Laporkan Masalah

EVALUASI JARINGAN JALAN ANGKUTAN PADA KELAS PERUSAHAAN KAYU PUTIH (Studi Kasus di RPH Nglayang, BKPH Sukun, Perum Perhutani KPH Madiun)

DWI ANUGRAHADI P, Dr. Ir. Nunuk Supriyatno M.Sc

2014 | Skripsi | MANAJEMEN HUTAN

Pembukaan Wilayah Hutan (PWH) merupakan langkah awal dalam pengelolaan hutan yang lestari yang tidak hanya berkaitan dengan kegiatan pemanenan saja, tetapi mencakup seluruh aspek pengelolaan hutan. Kegiatan utama PWH adalah pembuatan dan pemeliharaan jalan yang didalamnya memerlukan perencanaan yang tepat sehingga mampu menjamin kelancaran pengelolaan hutan khususnya pemanenan. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi karakteristik jaringan jalan angkutan di RPH Nglayang dan untuk mengetahui optimalitas jaringan jalan angkutan yang telah dibuat, baik pada PWH pada tingkat RPH maupun pada PWH pada petak sampel. Penelitian ini dilakukan di RPH Nglayang, BKPH Sukun, KPH Madiun Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Timur yang merupakan kelas perusahaan Kayu Putih. Karakteristik jaringan jalan angkutan pada RPH Nglayang digambarkan oleh beberapa parameter, yaitu kerapatan jalan(RD), spasi jalan (RS), jarak sarad rata-rata (MSD) dan persen pembukaan wilayah (E %), yang besaran nilainya bergantung dari panjang jalan yang dibuat dan luas wilayah hutan. Optimalitas jalan angkutan dapat berdasarkan nilai kerapatan optimal (ORD) dengan memperhatikan potensi hutan, biaya pembuatan jalan, biaya pikul dan faktor koreksi lapangan. Hasil perhitungan karakteristik jaringan jalan angkutan pada PWH untuk RPH mempunyai RD = 27,84 m/Ha; RS = 359,15 m; jarak sarad rata-rata teoritis (MSDt) = 89,79 m; jarak sarad rata-rata terpendek (MSDp) = 156,69 m. Pada PWH untuk petak sampel adalah RD = 91,67 m/Ha; RS = 109,09 m; jarak sarad rata-rata teoritis (MSDt) = 27,27 m; jarak sarad rata-rata terpendek (MSDp) = 60,38 m; jarak sarad rata-rata lapangan (MSDr) = 86,56 m serta nilai E % = 45,25 dengan ORD = 72 m/Ha. Secara umum jaringan jalan pada PWH untuk petak sampel sudah dapat melayani seluruh kegiatan pengeloalan hutan terutama kegiatan pemanenan.

Forest opening is a first step of managing sustainable forest that does not only relates to forest harvesting activity but also the entire forest management aspect. The main activity of forest opening is a building and maintaining road needed to ensure forest mangement especially for forest harvesting activites. This research is hoped to be able to give sufficient information about road characteristics in RPH Nglayangand to gain information related to forest road optimum in either RPH stage or compartement stage. The research is conducted in RPH Nglayang, BKPH Sukun, KPH Madiun, Perum Perhutani Regional Division East Java which is forest plantation for producing cajuput. The harvesting road in RPH Nglayang is depicted by some parameters which aare road density (RD), road spacing (RS), mean skidding distance (MSD), and percentage of forest opening (E %), which is the value depends on road lenght built and forest area. Harvesting road optimum can be based on optimal road density (ORD) with noticing in forest potential, road building cost, skidding cost, and field correction factor. The calculation result of the transportation road network characteristics in forest opening is RD = 27,84 m/Ha; RS = 359,15 m; MSDt = 89,79 m; MSDp = 156,69 m. The Sample plot in opening forest, with additional roadway inspection is RD = 91,67 m/Ha; RS = 109,09 m; MSDt = 27,27 m; MSDp = 60,38 m; MSDr = 86,56 m and E % = 45,25 ORD = 72 m/Ha. To sum up, road system in forest opening for compartement sample has accomodated all forest management activities mainly for forest harvesting activities.

Kata Kunci : Jaringan jalan angkutan, kayu putih, KPH Madiun


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.