Laporkan Masalah

Adaptasi Orang Korea di Kabupaten Sleman Yogyakarta

ADILIA ROSA HASTARINI, Prof. Dr. Partini, SU

2014 | Skripsi | Sosiologi

Orang Korea yang bertempat tinggal di Yogyakarta menjalin interaksi dengan masyarakat lokal. Sebagai pendatang, mereka dituntut untuk dapat beradaptasi. Mereka diharapkan untuk dapat berperilaku seperti orang Indonesia pada umumnya. Akan tetapi, mereka mempunyai nilai-nilai yang mereka bawa dari negara asal. Nilai-nilai tersebut berbeda dengan nilai-nilai yang berlaku di Indonesia. Di sisi lain, orang Korea yang berada di Sleman mempunyai berbagai latar belakang yang berbeda. Perbedaan latar belakang tersebut berupa perbedaan usia, lama tinggal, dan profesi. Latar belakang mereka yang bervariasi ini diasumsikan menarik untuk diteliti karena perbedaan ini turut menentukan pola adaptasi yang mereka tempuh. Penelitian dilakukan secara deskriptif kualitatif di Sleman, Yogyakarta, mendeskripsikan tentang adaptasi orang Korea, terfokus pada pemahaman orang Korea sebagai bagian masyarakat dan upaya mereka untuk bisa bertahan di dalamnya. Informan dipilih berdasarkan kriteria yang dianggap memenuhi kebutuhan penelitian untuk kemudian diwawancarai secara langsung. Adaptasi dipandang dengan kacamata Merton dengan teori adaptasinya yang menggolongkan tindakan adaptasi ke dalam empat tipe, konformitas, inovasi, retretism, dan revolusioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang Korea sudah banyak yang berlaku konformitas. Sebagian dari mereka sudah bisa menerapkan prinsip orang Jawa pada umumnya, misalnya alon-alon waton kelakon, hormat dan rukun. Konformitas ini didominasi oleh alasan emosional, misalnya empati. Di sisi lain, tidak sedikit pula orang Korea yang berperilaku menyimpang baik dari segi cara atau tujuan. Tercermin dari tindakan retreatism yang melawan budaya jam karet. Tindakan tersebut merupakan penyimpangan positif karena berposisi sebagai kritik yang membangun. Selain itu, usaha adaptasi ternyata tidak hanya berupa non fisik, seperti usaha penerapan nilai etos kerja yang berusaha diwujudkan dengan pertukaran upah kerja. Sebelumnya, mereka juga harus mengatasi hambatan adaptasi secara fisik yang berupa stereotype wajah karena menyerupai orang Cina. Perlakuan diskriminatif tersebut diatasi dengan berusaha menunjukkan kemahiran berbahasa Jawa agar mampu diterima oleh masyarakat. Dari latar belakang informan yang beragam yakni, usia, lama tinggal, dan profesi, perbedaan usia berpengaruh pada kelompok pergaulan dan masalah yang dihadapi. Sedangkan, lama tinggal seseorang tidak memberikan pengaruh pada adaptasi. Mereka yang baru saja datang bisa lebih cepat beradaptasi asalkan bisa menyesuaikan diri dengan gaya hidup orang Indonesia yang pada umumnya sederhana. Berbeda dengan pengusaha menengah ke atas, meskipun sudah lama menetap, tetapi belum bisa beradaptasi dikarenakan gaya hidupnya yang terlampau tinggi dibanding dengan orang Sleman pada umumnya. Selain itu, mereka memiliki kapital berupa upah yang dibayarkan kepada para pekerja sebagai sarana pertukaran agar mereka tetap bisa menerapkan nilai-nilai yang mereka miliki. Oleh karena itu, pengusaha berposisi sebagai pihak yang paling sulit untuk beradaptasi dibandingkan orang Korea yang berprofesi lain.

Koreans residing in Yogyakarta establish interaction with local communities. As newcomers, they are required to be adapted. They are expected to be able to behave like the Indonesian people in general. However, they have values they brought from the country of origin. These values differ from the values applicable in Indonesia. On the other hand, Korean people who are in Sleman have different backgrounds. Differences in background are differences in age, length of stay, and profession. These backgrounds are interesting to study because those differences are also determining the pattern of adaptation. This descriptive qualitative study was conducted in Sleman, Yogyakarta, describes the adaptation of the Korean people, focused on understanding Korean people as part of society and their efforts to survive. Informants were selected based on criteria that are considered adequate for research needs to be interviewed in directly. Adaptation is analyzed with Merton theory of adaptation, adaptation classified into four types, conformity, innovation, retreatism, and revolutionary. The results of the study showed that the Korean people have a tendency doing conformity adaptation. Most of them have been able to apply the principles of the Javanese in generally, for example, alon-alon waton kelakon, hormat and rukun. This act is dominated by emotional reasons, such as empathy. On the other hand, a few people do the deviate act both in terms of the way or purpose. These can be seen in retreatism against jam karet culture. Such actions are positive deviation as a constructive criticism for the prevailing culture. In addition, the adaptation effort was not only non-physical form, such as implementation efforts that seek the value of work ethic embodied by exchange of labor wages. Previously, they also have to overcome obstacles physical adaptations in the form of stereotypes because Korean people have a face similar like the Chinese. Discrimination is overcome by trying to show Java language proficiency to be able to be accepted by society. Diverse backgrounds of the informant such as, age, length of stay, and professions, and differences in age, effect on group interaction and the problems they encountered. Meanwhile, length of stay of a person does not influence on adaptation. Korean people who had just come can adapt faster as long as they can adjust to the lifestyle of Indonesian people which are generally modest. Unlike the upper middle entrepreneurs, although they have been living for long time in Sleman, but they not yet can adapt because their life style is too high compared to Sleman people in general. Moreover, they have the capital of wages paid to the workers as a means of exchange so that they remain able to apply the values they have. Therefore, the entrepreneurs are the most difficult to adapt than any other profession.

Kata Kunci : Korea, Korea Selatan, Adaptasi, Sleman, Yogyakarta


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.