Laporkan Masalah

HUBUNGAN POLA PENGGERGAJIAN DAN VARIASI KETEBALAN PAPAN TERHADAP PENYUSUNAN SKEDUL PENGERINGAN PADA KAYU JABON (Anthocephalus cadamba (Roxb.) Miq.)

BAGAS BACHTIAR, Tomy Listyanto, S. Hut., M. Env.Sc., Ph. D.

2014 | Skripsi | TEKNOLOGI HASIL HUTAN

Jabon diketahui sebagai spesies alternatif yang berpotensi karena merupakan tanaman yang cepat tumbuh dengan riap pertumbuhan mencapai 10 cm/tahun. Upaya untuk meningkatkan kegunaan jabon sebagai produk berkualitas tinggi seperti kayu konstruksi adalah dengan menyusun skedul pengeringan yang tepat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui karakteristik cacat pengeringan dan hubungan antara pola penggergajian, variasi ketebalan papan dan penyusunan skedul pengeringan. Faktor dari penelitian ini adalah dua macam pola penggergajian yaitu pola penggergajian tangensial dan radial, dan dua variasi ketebalan papan yaitu 2 cm dan 4 cm. Penyusunan skedul pengeringan mengacu pada metode Terazawa, dengan mengeringkan sampel pada suhu 100°C selama 72 jam. Parameter yang diamati meliputi kadar air awal, cacat retak, kolap, honeycombing dan berat jenis. Analisis chi square digunakan untuk mengetahui hubungan antara pola penggergajian, ketebalan papan dan penyusunan skedul pengeringan. Hubungan antara skedul pengeringan dan berat jenis juga diamati pada penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 6 variasi skedul pengeringan kayu jabon. Ketebalan papan berhubungan nyata terhadap penyusunan skedul pengeringan. Skedul pengeringan kayu jabon dengan ketebalan 2 cm dapat dikeringkan dengan suhu awal 70°C, depresiasi suhu bola basah 7°C, dan suhu akhir 105°C, sedangkan ketebalan 4 cm dapat dikeringkan dengan suhu awal 60°C, depresiasi suhu bola basah 4°C, dan suhu akhir 90°C

Jabon has been known as potential alternative species due to its faster growth rates, which is up to 10 cm/year. In order to support Jabon to be utilized for high quality product as lightweight construction material, proper drying schedules were developed. The aims were to determine drying defect characteristics and to investigate the relationship between sawing pattern, board thickness and development of drying schedule. Two types of sawing pattern, which were flat sawn and quarter sawn, and two board thicknesses, which were 2 cm and 4 cm, were used as factors. Development of drying schedule followed Terazawa method, that is drying the samples for 72 hours with temperature in 100°C. Observed parameter were initial moisture content, check defect, collapse, honeycombing and wood density. Chi square analysis was used to investigate the relationship between sawing pattern, board thickness and development of drying schedule. The relationship between developed drying schedules and wood density was also examined. The results showed that there were 6 variations of drying schedule of jabon. The relationship between board thickness of jabon and developed drying schedules was found. Drying schedule of jabon with thickness 2 cm can be dried start at temperature of 70°C, wet bulb depression of 7°C and final temperature of 105°C, while board thickness of 4 cm can be dried with initial temperature of 60°C, wet bulb depression of 4°C and final temperature of 90°C

Kata Kunci : jabon, pola penggergajian, ketebalan papan, skedul pengeringan, metode Terazawa


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.