DIFERENSIASI KECUKUPAN PANGAN DI KABUPATEN SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
MUHAMMAD HANAFI NURDIN, Dr. Rika Harini, S.Si, MP.
2014 | Skripsi | GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGANPermasalahan utama dalam memenuhi kecukupan pangan penduduk Indonesia adalah adanya perubahan penggunaan lahan dan pertambahan jumlah penduduk. Kabupaten Sleman dengan peningkatan jumlah penduduk sebesar 6,9% di tahun 2007 hingga 2011 menuntut alih fungsi lahan pertanian menjadi penggunaan lahan lain. Analisis keruangan terhadap kondisi ketersediaan pangan dapat dilakukan untuk mengoptimalkan fungsi lahan pertanian. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Mengetahui kondisi kecukupan pangan di Kabupaten Sleman, 2) Mengetahui perbedaan kondisi kecukupan pangan beras dan 3) Mengetahui perubahan kondisi kecukupan pangan serealia di Kabupaten Sleman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode perhitungan menggunakan data sekunder dengan sumber data BPS, Sleman Dalam Angka dan Podes. Pengukuran kecukupan pangan menggunakan persamaan rasio ketersediaan pangan dan konsumsi normatif. Analisis yang digunakan yaitu deskriptif komparatif secara keruangan dan ditampilkan dalam bentuk tabel, grafik dan peta kecukupan pangan. Hasil penelitian menunjukkan Kabupaten Sleman secara umum masuk dalam klasifikasi surplus pangan. Pengukuran kecukupan pangan beras pada tingkat kecamatan menunjukkan bahwa Kecamatan dengan klasifikasi surplus kecukupan pangan beras adalah Kecamatan Pakem, Cangkringan, Tempel, Sleman, Minggir, Moyudan, Seyegan, Godean, Berbah, Kalasan, Ngemplak dan Prambanan. Kecamatan dengan klasifikasi cukup pangan adalah Kecamatan Ngaglik. Kecamatan dengan klasifikasi defisit kecukupan pangan beras adalah Kecamatan Turi, Gamping, Mlati dan Depok. Kecamatan yang tetap memiliki klasifikasi defisit dalam pengukuran kecukupan pangan serealia adalah Kecamatan Gamping, Mlati dan Depok. Kecamatan Turi dan Kecamatan Ngaglik memiliki klasifikasi surplus kecukupan pangan serealia.
The main problem on how to complete the food sufficient of Indonesia people is caused by any changes of landuse and increasing of population. Increas total population in Sleman District about 6,9% between 2007 and 2011 require the change of of agriculture land to other land use. Spatial analysis against the condition of foods availability could be done for optimalize the function of agriculture land. The purposes of this research are 1) to understand the condition of food sufficient in Sleman District, 2) to understand the difference of condition of rice sufficient and 3) to understand the change of condition cereal sufficient in Sleman District. The method that used on this research is counting method that based on secondary data from BPS data resource of Sleman Regency in Figures and Podes. The measurement of food sufficient use the ratio formula of food availability and normative consumption. The analysis of this method is descriptive comparison in spatial and shown in table, graphic, and map of food sufficient. The research shows that Sleman District generally belong to food surplus class. The measurement of rice sufficiently in district level show that the subdistrict was comes into rice surplus class are Tempel, Sleman, Minggir, Moyudan, Seyegan, Godean, Berbah, Kalasan, Ngemplak and Prambanan. The subdistrict that comes into sufficient food is Ngaglik. The subdistrict that always in deficit of rice sufficient class are Turi, Gamping, Mlati and Depok. The subdistricts in deficit of cereal sufficient class are Gamping, Mlati and Depok. Meanwhile, Turi and Ngaglik subdistricts have a surplus classification in cereal sufficient.
Kata Kunci : diverensiation, food sufficiency, cereal, Sleman, DIY