of PMV started to be doubted since it shows different results to subjects with different characteristics. This study involved 15 male students who live in Indonesia with age 21+0.9 years. Subjects were by doing 3 different activities (mild, moderate, severe) on controlled WBGT in the range of 20°C to 32°C. Each treatment was performed for 15 minutes. To achieve that, this research was carried out in a conditioned room. Sensation and thermal comfort predicted by using PMV model were compared with the subjective thermal sensation measured by using sensation and thermal comfort qualitative questionnaire. The results showed that the PMV is not suitable to estimate sensation and thermal comfort for the subject that comes from the tropical climate. Based on 12 treatments given, PMV predicted higher thermal sensation than the thermal sensation subjectively perceived by the respondents. Meanwhile, the percentage of the different activities show that subjects felt more comfortable on cooler temperature conditions. This denies the concept of PMV which states that a person will feel comfortable when reaching thermal equilibrium heat. The difference that occurs indicates that psychological effects and acclimatization may affect the adaptation process of respondents to a given environmental conditions. Thus, subjects will have a higher tolerance to high temperatures. It is required an adjustment to reflect the variables which are ignored by PMV.
Kata Kunci : PMV, Sensasi termal, Kenyamanan termal, Iklim tropis, Climate Chambers