Laporkan Masalah

RELASI GENDER ANTAR SUAMI DAN ISTRI DI DALAM RUMAH TANGGA TUNA NETRA (Manifestasi Ketidakadilan Gender dalam Rumah Tangga Tunanetra)

RUSDIAN IKA NORMASARI, Danang Arif Darmawan, S.Sos.,M.Si

2014 | Skripsi | ILMU PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN (SOSIATRI)

Ketidakadilan gender sering ditemukan di ranah negara, masyarakat dan rumah tangga . Ketidakadilan gender juga terjadi di dalam rumah tangga tunanetera pasangan suami tunanetera istri normal. Budaya patriarkhi yang berkembang secara turun temurun, mengakibatkan perempuan selalu ditempatkan pada ranah domestik Sehingga perempuan selalu dituntut untuk dapat menyelesaikan semua pekerjaan rumah dimana pekerjaan tersebut cenderung rumit dan banyak memerlukan visual. Budaya patriarkhi juga telah diyakini oleh para penyandang tunanetera. Sehingga banyak laki-laki tunanetera yang memilih peremuan normal untuk dijadikan sebagai pendamping hidupnya. Dengan harapan semua pekerjaan rumahnya akan terselesaikan dengan baik olehnya. Peneliti menggunakan perspektif Mansour Fakih dalam menilai ketidakadilan gender di dalam rumah tangga tersebut. Dimana gender dapat dikatakan adil apabila tidak terjadi marginalisasi, subordinasi, stereotipe, beban ganda dan kekerasan terhadap perempuan. Peneliti menggunakan teori feminis radikal untuk mengkerangkai penelitian ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif agar dapat memaknai fenomena secara mendalam dan dapat menjelaskan situasi penelitian secara gamblang. Teknik pengambilan informan yang digunakan adalah sempel proposif. Peneliti memilih informan berdasarkan tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan. Informan yang telah diteliti berjumlah 9 keluarga. Lima keluarga pasangan suami istri tunanetera dan empat keluarga pasangan suami tunanetera istri normal. Peneliti melakukan obserfasi partisipan sebagai teknik pengumpulan data. Kemudian peneliti melakukan wawancara secara langsung dan membuat dokumentasi sebagai bukti penelitian. Kemudian hasil wawancara ditriangulasikan dengan data yang diperoleh pada saat peneliti melakukan obserfasi partisipan.Peneliti memilih kota Yogyakarta sebagai lokasi penelitian ini. Karena di kota tersebut terdapat beberapa organisasi dan Badan sosial yang didirikan oleh tunanetera. Berdasarkan Fakta di lapangan , ketidakadilan gender terjadi di dalam rumah tangga pasangan suami tunanetera istri normal. Istri normal selalu dituntut untuk menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Sementara suami hanya bekerja untuk mencari nafkah. Dan apabila kondisi perekonomian rumah tangga dirasa kurang memadai, maka istri dituntut untuk membantu suami mencari nafkah. Sedangkan Pola pembagian kerja di dalam rumah tangga pasangan suami istri tunanetera lebih fleksibel. Tidak terjadi saling mendominasi. Pola pembagian kerja yang terjadi di dalam rumah tangga tunanetera pasangan suami tunanetera istri normal menunjukkan ketidakadilan gender dan mengindikasikan adanya relasi gender yang timpang. Teori feminis radikal terjadi di dalam rumah tangga pasangan suami istri tunanetera istri normal, namun tidak terjadi di dalam rumah tangga pasangan suami istri tunanetera. Budaya patriarkhi lebih melekat pada rumah tangga pasangan suami tunanetera istri normal. Pola pembagian kerja yang timbang merupakan akibat dari rendahnya pengetahuan gender yang mereka miliki. Untuk itu, perlu diadakan pendidikan gender untuk meningkatkan pengetahuan mereka.

Gender inequity is often found in countries, societies, and household. It is also occur in a household of blind people which is the husband is blind and the wife has normal eyes. Culture of patriarchy that happens hereditary resulting woman always placed in domestic sphere. Woman is required for finishing all of household works that mostly complicated and need visual ability. Culture of patriarchy is also believed for blind people. Many blind men choose normal woman become partner of their life so all of housework can be done well. Reasercher uses Mansour Fakih perspective in assess the gender inequity in those household. Gender said equitable if there is no marginalization, subordination, stereotype, double burden, and violence in woman. Researcher also uses radical feminist theory for creates this research.?? This research uses qualitative descriptive approach for understanding phenomenon deeply and explaining research situation clearly. Informants retrieval techniques that used is proposif sample. Researcher chooses informant based on education level and type of work. Informant that observed are nine families, five blind couple and four comes from family whose husband blind and wife is normal. Researcher do participant observation for data collection technique then do direct interview and make documentation for proof of research. Result of interview then triangulationed with collected data when reasercher do participant observation. Researcher choose Yogyakarta city as location of this research because there are some organizations and social institutions that built by blind people. Based on fact, gender inequality happens in household of couple with blind husband and normal wife. Normal wife always forced to do all housework while the husband only works. If their economic condition is considered inadequate, the wife is forced to help her husband works. While working separation pattern that happens in household of blind couple is more flexible. Domination is not happened. Working separation pattern that happened in household of blind husband and normal wife shows gender inequality and indicate lame gender relation. Radical feminist theory occur in household of blind husband and normal wife but not occurred in household of blind wife and husband couple. Culture of patriarchy more adhere in household of blind husband and normal wife. Adhere working separation pattern is a result of lack gender education that they have. Therefore, gender education is needed for improve their knowledge.

Kata Kunci : Gender, Budaya patriarki, Rumah tangga tunanetera.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.