PERAN PUSKESMAS DALAM IMPLEMENTASI PROGRAM PELAYANAN KESEHATAN PADA PEKERJA INFORMAL DI KOTA TANJUNGPINANG
ANDI KURNIAWAN, Prof. dr. Hari Kusnanto, DrPH.
2014 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang: Di negara berkembang, sekitar 30-70 % pekerja berada di sektor informal yang mayoritasnya adalah golongan ekonomi lemah. Dari data BPS Provinsi Kepulauan Riau, pekerja sektor informal pada Februari 2013 yaitu 280.951 orang (31,62 persen). Salah satu masalah yang masih dihadapi oleh pekerja sektor informal saat ini adalah tidak terpenuhinya jaminan kesehatan dan keselamatan kerja. Puskesmas sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama di Indonesia perlu memberikan solusi agar kebutuhan kesehatan dan keselamatan kerja pekerja sektor informal dapat terpenuhi dengan baik. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran puskesmas dalam implementasi program pelayanan kesehatan pada pekerja informal, yang meliputi penyelenggaraan program, faktor pendukung, faktor penghambat dan kebutuhan nelayan tradisional terhadap program Pelayanan Kesehatan Pekerja Informal (PKPI) serta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Lokasi penelitian di Puskesmas Sei.Jang yang berada di Kota Tanjungpinang. Penelitian ini dilaksanakan pada Februari–Mei 2014. Subyek penelitian berjumlah 19 orang terdiri dari 1 kepala puskesmas, 1 koordinator program kesehatan kerja, 6 kader Pos UKK dan 11 nelayan tradisional binaan puskesmas. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, focus group discussion (FGD) dan observasi. Hasil Penelitian: Penyelenggaraan program PKPI di Puskesmas Sei. Jang mencakup pembinaan, pelayanan dan sustainabilitas. Faktor pendukung dan penghambat dalam penyelenggaraan program PKPI dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal puskesmas seperti sumber daya manusia, anggaran, komitmen, dan kondisi masyarakat. Kebutuhan nelayan tradisional akan program pelayanan kesehatan pekerja informal dikarenakan belum optmalnya pengetahuan dan kesadaran terhadap kesehatan dan keselamatan dalam bekerja, salah satunya penggunaaan alat pelindung diri. Oleh sebab itu, nelayan tradisional sangat membutuhkan adanya program PKPI dan JKN untuk dapat memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan baginya. Akan tetapi, sebagian besar dari mereka belum mengerti tentang JKN dan keberatan membayar iuran secara mandiri, dikarenakan penghasilan mereka tidak menetap. Kesimpulan: Secara keseluruhan program PKPI sudah berjalan dengan baik. Peran puskesmas dalam pengembangan program PKPI tetap berjalan lancar, meskipun masih terdapat beberapa faktor penghambat yang perlu diatasi. Kata Kunci: Peran puskesmas, pelayanan kesehatan, pekerja informal
Background: In developing countries, approximately 30-70% of workers are in the informal sector where the majority are economically weak. Data from BPS of Riau Islands Province, informal sector workers in February 2013 was 280.951 people (31.62 %). One of Problem still faced by informal sector workers today is the difficulty of getting health care. Puskesmas as the first level of health care facilities in Indonesia need to provide a solution to the health and safety needs of the informal sector. Objectives: This study aims to determine the role of puskesmas in development of occupational health program at Tanjungpinang, which include the implementation of the program, support factors, constraint factors, and the need of occupational health and safety workers in informal sectors, also the need of national health insurance. Methods: This is a descriptive qualitative research with case study approach. Location of this study at Puskesmas Sei. Jang in Tanjungpinang. The research was conducted in February until May 2014. The subjects of the study were leader of puskesmas, coordinator of occupational health in informal sector, and traditional fisherman. Data collection was conducted by interview, focus group discussion, and observation. Results: Implementation of occupational health program in Puskesmas Sei. Jang which includes coaching, service, and sustainability. Supporting and inhibiting factors in implementation of occupational health in informal sector are influenced by internal and external factors, such as the human resources, budget, commitment, and community conditions. Traditional fisherman needs occupational health and safety program because lack of knowledge and awareness for the use of personal protective equipment while working. Therefore, the traditional fisherman need the national health insurance to be able get health care service. Most of traditional fisherman do not understand about national health insurance and refuse to pay independently, because of their income is not settled Conclusion: Overall, occupational health and safety program in informal sector has been running well. The role of puskesmas in development of occupational health and safety program in informal sector is still running, although there are several inhibiting factors that need to be addressed. Keywords: The role of puskesmas, health service, informal workers
Kata Kunci : Peran puskesmas, pelayanan kesehatan, pekerja informal; The role of puskesmas, health service, informal workers