ANALISIS SPASIAL KEMISKINAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA DI KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2003-2012
KHOLID ZAKARIA, Prof. Mudrajad Kuncoro, M.Soc.Sc., Ph.D.
2014 | Tesis | S2 Magister Ek.PembangunanKemiskinan di Provinsi Jawa Tengah masih menjadi fokus utama kebijakan pembangunan. Selama 10 tahun (2003 - 2012), tingkat kemiskinan di Jawa Tengah selalu lebih tinggi daripada tingkat kemiskinan nasional. Berbagi program pemerintah pusat dan daerah melalui distribusi anggaran pengentasan kemiskinan telah banyak dilakukan, namun tingkat kemiskinan Jawa Tengah masih relatif lebih tinggi daripada rata-rata nasional. Disparitas kemiskinan antar kabupaten/kota juga masih tergolong tinggi. Kabupaten Wonosobo, Rembang dan Purbalingga masih menjadi kabupaten dengan tingkat kemiskinan tinggi, Sedangkan Kabupaten Semarang dan Kota Semarang termasuk wilayah dengan tingkat kemiskinan sangat rendah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pola sebaran kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2003-2012 dan menganalisis hubungan antara alokasi anggaran pengentasan kemiskinan pemerintah pusat dan daerah dengan tingkat kemiskinan serta membuktikan implikasi pro-poor growth di Jawa Tengah. Data yang digunakan berupa data sekunder, yaitu: data tingkat kemiskinan, PDRB ADHK, PAD, belanja modal infrastruktur, belanja bidang kesehatan, belanja bidang pendidikan, anggaran program pengentasan kemiskinan APBN/APBD dan data analisis keruangan (spasial). Alat analisis yang digunakan adalah analisis spasial (GIS dan autokorelasi spasial), tipologi wilayah dan regresi panel (Fixed Effect Model dengan metode GLS dan white period standard error and covariance). Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah kabupaten yang memiliki tingkat kemiskinan lebih tinggi cenderung mengelompok di sebelah selatan Jawa Tengah bagian barat (Kabupaten Cilacap dan sekitarnya), sedangkan Kabupaten Demak merupakan spatial outlier. Distribusi alokasi anggaran pengentasan kemiskinan belum semuanya tepat sasaran, artinya masih banyak wilayah maju yang mendapat alokasi anggaran tinggi selain itu bantuan ini belum menyentuh titik dasar utama yaitu penyediaan lapangan kerja dan perluasan kesempatan kerja. Indikator kemiskinan moneter, kesehatan dan pendidikan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan, sehingga menunjukkan bahwa kebijakan pembangunan di Jawa Tengah sudah pro poor growth dan pro poor budgeting
Poverty in Central Java has been being a major focus of development policy. For 10 years (2003-2012), the poverty rate in Central Java is always higher than the national poverty rate. Central and local government programs through the distribution of poverty alleviation budget has a lot to do, but the poverty rate in Central Java is still relatively higher than the national average. Disparities in poverty among districts/cities are also relatively high. Wonosobo Rembang and Purbalingga District persisted regions with high poverty rates. By contrast, Semarang City and Semarang District are regions with very low poverty rates. This study aims to look at the pattern of poverty in Central Java in 2003-2012 and analyze the relationship between poverty alleviation budget allocation of central and local government to concentrate geographically in district examine the implications of poverty and pro-poor growth in Central Java. The data used in the form of secondary data, namely: rate of poverty, GRDP, revenue, infrastructure capital expenditures, health expenditures, education expenditures, budget programs of poverty alleviation and spatial analysis of data. The analytical tool used is a spatial analysis (GIS and spatial autocorrelation), the district typology and panel regression using Fixed Effect Model with GLS method. The results showed that the districts have higher poverty rates tend to be clustered geographically in the south western part of Central Java (Cilacap District and surrounding areas), whereas Demak is a spatial outlier in the north. Distribution of poverty alleviation budget allocation is not all on target, meaning that there are many regions that have developed high budget allocation besides this assistance has not touched the main basis point provision of employment and job opportunities. Poverty budget on health and education have significant negative effect on poverty rates. It implies that the development policies in Central Java has been pro-poor growth and pro-poor budgeting
Kata Kunci : kemiskinan, autokorelasi spasial, pro poor growth