Perilaku Perjalanan Sekolah Pelajar Sekolah Menengah Pertama di Kelurahan Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul
RINA NUR APRILLIA, Yori Herwangi, ST., MURP.
2014 | Skripsi | PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTAPergerakan di perkotaan memiliki maksud yang beragam. Salah satunya adalah pergerakan untuk maksud pendidikan. Perjalanan pendidikan ini sangat penting untuk dikaji karena beberapa alasan. Perjalanan pendidikan di antaranya dilakukan oleh remaja SMP yang captive (paksawan) dalam pemilihan moda transportasi karena tidak memiliki Surat Ijin Mengemudi, sehingga perilaku perjalanan mereka perlu dikaji sebagai acuan untuk perencanaan kota yang ramah dan aman terhadap pelajar, khususnya di perkotaan Yogyakarta sebagai wilayah pelajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku perjalanan sekolah pelajar SMP dan faktor bentuk kota dan non-bentuk kota yang mempengaruhinya. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Panggungharjo, Bantul. Pelajar yang tinggal di kelurahan ini diasumsikan memiliki pilihan lokasi sekolah yang beragam karena wilayahnya yang strategis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deduktif campuran, dengan cara analisis statistik deskriptif, crosstab, dan independent sample t-test, regresi logit ordinal, serta analisis kualitatif. Analisis ini dilakukan dengan menggunakan tingkat kepercayaan 90%. Survei primer dilakukan dengan observasi lokasi amatan, pengisian kuisioner dan wawancara terhadap 99 responden dari penduduk yang berusia 12 - 15 tahun dan berstatus pelajar SMP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelajar SMP menempuh jarak yang lebih jauh dari standar maksimal jarak sekolah yang ditentukan oleh Chapin (1995). Rata-rata jarak yang mereka tempuh adalah 3,9 km. Mereka juga harus melakukan perjalanan lebih mandiri dari kelompok umur di bawahnya karena dianggap mulai dewasa. Moda transportasi yang dominan digunakan pelajar untuk pergi dan pulang sekolah adalah sepeda. Walaupun mereka menempuh jarak jauh, tetapi mereka membutuhkan waktu 17,8 menit, lebih cepat dari standar maksimal. Beberapa faktor terbukti mempengaruhi perilaku perjalanan sekolah pelajar SMP. Faktor school-housing balance (lokasi sekolah) mempengaruhi jarak perjalanan, moda transportasi, dan waktu tempuh. Faktor tingkat guna lahan campuran juga diduga berpengaruh terhadap perilaku perjalanan sekolah.
Travel activities in urban area have various purposes. Travel activity for school is one of them. School travel activity is very important to be studied. The subjects of this travel activity are junior high school students. The students are captive in choosing modes of transport because they have not had driving licenses yet. Therefore, their travel behaviors are need to be studied as a reference for future urban planning that are friendly for children especially students in Yogyakarta urban area. The objectives of this research are to understand the travel behavior of Junior High School students and to understand the urban form and non urban form factors that give impact to them. This research was done in Panggungharjo village which the students is assumed to have various school location choices because of the strategic location. The method used in this research is the mixed deductive method that was analyzed by statistical descriptive, cross tabulation, and independent sample t-test, ordinal logit regression, and qualitative analysis. The 90% of confidence interval was used in this analysis. Primary survey was done in order to collect data and it conducted by interview method. About 99 junior high school students aged 12 - 15 years old were interviewed. The result notes that junior high school students tend to go farther - than maximum standard of school distance by Chapin (1995) - to school. On the average, they travel 3.9 km to school. They also have to travel more independently than in their former age. The most dominant mode of transport that has been chosen was bicycle. Although they have to travel farther, they only need 17.8 minutes to school. Some factors have been proven to give impact on school travel behavior. School-housing balance (school location) gives a significant impact on trip distance, mode choice, and travel time. Mixed land use factor is also considered to have an impact on school travel behavior.
Kata Kunci : perilaku perjalanan, perjalanan sekolah, faktor bentuk kota dan non-bentuk kota, pelajar SMP di perkotaan / travel behavior, travel to school, the urban form and non urban form factors, junior high school students in urban area