Laporkan Masalah

PERANCANGAN FASILITAS PERTUNJUKAN SENI TEATER DI YOGYAKARTA RUANG INTERAKSI

ARDHO GHUFRON UTOMA, Dr.Ing. Ir. E. Pradipto

2014 | Skripsi | ARSITEKTUR

Yogyakarta telah lama dikenal sebagau laboratorium seniman di Indonesia. Kondisi ini dapat terjadi karena didukung oleh beberapa faktor diantaranya adalah tingkat biaya hidup yang relatif rendah dan tersedianya beragam pilihan institusi pendidikan baik formal maupun non-formal. Selain kedua faktor tersebut terdapat satu budaya yang menjadi nilai tambah bagi Yogyakarta yaitu budaya berkumpul yang masih dijunjung tinggi dalam oleh masyarakatnya. Budaya ini begitu kuat dan hal tersebut dapat terlihat dalam idiom jawa "Mangan ra Mangan Kumpul" yang masih sering disuarakan dalam kehidupan sehari-hari Yogyakarta dan seni teater sendiri merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Banyak seniman teater nasional yang awalnya menuntut ilmu danmemulai karirnya di Yogyakarta. Kelompok teater di Yogyakartapun cukup unik karena didominasi oleh kelompok- kelompok yang bersifat non/semi profesional. Hal tersebut berpengaruh pada motivasi dalam mengadakan pertunjukan yang tidak selalu berfokus pada tujuan komersial namun lebih mengarah kepada kebutuhan mengaktualisasi diri dan mematangkan karya. Perancangan fasilitas pertunjukan ini nantinya diharapkan dapat menjadi para pelaku teater di Yogyakarta dalam memperoleh pembelajaran seni keteateran. Bantuk pembelajaran yang ditawarkan merupak pembelajaran informal melalui interaksi antara pemain dan penonton dalam sebuah pertunjukan maupun setelah pertunjukan usai

Yogyakarta has long been known as Indonesia's Artist Laboratory. This condition may occurs because it is supported by several factors such as realtively low living cost and the availibility of both formal and non formal type of educational institution. In addition to these two factors, there is one culture that make a difference to Yogyakarta is the a hangout culture was held in high esteem in the community. This culture is so strong and it can be seen in the Javannese idiom "mangan ora mangan asal kumpul" which is often voiced in everyday life. Yogyakarta and Theaterical art itself are two things that cannot be separated. There are many Indonesian famous actor and theaterical artist who initially studied and started his career in Yogyakarta. In the other hand theater group in Yogyakarta is quite unique, it's dominated by groups that are non / semi-professional. This affects their motivation to perform which not always focused on the commercial purpose but rather leads to the need for self-actualization and finalize their work. The design of this Performance Facility will be expected to be a platform for theater actors in Yogyakarta in obtaining learning. This form of learning is informal learning offered through the interaction between the players and the audience in the show or after the show.

Kata Kunci : Yogyakarta, Seni Teater, Pertunjukan, Informal


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.