Laporkan Masalah

DETERMINAN SOSIAL KETERSEDIAAN GARAM RUMAH TANGGA BERKUALITAS DI DESA AIK BERIK DAN DESA KUTA KABUPATEN LOMBOK TENGAH NUSA TENGGARA BARAT

TRI SUDARNINGSIH, Dr.Toto Sudargo, SKM. M.Kes.

2014 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang : Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius mengingat dampaknya sangat besar terhadap kelangsungan hidup dan kualitas sumber daya manusia. Kekurangan yodium yang terjadi pada wanita hamil mempunyai resiko terjadinya abortus, lahir mati, sampai cacat bawaan. Pada bayi yang lahir dapat berupa gangguan perkembangan syaraf, mental dan fisik yang disebut kretin, selain itu berupa pembesaran kelenjar gondok dan hipotiroid. Semua gangguan ini dapat berakibat pada rendahnya prestasi belajar anak usia sekolah, rendahnya produktifitas kerja pada orang dewasa, serta timbulnya berbagai permasalahan sosial ekonomi masyarakat yang dapat menghambat pembangunan. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui pengaruh determinan sosial terhadap ketersediaan garam rumah tangga berkualitas di Desa Aik Berik serta Desa Kuta di Kabupaten Lombok Tengah . Metode penelitian : Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan desain cross sectional. Sampel penelitian terdiri dari 432 ibu rumah tangga Desa Aik Berik dan Desa Kuta. Variabel bebas adalah umur, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan, sikap, praktek penanganan garam, pendapatan, akses mendapatkan garam, ketersediaan garam di pasaran. Sedang variabel terikatnya adalah ketersediaan garam beryodium rumah tangga berkualitas. Analisa data menggunakan uji statistik univariat, bivariat dan dilanjutkan analisis regresi logistik multivariat. Pada penelitian ini tujuh orang stake holder diwawancara secara mendalam untuk melihat kualitatif. Hasil : Garam beredar terbanyak adalah garam krosok, tidak ada hubungan antara umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, pengetahuan, dan sikap terhadap ketersediaan garam rumah tangga berkualitas di Desa Aik Berik dan Desa Kuta. Terdapat hubungan antara ketersediaan garam di pasaran terhadap ketersediaan garam rumah tangga berkualitas di Desa Aik Berik. Terdapat hubungan antara praktek penanganan garam terhadap ketersediaan garam rumah tangga berkualitas di Desa Kuta. Terdapat hubungan antara ketersediaan garam di pasaran, praktek penanganan garam dan akses mendapatkan garam terhadap ketersediaan garam rumah tangga berkualitas di kedua desa yaitu Desa Aik Berik dan Desa Kuta. Belum ada Peraturan Daerah untuk menangani garam beryodium, tidak terdapat alokasi dana untuk menangani garam beryodium, ketersediaan garam beryodium masih rendah. Kesimpulan : Garam yang beredar di masyarakat masih dibawah standar. Perlu adanya pengawasan peredaran garam beryodium ditingkatkan dengan penyuluhan terhadap produksi garam beryodium sehingga akan tercapai garam beryodium memenuhi syarat. Kata Kunci : Determinan sosial, garam beryodium, Aik Berik dan Kuta Nusa Tenggara Barat.

Background: Iodine Deficiency Disorders (IDD) is a serious public health concern given the very large impact on survival and quality of human resources. Iodine deficiency is common in pregnant women at risk of abortion, stillbirth, congenital defects to babies born in the form of neurodevelopmental disorders, mental and physical called cretin, besides the form of an enlarged thyroid gland and hypothyroid. All of these disorders can result in low learning achievement of children of school age, low work productivity in adults as well as the emergence of various social and economic problems that can hinder development. Objective:To determine the influence of social determinants on the availability of quality household salt in Aik Berik and Kuta village in Central Lombok. Method: This research is an observational cross-sectional design. The study sample consisted of 432 housewives in Aik Berik and Kuta Village. Independent variables are age, education, occupation, knowledge, attitude, salt handling practices, income, gain access to salt, salt availability in the market. The dependent variable is the availability of iodized salt quality household. Data analyze using univariate, bivariate and multivariate logistic regression. In this study, seven stakeholders were interviewed to obtain in-depth qualitative data. Result: Most salt of the circulated is salt krosok, there is no relation among age, education, occupation, income, knowledge, and attitudes towards the availability of quality household salt in Aik Berik and Kuta village. There was a relation between the availability of salt in the market on the availability of quality household salt in the village of Aik Berik. There was a relation between salt handling practices on the availability of quality household salt in Kuta village. There was a relation among the availability of salt on the market, salt handling practices and gain access to the availability of salt qualified households in both Aik Berik and Kuta. There was no local regulations to deal with iodized salt, there is no allocation of funds to deal with iodized salt, and the availability of iodized salt was still low. Conclusion: Salt distribution in the community still does not qualify standards. It is need to control the distribution of iodized salt to increase health with education regulation of the production of iodized salt so that it will achieve qualified iodized salt. Key words: Social determinants, iodized salt, Aik Berik and Kuta West Nusa Tenggara.

Kata Kunci : Determinan sosial, garam beryodium, Aik Berik dan Kuta Nusa Tenggara Barat; Social determinants, iodized salt, Aik Berik and Kuta West Nusa Tenggara


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.