Laporkan Masalah

TERJEMAHAN CERITA ANAK YAMANBA NO NISHIKI KARYA : MATSUTANI MIYOKO

WIDYASTUTI IKA SARI, Robi Wibowo, S.S., M.A.;Wahyu Handayani Setyaningsih, S.S., M.A.

2014 | Tugas Akhir | D3 BAHASA JEPANG

ABTRAKSI Widyastuti Ika Sari Tugas Akhir ini berjudul TERJEMAHAN CERITA ANAK YAMANBA NO NISHIKI KARYA MATSUTANI MIYOKO. Cerita anak ini bercerita tentang seorang penyihir yang melahirkan anak dan ingin memakan mochi. Penyihir itu memerintahkan para penduduk desa untuk membuatnya. Akhirnya seorang nenek tua yang berusia sekitar 70 tahun yang dijuluki Akazabanba datang membawakan mochi tersebut ke tempat penyihir yang tinggal di gunung Choufukuyama. Karena di gunung tersebut tidak ada pembantu maka Akazabanba tinggal selama 21 hari untuk merawat penyihir sampai sembuh. Setelah penyihir sembuh, Akazabanba pun pulang dan diberi kain ajaib oleh penyihir untuk dibagikan kepada penduduk desa. Digunakan berkali-kali pun keesokan harinya kain itu akan kembali seperti semula. Para penduduk desa menggunakan kain yang belum pernah dilihat itu sebagai barang yang paling berharga. Sejak saat itu orang-orang desa hidup dengan bahagia tanpa pernah masuk angin lagi. Cerita Yamanba no Nishiki dipilih karena cerita tersebut menarik dan mudah dipahami oleh anak-anak. Dalam menerjemahkan cerita anak ini, penulis menggunakan metode komunikatif. Metode penerjemahan komunikatif berusaha mempertahankan makna kontekstual yang tepat dari bahasa sumbernya sehingga baik isi maupun bahasanya langsung dapat diterima dan dipahami oleh pembaca hasil terjemahan. Kata kunci : Yamanba no Nishiki, Matsutani Miyoko, Terjemahan, Metode Komunikatif

ABSTRACTION Widyastuti Ika Sari This final project entitles"CHILDREN STORY TRANSLATION WORK OF MATSUTANI MIYOKO YAMANBA NO NISHIKI. The story was about a witch who was about to gave birth and wanted to eat mochi. The witch ordered the villagers to make mochi. Finally, a 70 years old women known a Akazabanba came to mountain Chofukuyama, the mountain where the witch lived, to give her the asked mochi. Because there was no maid there, Akazabanba stayed for twenty one days to treat the witch until she healed. After yamanba getting well, Akazabanba went home, with her, she brought a magic cloth the witch gave to her to be given to the villagers. Although the cloth was used many many times it would back to normal the very next day. The villagers theated the cloth that had never been seen before as the most valuable item. Since than, the villagers lived happily without catching a cold ever again. The whiter chooses Yamanba no Nishiki because the story is interesting and aesily understood by childrens. In translating this childerns story, the author uses the communicative method. Communicative translation method tries to maintain the exact contextual meaning of the source language so that both the content and the language can be directly received and understood by the reader. Keywords : Yamanba no Nishiki, Miyoko Matsutani, Translation, Communicative Method.

Kata Kunci : Yamanba no Nishiki, Matsutani Miyoko, Terjemahan, Metode Komunikatif


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.