THE ROLE OF RELIGIOUS LEADERS IN THE STUDY OF TAFSIR IN INDONESIA Case Study of Three Pesantrens in Yogyakarta from Sociological and Exegetical (Tafsir) Perspective
FERRY MUHAMMADSYAH SIREGAR, MA., Prof. Dr. Phil. M. Nur Kholis Setiawan
2014 | Disertasi | S3 Agama dan Lintas BudayaDi dalam sejarah Islam di Indonesia, pesantren bukanlah satu-satunya lembaga pendidikan keagamaan Muslim, dan tradisi yang ia bangun adalah salah satu saja dari beberapa kecenderungan di dalam Islam Indonesia. Wacana tradisionalis, modernis dan fundamentalis muncul dan pada batas tertentu berkembang menjadi tradisi-tradisi yang kaku. Tujuan utama pesantren adalah penyampaian ajaran Islam seperti dijelaskan di dalam teks-teks klasik dalam berbagai disiplin keilmuan Islam bersama dengan komentar-komentar dan terjemahan tentang teks-teks yang telah tertulis selama berabad-abad. Pesantren mengajarkan tafsir Al-Quran berikut dengan cabang-cabang lain pengetahuan Islam seperti fiqih, hadits, tasawuf, dan kalam. Salah satu dari tradisi-tradisi besar Islam Indonesia dapat dibangun dan dapat ditemukan di dalam pesantrenpesantren Jawa. Penelitian ini membicarakan peran para pemimpin keagamaan di dalam kajian tafsir dan kitab kuning di tiga pesantren di Jawa. Lokasi penelitian adalah di Pesantren Krapyak, Pesantren Muallimin Muhammadiyah dan Pesantren Ihya’us Sunnah di Yogyakarta. Penelitian ini membahas beberapa pertanyaan, seputar (1) Apakah peran-peran pemimpin agama di pesantren dan masyarakat? (2) Bagaimana mereka mengembangkan dan memberi sumbangan pada tafsir? (3) Mengapa mereka secara berbeda memilih tafsir atau dengan kata lain apakah kepentingan mereka di dalam kajian tafsir di pesantren-pesanren ini? Penelitian ini meggunakan teori dan konsep Max Weber tentang kepemimpinan agama dan karisma. Di samping itu, penelitian ini juga menggunakan teori tafsir dan kitab kuning. Penelitian ini menggunakan data kualitatif untuk analisis materi yang dikumpulkan dari pengamatan, wawancara, dan penelitian pustaka. Penelitian ini menemukan bahwa struktur dan pola kepemimpinan dan kekuasaan Kyai di dalam pesantren adalah kuat di mana kyai diposisikan sebagai tokoh utama. Kyai memiliki peran sebagai pemimpin keagamaan, pemilik dan pendiri pesantren, muballigh, penjaga budaya Islam, dan guru utama di pesantren dan masyarakat. Ini bisa dilihat pada cara bagaimana seorang kyai membangun peran strategisnya sebagai pemimpin non-formal masyarakat melalui komunikasi intensif dengan masyarakat. Kharisma seorang kyai juga mendapatkan dukungan masyarakan hingga pada batas tertentu yang disebabkan oleh stabilitas dan kualitas moralnya yang pertamatama dimulai dari kelompok paling dekat, di sekitar pesantren, dan kemudian menyebar ke tempattempat yang jauh. Bagi para pengikutnya, kharisma yang dimiliki oleh seorang kyai bisa menjadi sumber inspirasi keagamaan. Karya-karya tafsir dan kitab kuning yang dikaji di dalam setiap pesantren hampir berbeda satu dari yang lain. Di dalam pengajian tafsir, Pesantren Krapyak mengajarkan tafsir Al-Jalalayn. Pesantren Ihya’us Sunnah menggunakan Umdat al-Tafsir ‘an Tafsir ibn Kathir, sementara di Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah, sang guru tidak menggunakan karya tafsir khusus. Tentang penjelasan materi, kyai/ustadz membaca kata per kata ayat-ayat Al-Quran dan kemudian membahas ayat-ayat itu. Di dalam proses pengajaran, mereka menggunakan metode bandongan, pengulangan, khotbah dan monolog, demonstrasi, analogi dan kadang-kadang ada sesi tanyajawab. Penelitian tentang tafsir di pesantren ini masih terbatas pada kajian teks, pembacaan dan penerjemahan teks itu sendiri. Ditemukan bahwa penafsiran guru pesantren Muhammadiyah memiliki penekanan pada aspek kebahasaan, konteks dan hukum. Di pesantren salafi, penafsiran guru menunjukan penekanan pada aspek sastra, tekstual dan hukum-hukum keislaman (fiqh). Di pesantren Krapyak, penafsiran guru menunjukkan penekanan aspek linguistik, kontekstual dan tradisionalitas. Melalui pemilihan tafsir dan kitab kuning yang digunakan di pesantren-pesantren, para pemimpin keagamaan terus mempertahankan aspek tradisional, modern dan puritan Islam di Indonesia. Kata kunci: Pemimpin agama, kharisma, kyai, ustadz, pengajian tafsir, kitab kuning, dan pesantren
In the history of Islam in Indonesia, the pesantren is not the only institution of Muslim religious education, and the tradition it embodies is only one out of several tendencies within Indonesian Islam. Traditionalist, modernist, and fundamentalist discourses emerged and to some extent developed into rigid traditions. The main goal of the pesantrens is the transmission of Islamic knowledge as laid down in scripture such as classical texts of the various Islamic disciplines together with commentaries and discussions on these basic texts written over the ages. Pesantrens teach tafsir (Qur’anic interpretation) with other branches of Islamic knowledge such as fiqh, hadith, tasawwuf, and kalam. One of Indonesia's great traditions could be found and embodied in the Javanese pesantrens. This research discusses on the roles of the religious leaders in the study of tafsir and kitab kuning in three pesantrens in Java. The location of research is in Pesantren Krapyak, Pesantren Muallimin Muhammadiyah, and Pesantren Ihya’us Sunnah in Yogyakarta. It addresses several questions, namely: (1) What are the roles of religious leader in pesantren and society? (2) Why do they differently select tafsir or in other words what are their concerns in study of tafsir in the pesantrens? (3) How do they develop and contribute to tafsir? This study applies Max Weber’s concept on religious leadership and charisma. Additionally, it also uses tafsir and kitab kuning theory. This study uses qualitative data for analysis of materials collected from observations, interviews, and library research. This research finds that the structures and patterns of leadership and power of Kyai within pesantren are strong in which kyai is positioned as the main figure. Kyai has the role as the religious leader, the owner and the founder of pesantren, the preacher, the keeper of Islamic culture, and the main teacher in the pesantren and community. This can be seen on how a kyai build his strategic role as the non-formal leader of society through an intensive communication with the people. The charisma of a kyai also gains people's support, to some extent, caused by his moral stability and faith quality that may give birth to magnetic characters for his followers. This process, at first, started from the nearest group, around his pesantren, and then it also spread out to distant places. For his followers, the charisma owned by a kyai may become religious source of inspiration. Tafsir works and kitab kuning studied in each pesantren are almost different from one to another. In the pengajian tafsir, Pesantren Krapyak teaches tafsir Al-Jalalayn. Pesantren Ihya’us Sunnah uses ‘umdat al-Tafsir ‘an Tafsir ibn Kathir, while in Mu’allimin Muhammadiyah, the teacher does not use a particular tafsir work. On the description of the material, a kyai/ustadz reads word by word of the Qur’anic verses and discusses them later. In the process of teaching, they use bandongan, repetition, sermon and monologue, demonstration, analogy, and sometimes answer-question method. The study of the tafsir in the pesantren is still limited to the study of a text, reading and translating the text itself. It is found that interpretation of Muhammadiyah pesantren teacher has linguistic, contextualisation, and legalistic concerns. In salafi pesantren, Interpretation of the teacher shows his literal, textual and puritan concerns. In Krapyak pesantren, Interpretation of teacher shows his linguistic, contextualization, and traditional concerns. Through the selection of tafsir and kitab kuning used in the pesantrens, religious leaders keep maintaining traditional, modern, and puritan aspects of Islam in Indonesia. Keywords: Religious leadership, charisma, kyai, ustadz, pengajian tafsir, kitab kuning, and pesantren.
Kata Kunci : Religious leadership, charisma, kyai, ustadz, pengajian tafsir, kitab kuning, and pesantren; Pemimpin agama, kharisma, kyai, ustadz, pengajian tafsir, kitab kuning, dan pesantren